
SURABAYA | duta.co – Suara gamelan yang berpadu dengan lantunan sinden terdengar lirih di sebuah bangunan sederhana di kawasan Tambaksari, Surabaya. Di tempat itulah para seniman tradisional bertahan menjaga denyut budaya Jawa di tengah gempuran hiburan modern yang serba instan.
Tempat itu adalah Sanggar Budi Rahayu atau Perhimpunan Budi Rahayu yang berada di Jalan Ploso Bogen No. 27 Surabaya. Sanggar tersebut menjadi rumah bagi para dalang, sinden, pengrawit, hingga generasi muda yang ingin belajar wayang kulit dan karawitan.
Kehadiran Ir. H. Bambang Haryo Soekartono (BHS), Kapoksi Komisi VII DPR RI Fraksi Partai Gerindra periode 2024-2029, membawa harapan baru bagi para pegiat budaya yang selama ini merasa berjalan sendiri menjaga warisan leluhur.
Di hadapan para seniman dan budayawan, BHS melihat langsung bagaimana keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus berlatih dan melakukan regenerasi budaya.
“Budaya ini harus terus hidup. Wayang, ketoprak, lodruk, campursari dan kesenian tradisional lainnya jangan sampai hilang ditelan zaman,” ujar BHS saat berdialog dengan para seniman di sanggar tersebut.

Menurutnya, perhatian pemerintah pusat, provinsi maupun kota sangat dibutuhkan agar kesenian tradisional tetap mendapat ruang di tengah masyarakat. Salah satu yang paling dibutuhkan adalah tempat latihan dan panggung pertunjukan yang layak.
BHS berharap pemerintah dapat memberikan kesempatan rutin bagi para seniman tradisional untuk tampil. Ia bahkan mengusulkan agar pertunjukan budaya masuk ke sekolah-sekolah, khususnya tingkat SMA, sebagai upaya mengenalkan budaya kepada generasi muda.
“Kalau setiap SMA minimal setahun sekali menampilkan kesenian tradisional, maka akan ada ratusan pertunjukan setiap tahun. Anak-anak muda jadi mengenal wayang, gamelan dan budaya daerahnya sendiri,” katanya kamis,(7/5/2026).
Ia juga kembali mengusulkan agar kawasan THR Surabaya yang dulu dikenal sebagai pusat hiburan rakyat dapat dihidupkan kembali sebagai ruang seni budaya. Menurutnya, tempat tersebut bisa menjadi wadah bagi pertunjukan wayang, ludruk, ketoprak hingga campursari.
Dalam kunjungan itu, BHS juga memberikan bantuan sarana penunjang latihan kepada sanggar. Selain itu, ia berjanji akan mendorong program CSR dari BRI untuk membantu pengadaan perangkat gamelan yang lebih baik.
“Kalau sekarang masih dari besi, nanti kita dorong supaya bisa memakai bahan kuningan atau perunggu agar kualitasnya lebih bagus,” ungkapnya.
BHS menilai budaya tradisional sejatinya memiliki nilai ekonomi besar, terutama untuk mendukung sektor pariwisata. Ia mencontohkan Bali dan Thailand yang mampu menarik jutaan wisatawan melalui kekuatan budaya lokal mereka.
“Turis mancanegara itu suka budaya. Thailand saja bisa mendatangkan wisatawan sangat banyak karena budaya mereka hidup. Padahal budaya kita jauh lebih kaya,” tuturnya.
Ia pun meminta media milik negara seperti TVRI dan RRI memberi ruang lebih besar bagi para seniman tradisional agar karya mereka dapat dikenal luas masyarakat.
Sementara itu, Ketua Pepadi Kota Surabaya Ki Madiro mengaku bersyukur atas kunjungan BHS yang dinilai menjadi angin segar bagi para pelaku seni tradisional.
“Kami berharap keluhan-keluhan para seniman ini benar-benar bisa sampai ke pusat dan ada tindak lanjut nyata,” katanya.
Senada dengan itu, Sekretaris Pepadi Surabaya Ki Rizanto menyampaikan bahwa selama ini mereka masih kekurangan perangkat gamelan, terutama gamelan pelog untuk melengkapi latihan.
Ia juga menyoroti tantangan besar dalam mengenalkan wayang kepada generasi muda yang kini lebih akrab dengan hiburan media sosial dan YouTube.
“Anak-anak sekarang banyak yang tidak mengerti bahasa Jawa, sehingga kurang tertarik menonton wayang. Karena itu kami berharap pelajaran bahasa daerah kembali diperkuat di sekolah,” ujarnya.
Menurutnya, Pepadi tidak hanya ingin tampil dalam pertunjukan, tetapi juga melakukan sosialisasi budaya ke sekolah-sekolah agar anak-anak mengenal tokoh-tokoh wayang dan filosofi di dalamnya. “Kami ingin anak-anak tidak hanya kenal tokoh asing, tapi juga mengenal Werkudoro dan tokoh wayang lainnya,” katanya.
Di tengah keterbatasan dan minimnya tanggapan pertunjukan wayang di Surabaya, para seniman berharap pemerintah hadir memberikan subsidi dan dukungan nyata agar kesenian tradisional tetap bertahan.
Bagi mereka, gamelan yang terus ditabuh di Sanggar Budi Rahayu bukan sekadar bunyi alat musik, melainkan suara perjuangan menjaga identitas budaya bangsa agar tidak hilang ditelan zaman.(gal)




































