Dr Ubaidillah Zuhdi – Dosen S1 Manajemen Fakultas Ekonomi Bisnis

MENURUT artikel yang dimuat di Jurnal Manajemen, definisi organisasi adalah suatu wahana perkumpulan yang ditujukan bagi kelompok orang yang saling bekerja sama secara tertib dan terarah untuk mencapai tujuan yang jelas.

Berdasarkan definisi ini, sarana perkumpulan seperti rumah sakit dan universitas termasuk di dalam kategori organisasi. Tentu saja, sebuah perusahaan atau tempat kerja juga termasuk di dalamnya.

Salah satu bab diskusi terkait organisasi dalam manajemen sumber daya manusia adalah perilaku organisasi.

Dalam bukunya yang berjudul “Organizational Behavior”, Robbins dan Judge menyatakan bahwa perilaku organisasi adalah salah satu bidang ilmu pengetahuan yang menginvestigasi dampak dari individu, grup dan struktur yang memakai perilaku di dalam organisasi.

Tujuannya menggunakan pengetahuan tersebut untuk meningkatkan keefektivan organisasi.

Dengan demikian, komponen-komponen penting dalam bidang ilmu perilaku organisasi adalah individu, grup dan struktur. Menurut mereka berdua, pada saat berada di dalam organisasi, ketiganya mengenakan sesuatu yang disebut dengan perilaku.

Salah satu topik pembahasan di dalam perilaku organisasi adalah attitudes atau sikap. Dalam sebuah materi yang dimiliki oleh Universitas Pendidikan Indonesia disebutkan bahwa sikap merupakan pernyataan evaluatif, baik yang positif maupun negatif, terhadap peristiwa, individu, atau objek.

Dengan kata lain, sikap merupakan hasil evaluasi terhadap peristiwa, individu, atau objek yang dinyatakan dengan pernyataan. Pernyataan ini sendiri bisa bersifat positif ataupun negatif.

Masih menggunakan referensi yang sama, komponen-komponen dalam sikap adalah kognitif, afektif dan perilaku.

Komponen pertama membahas mengenai opini atau keyakinan, komponen kedua terkait emosional atau perasaan dan komponen ketiga berbicara mengenai niat untuk berperilaku.

Salah satu contoh sikap yang bisa muncul di lingkungan kampus adalah sikap positif seorang mahasiswa terhadap seorang dosen. Penjabaran sikap ini dari aspek kognitif adalah “Dosen saya memberikan nilai akhir yang bagus pada seorang mahasiswa satu angkatan yang mana si mahasiswa tersebut memang pantas mendapatkannya.”

Dari aspek afektif, penjelasannya adalah “saya menyukai dosen tersebut.” Sedangkan informasi yang bisa diperoleh dari aspek perilaku adalah “saya akan belajar giat di kelas dosen tersebut.”

Sikap yang positif atau tepat, menurut penulis, dibutuhkan di manapun termasuk di tempat kerja. Sikap yang tidak tepat, yang mana bisa menjadi penjelas terjadinya tindakan tidak tepat, bisa memberikan dampak negatif di lingkungan kerja.

Jika tindakan tidak tepat terjadi, maka tidak hanya diri sendiri, kolega lain juga bisa jadi akan terkena imbasnya.

Bukan tidak mungkin sikap negatif yang berlanjut ke tindakan negatif ini akan memberikan impak yang fatal buat pelakunya. Salah satu contohnya adalah pemecatan dari tempat kerja.

Video dari Trans7 yang berjudul “On The Spot – 7 Video Stres di Tempat Kerja” memberikan contoh-contoh yang mencengangkan terkait tindakan-tindakan tidak tepat di lingkungan kerja.

Salah satu contohnya adalah seorang laki-laki menyerang laki-laki lain di ruang rapat. Si penyerang, sebelum penyerangan terjadi, melakukan presentasi di depan peserta rapat. Laki-laki yang diserang, di lain pihak, menerima telepon beberapa kali di ruang tersebut sebelum penyerangan terjadi.

Bisa jadi penyebab terjadinya penyerangan ini adalah karena si presenter merasa dirinya tidak dianggap yang berlanjut ke perasaan kesal setelah kegiatan presentasinya terhenti beberapa kali karena adanya interupsi telepon.

Dengan kata lain, bisa jadi si penyerang bersikap negatif kepada orang yang diserangnya sebelum penyerangan terjadi.

Jika ditanya, orang yang memperlihatkan tindakan tidak tepat mungkin punya penjelasan tersendiri terkait sikap yang dimiliki sebelum tindakan tersebut terjadi.

Namun suka atau tidak suka, lingkungan sekitar bisa jadi tidak bisa menerima sikap tersebut. Lingkungan sekitar melihat apa yang telah terjadi dan tidak selalu melihat sikap yang ada di balik tindakan tersebut.

Karenanya, bersikap tepat di manapun berada, termasuk di lingkungan kerja, adalah hal yang perlu dipegang oleh siapapun. Harapannya adalah agar bisa menghindari tindakan yang tidak tepat. Penulis menggunakan istilah ini untuk menyebutkan bersikap tepat: bersikap profesional. *

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.