Oleh Suparto Wijoyo, Guru Besar Hukum Lingkungan dan Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Ketua Bidang Hukum dan Kerjasama MUI Provinsi Jawa Timur, Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur

BUKANKAH Ramadhan itu identik dengan bulan yang spesial, bulan khususon, bulan berpuasa. Identitas sosial dan keagamaan yang kentara di wulan Ramadhan memanglah puasa. Dengan demikian tidak ada kata yang sedemikian semarak digunakan dan membanjiri beragam agenda melebihi dengan kata “puasa”. Tegasnya bahwa karakter utama Ramadhan adalah bulan puasa sesuai dengan seruan original hadirnya Ramadhan dalam Quran Surat Al-Baqarah Ayat 183: Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyāmu kamā kutiba ‘alalladzīna ming qablikum la’allakum tattaqūn. Terdapat seruan berpuasa dalam dalil tersebut. Ya ayyuhalladzīna āmanū memberikan persyaratan tunggal keterpanggilan puasa Ramadhan, keterpanggilan yang khususnya khusus hanya bagi orang beriman. Yang tidak beriman tidak usah terpanggil atau yang tidak terpanggil memang sedang devisit iman. Ini inidkasi yang dapat diriset ke depan oleh pembaca. Makna lengkapnya jelas menandaskan: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Dalam Ramadhan ini urusannya sejatinya bukan hanya puasa, tetapi ada aktivitas ikutan yang menjadi penanda memakmurkan “bulan puasa” ini. Ada gerakan spiritual nan sosial serta kultural hebat, itulah shalat terawih, ada pembagian zakat fitrah, diikuti zakat harta kekayaan, penyediakan iftar sebagai bingkai logis adanya sahur. Rentang antara sahur dan takjil gerbang berbuka puasa itu terdapat banyak kaedah amalan-amalan istimewa. Dan ini membutuhkan urusan logistik yang harus bergerak dan digerakkan oleh negara. Bahkan bermulanya bulan ini saja dilakukan sidang-sidang isbat alias penentuan awal Ramadhan yang setiap tahunnya menjadi ornamen yang memobilisir segala sumber daya. Para ilmuwan dikerahkan dan melakukan rukyatul hilal dikembangkan. Mobilitas orang dan barang serta penemuan teknologi yang bersifat astronomis sangat pesat dengan hadirnya ruang waktu ramadhan. Negara dihadirkan atau tepatnya menghadirikan diri demi melayani umat yang harus mengamalkan ajaran agamanya. Ramadhan yang dibuka dengan rapat oleh instansi negara pada kenyataannya juga akan ditutup dengan sidang-sidang lagi untuk menetapkan kapan hari raya idul fitri itu diwartakan. Penentuan akhir Ramadhan sangat penting karena untuk memungkasi batas terluar puasa Ramadhan.

Apabila dicermati mengenai ajaran ibadah puasa Ramadhan ini sangatlah syarat dengan aktivitas yang semuanya membuat sehat, baik secara sosial, spiritual dan kultural. Belum lagi ditambah adat-adat nusantara yang memperkenalkan diri urusan megengan, berupa penanda memasuki bulan Ramadhan dengan mengenang leluhur sambil berkirim doa di makam-makam anggota keluarga yang telah berpulang ke hadirat-Nya. Pedagang bunga dekat areal pemakaman sangat meriah dan kini para penjual jajanan iftar alias takjil juga terus tumbuh mewarnai jalanan. Berapa besarnya uang yang beredar, kapital yang bergulir dengan satu ajaran agama kewajiban puasa di bulan Ramadhan ini saja. Jujur sangat besar.

Ini menandakan bahwa Ramadhan itu bulan yang penuh kegembiraan. Bulan ini tidak perlu dianggap sebagai beban sebab kita semuanya menyukai kehadiran tamu agung Ramadhan. Andai saja ada yang tidak suka, toh bulan ini tetap hadir melintasan zaman yang terus bergulir. Saya melihat dari sudut para kolega, baik muslim maupun nonmuslim, mereka sejatinya sangat bergembira dengan hadirnya bulan ini. Dagangan apa saja laku. Bukan hanya soal pangan tetapi pakaian, bahan bangunan atau aksesoris apapun laku. Iklan-iklan sandal jepit saja mencuat di berbagai media televisi. Belum lagi soal tawaran “hadiah” lebaran di toko-toko parcel yang sudah terpampang di pertokoan. Juga ada “penjualan” uang baru di lorong-lorong jalanan perkotaan, dan kini telah merayap ke wilayah perdesaan. Ramadhan memang disemat dengan yang unik-unik juga “beli uang baru pakai uang lama” alias “beli uang dengan uang”. Ini sejenis barter terbatas dan saling ikhlas. InsyaAllah.

Semuanya itu menggambarkan bergembiranya rakyat di bulan Ramadhan ini. Dalam lingkup kegembiraan bulan Ramadhan inilah maka saya terus mencermati keunikan-keunikan yang perlu dikritisi. Masih marak saja setiap memasuki bulan Ramadhan ditemukan ungkapan-ungkapan di beragam media, lewat iklan radio atau televisi, pun media cetak. Kerap muncul ucapan Selamat Menjalankan Ibadah Puasa bla bla bla, bla bla bla. Padahal menurut ajarannya, sekali lagi aslinya, puasa Ramadhan ini boleh dilakukan sambil duduk-duduk, sambil jongkok, bahkan tidur-tiduran boleh. Puasa Ramadhan ini tidak harus dengan jalan-jalan, tapi sinambi leyeh-leyeh juga oke-oke saja. Kalau pakai diserukan harus berjalan-jalan, tentu tambah capek. Juga ada ungkapan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa, padahal puasa Ramadhan ini tidak harus tunai, kontan, atau borong habis, boleh. Puasa Ramadhan ini boleh dengan sistem “kredit” alias dicicil atau berselang-seling tergantung kondisi. Toh semuanya musti memahami bahwa puasa Ramadhan atau puasa apapun sejatinya sangat rahasia, dan hanya dapat diketahui oleh dirinya dengan Tuhannya. Ini ibadan sirriyah (rahasia).

Dalam ajaran puasa Ramadhan ini ada perlakuan khusus juga bagi siapa saja yang sedang bepergian (musafir), sakit, lansia yang renta, ibu hamil atau menyusui, wanita yang sedang “panen bulanan”, bahkan pekerja berat itu lho boleh tidak puasa. Tentu dengan skema penggantian yang sangat terukur. Artinya soal puasa Ramadhan ini kesempatan terbaik untuk menggapai sertifikat la’allakum tattaqūn. Tapi tetap bahwa Allah Swt tidak untuk memberatkanmu dengan karunia besarnya yang bisa kita nikmati bersama. Berpuasa ini lakukan dengan gembira saja. Bergembira bukan berarti berabai-abai, justru tetap khusuk. Khsuk dalam kegembiraan dan gembira dalam kekhusukan. Barokallah. (*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry