Bambang Haryo Soekartono meninjau langsung kegiatan makan siang program MBG di SMKN 12 Surabaya sekaligus berdialog dengan para siswa terkait keluhan kualitas makanan yang dinilai kurang enak dan perlu diperbaiki oleh pihak SPPG Siwalankerto.

SURABAYA | duta.co – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjadi penopang kualitas generasi muda mendapat sorotan tajam dari Anggota DPR RI Komisi VII Fraksi Gerindra, Bambang Haryo Soekartono saat melakukan kunjungan ke SMKN 12 Siwalankerto Surabaya.

Dalam kunjungannya, Bambang Haryo Soekartono (BHS) mengapresiasi semangat para siswa yang mengaku sangat terbantu dengan program MBG. Namun di balik manfaat tersebut, BHS menegaskan bahwa kualitas makanan dari SPPG Siwalankerto tidak boleh dianggap sepele.

Menurutnya, program makan gratis bukan hanya soal membagikan nasi dan lauk, tetapi juga menyangkut rasa, kebersihan, kualitas bahan makanan, hingga kesesuaian dengan selera anak muda.

“Anak-anak ini senang MBG tetap lanjut karena bisa membantu mereka berhemat dan menabung. Tapi jangan sampai makanan yang diberikan asal kenyang saja. Harus bergizi, rasanya enak, matang sempurna, dan sesuai selera siswa,” tegas BHS Kamis,(7/5/2026).

Ia menilai SPPG harus mulai mengevaluasi kualitas pengolahan makanan. Sebab, jika menu yang diberikan tidak layak, tujuan besar menciptakan generasi unggul justru akan tercoreng oleh pelayanan yang asal-asalan.

“Buah harus bervariasi, ayam jangan keras, jangan sampai ada makanan bau atau setengah matang. Anak-anak sekolah ini bukan tempat buang standar kualitas makanan,” sindirnya.

BHS mengaku senang melihat perubahan semangat para siswa setelah adanya MBG. Ia menilai program tersebut membuat siswa lebih aktif dan berani menyampaikan pendapat dibanding sebelumnya.

“Biasanya jam 12 siang anak-anak sudah mengantuk, lesu. Sekarang saya lihat enerjik, berani bicara, demokratis. Ini bagus untuk menyongsong bonus demografi 2036,” ujarnya.

Namun di sisi lain, kritik jujur justru datang langsung dari para siswa terkait kualitas menu MBG yang mereka terima sehari-hari.

Lintan, siswi kelas 10 Karawitan 2, mengaku menu MBG yang diterima hari itu kurang memuaskan. Ia berharap pihak penyedia makanan benar-benar memperhatikan cara memasak.

“Jujur hari ini ayamnya keras kalau dimakan. Kalau goreng jangan terlalu kering. Jeruknya juga agak pahit,” katanya.

Ia juga mengungkapkan beberapa kali menemukan makanan yang kurang layak konsumsi. “Kadang kalau dibuka ada yang bau. Pernah ayamnya masih ada bulu dan kurang matang. Tetap kami makan, tapi masaknya harus diperbaiki lagi,” ungkapnya polos.

Pernyataan siswa itu menjadi tamparan keras bagi pengelola SPPG. Program sebesar MBG dinilai akan kehilangan makna jika kualitas makanan masih dikeluhkan penerima manfaatnya sendiri.

Sementara itu, Kepala SMKN 12 Surabaya, Lilik Majidatut Zahro mengakui program MBG sangat berpengaruh terhadap semangat dan prestasi siswa. Ia berharap kualitas menu, terutama susu, bisa lebih dimaksimalkan.

“Anak-anak berharap susu bisa diberikan setiap hari. Karena kebutuhan pokok mereka juga untuk pertumbuhan. Kalau bisa susu putih original, bukan susu berwarna,” ujarnya.

Menurutnya, perhatian terhadap kualitas konsumsi siswa menjadi bagian penting dalam membangun generasi produktif menuju Indonesia Emas 2036.(gal)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry