
SURABAYA l duta.co — Dominasi prestasi Tarung Derajat di tingkat pelajar mulai bergeser ke kawasan timur Indonesia. Jawa Timur tampil sebagai kekuatan utama setelah merebut gelar juara umum Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pelajar Tarung Derajat 2026 yang berlangsung pada 27–28 Agustus 2026.
Jawa Timur keluar sebagai juara umum dengan koleksi 3 medali emas, 4 perak, dan 2 perunggu. Posisi kedua ditempati Nusa Tenggara Barat (NTB), sedangkan Bali berada di peringkat ketiga.

Kejurnas yang digelar Pengprov Keluarga Olahraga Tarung Derajat (Kodrat) Jawa Timur tersebut diikuti 93 atlet dari 13 provinsi di Indonesia. Selain menjadi ajang kompetisi pelajar, kejuaraan ini juga diproyeksikan sebagai salah satu wadah pencarian bibit atlet untuk memperkuat skuad senior menghadapi Pra-PON 2027 dan PON 2028.
Sang Guru Muda Rimba Dirgantara dari Perguruan Pusat Tarung Derajat mengapresiasi kualitas pertandingan yang berlangsung. Menurutnya, para atlet pelajar menunjukkan perkembangan teknik yang cukup menjanjikan.“Alhamdulillah pertandingan telah selesai. Dari segi kualitas, teknik-teknik yang ditampilkan sudah bagus untuk usia pelajar,” ujar Rimba.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pengprov Kodrat Jawa Timur, khususnya Ketua Umum Kodrat Jatim Bambang Haryo Soekartono atau BHS, yang telah menggagas penyelenggaraan kejuaraan tersebut.


Rimba berharap kompetisi serupa dapat terus digelar dan berlanjut melalui BHS Cup maupun kejuaraan pelajar tingkat nasional berikutnya.
Menariknya, keberhasilan Jawa Timur menjadi juara umum dinilai menunjukkan semakin meratanya perkembangan Tarung Derajat di Indonesia.“Biasanya juara-juara itu selalu dari barat, sekarang ke timur. Kemudian PON juga akan adanya di timur. Mudah-mudahan prestasi ini bisa terus bertahan atau semakin ditingkatkan,” katanya.
Menurut Rimba, capaian tersebut sekaligus membantah anggapan bahwa perkembangan Tarung Derajat hanya terpusat di wilayah barat Indonesia.“Perguruan pusat memang adanya di barat, tetapi ini menunjukkan penyebaran Tarung Derajat tidak ditentukan karena perguruan pusatnya ada di barat. Sekarang sudah sangat menyebar dan merata,” jelasnya.
Ketua Umum Kodrat Jawa Timur Bambang Haryo Soekartono (BHS) menilai kompetisi pelajar memiliki posisi sangat penting dalam membangun fondasi prestasi olahraga nasional.
Ia bahkan mendorong Kementerian Pendidikan agar kembali menyelenggarakan Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) yang dinilainya sangat dibutuhkan sebagai jenjang kompetisi atlet usia sekolah.“Kejuaraan antar pelajar ini sifatnya nasional dan menjadi pengganti POPNAS. Padahal sebenarnya POPNAS harus tetap diadakan,” kata BHS.
Menurutnya, POPNAS terakhir digelar pada 2019 dan setelah itu tidak lagi berlangsung secara rutin. Kondisi tersebut membuat atlet pelajar kehilangan ruang kompetisi yang berkelanjutan.
BHS menegaskan, pembinaan atlet berprestasi harus dimulai sejak usia sekolah.“Kalau kita ingin hebat, apalagi bersaing dengan dunia internasional, harus mulai dari tingkat sekolah dasar. Mereka harus belajar keras, berlatih, kemudian dipertandingkan,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah kembali menghadirkan kompetisi nasional khusus pelajar sehingga kejuaraan yang digelar oleh perguruan maupun provinsi dapat menjadi pelengkap, bukan satu-satunya wadah kompetisi.
Bagi BHS, keberadaan kompetisi sangat berpengaruh terhadap motivasi atlet untuk terus berlatih.“Ini sarana untuk memunculkan bibit-bibit baru. Mereka punya semangat berlatih karena ada target untuk dipertandingkan,” katanya.
Selain sukses menjadi juara umum, Kodrat Jawa Timur juga tengah menyiapkan regenerasi atlet melalui sistem pembinaan berlapis.
BHS menyebut Jawa Timur menjalankan pemusatan latihan secara mandiri meski belum mendapatkan dukungan biaya dari KONI. Dalam pola tersebut, atlet senior dan junior dibina secara bersamaan untuk menciptakan kesinambungan prestasi.“Kita membiayai secara mandiri. Jadi memunculkan atlet-atlet senior didampingi junior. Sudah ada dua lapis,” jelas BHS.
Pola tersebut memungkinkan Jawa Timur memiliki opsi untuk menurunkan atlet lapis pertama maupun lapis kedua sesuai kebutuhan dalam berbagai kejuaraan.
Sementara itu, Ketua Panitia Kejurnas Pelajar Tarung Derajat 2026, Erwin H. Poedjiono, mengatakan pembinaan di Jawa Timur memang diarahkan pada dua kelompok, yakni atlet junior/pelajar dan atlet senior.
Menurut Erwin, program pembinaan tersebut terus dilakukan secara konsisten dengan mengikuti berbagai agenda kompetisi dan pemusatan latihan.“Kami punya dua persiapan, yaitu TC junior untuk kelas pelajar dan TC senior,” ujar Erwin.
Untuk kelompok senior, para atlet dipersiapkan menghadapi Kejurnas Senior yang direncanakan berlangsung di Bandung pada Desember mendatang.
Sedangkan atlet lapis kedua diproyeksikan dapat memperkuat daerah masing-masing pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov).“Harapannya lapis kedua ini bisa turun di Porprov daerah masing-masing. Sementara yang senior nanti bersama-sama menuju Pra-PON atau BKPON tahun depan,” jelasnya.
Dengan kombinasi pembinaan junior dan senior tersebut, Jawa Timur kini tidak hanya mengejar prestasi jangka pendek. Keberhasilan menjadi juara umum Kejurnas Pelajar 2026 menjadi sinyal bahwa regenerasi atlet Tarung Derajat di Jawa Timur mulai menemukan bentuknya.
Target berikutnya pun semakin jelas: mempertahankan dominasi di level pelajar sekaligus menyiapkan generasi baru yang mampu bersaing di level senior, Pra-PON 2027, hingga PON 2028.(gal)





































