H. M. Tohir Nasir, pengepul udang, dan Basirun, UMKM terasi, saat ditemui di lokasi pembuatan terasi di Desa Tambak Cemandi, Kecamatan Sedati, Sidoarjo, Senin, (2/8/21). (FT/LOETFI)

SIDOARJO | duta.co – Di masa pandemi Covid-19 yang masih melanda ini, masyarakat terus mengharapkan bantuan dari pemerintah. Hal itu sangat diperlukan agar masyarakat dapat terus bertahan hidup.

Kali ini, beberapa warga pesisir Desa Tambak Cemandi, Kecamatan Sedati, Kab. Sidoarjo, yang mayoritas nelayan dan petani tambak, berharap bantuan dari pemerintah, khususnya Pemkab Sidoarjo.

Basirun (54), salah satu warga Desa Tambak Cemandi, Dusun Gisik Kidul RT 5 RW 2 Kecamatan Sedati yang memiliki usaha UMKM terasi (produsen), menyampaikan susahnya kalau musim hujan atau tidak ada panas. Karena, bahan berasal dari udang kecil atau biasa disebut ‘jembret’.

“Setelah udang kecil diselep atau ditumbuk-tumbuk, terus dijemur empat hari penjemuran, kalau tidak ada panas atau hujan, susah jemurnya bisa sampai seminggu, mas,” ungkapnya.

“Kalau sudah jadi terasi dikulak (dibeli) orang dari Mojokerto dan Krian. Mereka menjual lagi ke pasar, jadi harga terasi perkilo ada yang 70 ada yang 50 perkilo, lebih mahal yang terasi berbahan jembret (udang kecil) dari tambak daripada laut,” imbuhnya.

Masa pandemi ini, menurut Basirun, sangat berpengaruh. Pasalnya, penghasilannya menurun 50 persen. “Sebulan biasanya 2 kwintal lebih, sekarang susah,” ujarnya.

Basirun melanjutkan, sampai saat ini, belum ada campur tangan pemerintah atau bantuan datang dari Pemkab. “Bantuan bahan juga tidak ada. Kadang susah karena musiman, tidak main-main susahnya kalau musim hujan karena tidak bisa menjemur. Untuk itu, sangat berharap bantuan campur tangan pemerintah Sidoarjo khususnya melalui dinas terkait,” pungkasnya.

“Baik itu bantuan pemanas atau apapun. Dulu pernah ada yang datang, hanya difoto-foto saja. (selanjutnya) tidak ada kabarnya,” keluh Basirun.

Senada, Seniti (45), istri Basirun, menambahkan, ia bersama suaminya menggeluti usaha ini sejak tahun 90-an. “Kalau terasi ikan sekilo 15 ribu, prosesnya seminggu sudah jadi terasi dan siap jual ke pasaran. Namun, sudah ada yang ambil dari Mojokerto dan mereka dijual lagi dan dipasarkan lagi,” ucapnya Seniti.

Sementara, H. M. Tohir Nasir (50), pengepul udang jenis Vanami mengatakan, harga sekilo ukuran 30 per kg 91 ribu, ukuran 40 harga 81 ribu, ukuran 45 harga 76 ribu, dan ukuran 50 harga 71 ribu.

“Susahnya itu tidak ada udangnya. Jarang karena alamnya beda. Seperti dulu udang Segoro Tambak dan Kalang Anyar, biasa saya kirim ke pabrik dan pasar untuk yang kecil. Biasanya ke Bali. Karena pandemi, hancur, tidak bisa memasarkan dan barang langkah,” ujar H. M. Tohir Nasir.

Ia melanjutkan, saat ini, mendapat udang sangat susah. Untuk itu, dirinya juga sempat berhenti karena pandemi dan akibat usahanya macet. “Tidak ada pengiriman. Saya berharap pemerintah bisa menyelesaikan masalah pandemi yang berkepanjangan agar perekonomian segera pulih,” ujar warga Dusun Gisik Kidul RT 6 RW 2 tersebut.

“Dulu sehari sampai 2 ton, mas. Sekarang hancur dan tidak menentu ada atau tidaknya udang Vanami. Untuk udang Windu juga begitu, namun sekarang langka (udang windu), ganti Vanami bagi petani tambak memilihnya dari pada udang Windu, mas,” pungkasnya.

Dirinya berharap, pemerintah memberikan bantuan kepada masyarakat berupa pemasaran maupun suplai udang demi kelangsungan usaha masyarakat dimasa pandemi ini. (loe)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry