Kepala LPPM UMG, Dr Yudhi Arifani, SPd Duta/Humas UMG

GRESIK | duta.co – Ada yang salah dalam pengajaran Bahasa Inggris di lembaga pendidikan di Indonesia, mulai dari SD, hingga SMA. Pasalnya, Bahasa Inggris dalam kontek lembaga pendidikan hanya dipelajari sebatas teori dan ilmu saja.

“Ketika belajar Bahasa Inggris di sekolah siswa hanya dijejali ilmu saja kan,” kata Dr Yudhi Arifani, MPd, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG).

Padahal, lanjut Dr Yudhi, kondisi itu tentu berlawanan dengan konsep belajar suatu bahasa, dimana ketika  mempelajari bahasa itu dibutuhkan keahlian berbahasa (language skills), listening (mendengarkan), speaking(berbicara), reading (membaca), dan writing (menulis).

“Jadi bahasa itu keahlian yang harus dipergunakan. Artinya penggunaan Bahasa Inggris dalam kehidupan nyata menjadi kunci sukses untuk menguasai bahasa tersebut,” tegasnya.

Yudhi lantas menyontohkan, seorang siswa yang  memiliki kosakata banyak belum tentu bisa berbicara atau paham Bahasa Inggris dengan baik, seorang siswa yang hafal semua jenis tenses atau tata bahasa belum tentu bisa menulis Bahasa Inggris dengan baik, dan seorang anak yang tahu banyak ekspresi Bahasa Inggris belum tentu bisa menggunakan dengan tepat.

“Karena itu berbahasa Inggris yang baik itu dengan mengajak siswa bersenang-senang menggunakannya tanpa harus merepotkan soal grammar,” tegasnya.

Yudhi kemudian memaparkan sejumlah kelemahan pola pengajaran, pertama, rendahnya literasi. Saat ini guru tidak punya target jumlah bacaan tiap jenjang pendidikan. “JIka misal guru ada target, siswa  SD misalnya harus mampu menguasai 5000 kosakata, SMP 2500, dan SMA 5000, maka anak-anak kita akan mampu bertutur dengan Bahasa Inggris secara lisan dengan baik,” ujarnya.

Kendala kedua, guru tidak memiliki sifat komunikatif, dengan lebih banyak praktik menggunakan bahasa. Akibatnya suasana kelas menjadi pasif.  Selanjutnya ketiga, dalam assessment pembelajaran Bahasa Inggris, guru sering kali menerapkan mnodel tes tulis saja tentang pengetahuan Bahasa Inggris dan bukan pada penggunaan Bahasa Inggris dalam unjuk kerja seperti dialog dan model lainnya. Terakhir, keempat, guru kurang mengikuti perkembangan kosakata minimal yang dikuasai siswanya.

“Jika keempat kendala itu mampu teratasi, siswa sekolah SD hingga SMA akan mampu berbicara dalam Bahasa Inggris secara aktif,” tandasnya. hms

Tinggalkan Balasan