Oleh: Khoirul Muttaqin SS MHum*

SAMPAI saat ini, virus Covid-19 masih banyak menginfeksi masyarakat hampir di setiap wilayah negara Indonesia. Akan tetapi, pemerintah daerah setempat  banyak yang sudah menerapkan kebijakan kenormalan baru atau new normal. Oleh karena itu, banyak tempat rekreasi yang telah dibuka kembali. Para pengunjung di tempat rekreasi tersebut diharuskan untuk melindungi diri sesuai dengan protokol kesehatan yang sudah ditentukan.
Meskipun kebijakan kenormalan baru telah diberlakukan, tetapi banyak masyarakat yang masih enggan keluar rumah. Mereka lebih memilih tinggal di rumah dengan alasan menghindari risiko tertular Covid-19.  Mereka masih takut karena kasus infeksi Covid-19 di indonesia masih terbilang tinggi.

Karena harus terus berdiam diri di rumah dalam waktu yang cukup lama, banyak orang yang mengeluh telah mengalami kejenuhan. Oleh karena itu, sangat penting bagi mereka untuk mencari kegiatan yang bisa menyegarkan jiwa dan pikiran mereka kembali, meskipun hanya berdiam diri di rumah. Kegiatan yang cocok untuk tujuan tersebut adalah bersastra. Hal itu tentunya dengan alasan yang kuat.

Seorang ahli psikoanalisis, yang juga seorang psikiater ternama asal Austria, yakni Sigmund Freud, pernah berpendapat bahwa seorang penyair atau seorang pengarang menjadikan karya sastra ciptaanya sebagi pelarian dari hal yang tidak bisa didapatkan di dunia nyata. Hal ini menandakan bahwa karya sastra dapat dikatakan sebagai wujud rekreasi bagi jiwa penyair atau pengarang. Oleh karena itu, jika seseorang merasa jenuh saat pandemi Covid-19 seperti ini, alangkah baiknya memilih untuk bersastra saja. Dengan mencipta karya sastra, jiwa seseorang akan mendapatkan angin segar sehingga akan hilang rasa jenuh yang dialaminya.

Selain menciptakan karya sastra, mengapresiasi atau menikmati karya sastra juga tergolong sebagai tindakan penyegaran bagi jiwa seseorang.  Membaca karya sastra juga mampu menerapi jiwa orang tersebut. Seseorang dapat memilih karya satra yang tergolong mampu mengarahkan orang tersebut  pada hal yang positif. Perlu diketahui, karya sastra dapat dijadikan alat untuk mengarahkan pembaca kepada apa yang ingin ditujukan oleh pengarangnya. Seperti apa yang dikatakan Endraswara bahwa karya sastra akan membentuk sikap dan perilaku serta akan diinternalisasikan dalam diri pembaca.

Oleh karena itu, seseorang harusnya memilih suatu karya sastra yang dapat mengarahkannya pada hal yang bersifat positif. Seseorang harus memilih karya sastra yang menghibur dan sekaligus menginspirasi atau memotivasi orang tersebut. Dengan demikian,   seseorang tersebut akan mampu mengusir kejunuhannya dan sekaligus mengarahkan orang tersebut pada hal yang positif.

Pada dasarnya karya sastra diciptakan sebagai sarana hiburan dan pemberian informasi. Oleh karena itu, bersastra tentu bersifat menghibur dan mencerdaskan. Hal itu tentu sesuai dengan hakikat sastra menurut Horace. Horace mengatakan bahwa karya sastra itu harus dulce et utile, yakni indah dan berguna. Jadi, ketika Anda merasa jenuh ketika berdiam diri di rumah saja segeralah ambil buku atau laptop Anda. Tulis sesuatu karya yang membuat Anda menikmati hal yang tidak Anda dapatkan di kehidupan nyata. Selain itu, Anda juga dapat membaca sebuah karya sastra. Jangan lupa memilih karya sastra yang menghibur dan mencerdaskan ya. Ini saat yang tepat untuk bersastra karena saat Anda beraktivitas atau bekerja dari rumah, tentu Anda mempunyai waktu luang yang cukap banyak dibandingkan ketika Anda bekerja di kantor seperti biasa. Selamat berekreasi. Akan tetapi, melalui sastra ya.

*Penulis pernah menjadi wartawan dan saat ini menjadi dosen di FKIP Universitas Islam Malang.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry