
JOMBANG | duta.co – Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan akan menanggung seluruh biaya perawatan para santri Pondok Pesantren Darut Taubah, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, yang diduga mengalami keracunan makanan usai berbuka puasa bersama.
Kepastian tersebut disampaikan menyusul peristiwa puluhan santri yang mengalami keluhan mual, muntah, dan pusing setelah mengonsumsi makanan saat buka puasa.
Pihak BGN menyatakan seluruh biaya pengobatan santri yang menjalani perawatan di fasilitas kesehatan akan menjadi tanggung jawab mereka hingga kondisi korban benar-benar pulih.
Meski demikian, BGN menegaskan pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab pasti dugaan keracunan tersebut. Saat ini terdapat dua jenis makanan yang sedang ditelusuri, yakni menu rawon yang disiapkan oleh pihak pondok pesantren serta telur asin yang merupakan bagian dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Untuk memastikan sumbernya, kami masih menunggu hasil uji laboratorium. Apakah berasal dari menu rawon yang disiapkan pondok atau telur asin dari program MBG,” ujar Koordinator Wilayah SPPG Jombang, Deni Setiawan. Kamis (5/3) malam.
Sementara itu, proses pengujian sampel makanan saat ini ditangani oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang. Sampel makanan yang dikonsumsi para santri telah diambil untuk diteliti guna memastikan kandungan yang diduga memicu keracunan.
Hasil uji laboratorium tersebut diharapkan dapat memberikan kepastian mengenai sumber makanan yang menyebabkan para santri mengalami gangguan kesehatan.
Sebelumnya, puluhan santri Pondok Pesantren Darut Taubah dilaporkan mengalami gejala mual dan muntah usai menyantap hidangan berbuka puasa.
Sejumlah santri bahkan sempat mendapatkan perawatan medis di rumah sakit dan puskesmas terdekat.
Hingga kini, kondisi para santri dilaporkan mulai membaik. Sementara pihak terkait masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab kejadian tersebut. (din)




































