Anggota DPR RI Bambang Haryo Soekartono (BHS) menyampaikan gagasan pengembangan pariwisata Surabaya berbasis kampung wisata, agrowisata, wisata bahari, dan kuliner dalam Diseminasi Strategi Pemasaran Pariwisata Nusantara di Surabaya.

SURABAYA l duta.co – Anggota DPR RI sekaligus Kapoksi Komisi VII Fraksi Partai Gerindra,Ir. H. Bambang Haryo Soekartono (BHS), menegaskan bahwa Surabaya memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata unggulan nasional bahkan internasional.

Namun, menurutnya, potensi tersebut belum dikelola secara maksimal sehingga diperlukan keberpihakan kebijakan dan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta masyarakat.

Hal itu disampaikan BHS dalam kegiatan Diseminasi Strategi Pemasaran Pariwisata Nusantara Melalui Promosi Desa Wisata yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata RI di sebuah hotel di Surabaya, Kamis (6/8/2026).

Dalam forum yang dihadiri Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata tersebut, BHS menekankan bahwa pengembangan sektor pariwisata harus menjadi agenda strategis pemerintah karena mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan menggerakkan ekonomi daerah.
“Surabaya sebenarnya memiliki destinasi wisata yang sangat banyak. Ada sekitar 44 kampung wisata yang bisa dikembangkan menjadi magnet kunjungan wisatawan, terutama wisatawan mancanegara. Tentu wisatawan domestik juga harus terus kita tingkatkan,” ujar BHS.

Menurutnya, keberhasilan destinasi wisata tidak cukup hanya mengandalkan objek wisata semata. Dibutuhkan konsep yang terintegrasi mulai dari kuliner, transportasi, hingga pengalaman wisata yang menarik.

BHS mencontohkan keberhasilan Penang, Malaysia, yang mampu mengemas kawasan wisatanya secara profesional meski memiliki jumlah kampung wisata yang relatif sedikit.
“Yang penting adalah bagaimana destinasi itu dikemas. Harus ada kuliner, produk UMKM, transportasi publik yang langsung menuju lokasi wisata, serta pelayanan yang nyaman bagi wisatawan. Itu yang harus dilakukan Surabaya,” tegasnya.

Politisi Partai Gerindra itu juga mengungkapkan bahwa Surabaya memiliki sekitar 650 hektare lahan persawahan yang berpotensi dikembangkan menjadi wisata edukasi pertanian atau agrowisata, sebagaimana yang telah berhasil diterapkan di Vietnam.

Menurutnya, wisatawan tidak hanya diajak melihat aktivitas pertanian, tetapi juga dapat memanen hasilnya hingga mengolahnya menjadi makanan khas Surabaya seperti rawon dan kuliner tradisional lainnya.

Selain itu, garis pantai Surabaya yang mencapai sekitar 47 hingga 48 kilometer dinilai sangat potensial untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata bahari dan kampung nelayan modern.
“Di Malaysia, kampung nelayan yang ukurannya kecil saja mampu menarik jutaan wisatawan setiap tahun. Surabaya memiliki garis pantai yang panjang, sehingga peluangnya jauh lebih besar jika dikelola dengan baik,” kata BHS.

Dalam kesempatan tersebut, BHS juga menyoroti perlunya revitalisasi berbagai destinasi wisata yang sudah lama menjadi ikon Kota Pahlawan, termasuk Kebun Binatang Surabaya (KBS).

Menurutnya, kualitas koleksi satwa dan pengelolaan kawasan wisata harus terus ditingkatkan agar mampu kembali menjadi daya tarik wisata internasional.”Kalau destinasi-destinasi lama dibenahi dan dikembangkan secara profesional, Surabaya akan memiliki paket wisata yang lengkap, mulai dari wisata kampung, wisata sejarah, wisata kuliner, wisata bahari hingga wisata edukasi,” ujarnya.

BHS menilai pengembangan sektor pariwisata membutuhkan keberanian pemerintah dalam mengambil kebijakan yang berpihak pada peningkatan kualitas destinasi, aksesibilitas, serta promosi yang berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata, Naili Sa’adah, menjelaskan bahwa pemerintah terus memperkuat promosi desa wisata melalui berbagai program nasional.

Menurutnya, dalam platform Jadesta (Jejaring Desa Wisata) tercatat sekitar 6.300 desa wisata di seluruh Indonesia. Khusus Kota Surabaya, terdapat 18 desa wisata yang telah terdaftar, beberapa di antaranya bahkan pernah meraih penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI).
“Kami juga telah menghubungkan desa-desa wisata dengan berbagai platform Online Travel Agent seperti Traveloka, tiket.com, Atourin, Jalanin, dan Aladin agar promosi mereka semakin luas,” jelas Naili.

Selain itu, Kementerian Pariwisata kini menjalankan program Edukasi Desa Wisata dengan menggandeng sekolah nasional maupun internasional agar menjadikan desa wisata sebagai tujuan pembelajaran dan wisata edukasi.

Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui belanja produk lokal, kuliner, serta aktivitas wisata berbasis budaya.

Melalui kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, BHS optimistis Surabaya dapat berkembang menjadi salah satu kota wisata unggulan di Indonesia dengan memanfaatkan kekayaan kampung wisata, pesisir, pertanian, budaya, dan kuliner sebagai kekuatan utama dalam meningkatkan daya saing pariwisata nasional.(gal)