
“Peran ormas besar semisal Ormas Islam Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah sangat diandalkan.”
By Isfandiari MD
PERADABAN tak boleh stagnan. Modalnya, pintar pilih yang lebih urgent. Prioritas berpikir pastinya perlu agar ruang berpikir kita tak kelewat ruwet, padat merayap. Dunia berputar kencang, daya survival makin teruji, yang lambat, jumud tergerus jaman, terpuruk dan binasa. Sebuah hukum alam yang sudah berlaku mulai awal kehidupan.
Agar tak binasa, memilih prioritas terpenting termasuk berpikir jadi ukuran survival. Tapi kenyataannya beda, yang penting justru kalah oleh issue seru, trend, viral dan sensasional. Publik figur, tokoh masyarakat, agamawan, pemikir sampai selebriti lebih suka trend seru, viral, renyah, receh dan bejibun mudarat. Hal minim manfaat malah laku, peminat banyak hasilnya duit berlimpah. Mereka abai issue yang perjuangkan kesehatan dan perluasan cakrawala berpikir. Hasilnya, lahir orang-orang berpikir sempit, kaum yang selalu julit, tak nyaman pada eksistensi diri, selalu resah, terus insecure dan krisis pede. Orang-orang open minded semakin langka, produksi insan bercakrawala luas menuju punah. Lahir ragam manusia yang kecanduan berpikir, berbicara dan bertindak atas hal-hal yang remeh dan tak banyak manfaatnya. Kelahiran mereka terjadi dari proses situasi tidak kondusif dalam peradaban kekinian.
Dunia spiritual paling dominan. Kata-kata orang alim sering lahirkan tragedi di masa lalu terjadi juga di masa kini. Walau kelasnya belum terlalu ekstrem sampai genosida misalnya, tragedi sudah terjadi perlahan tapi pasti. Dalam Islam, argumentasi soal bid’ah dan tidak bid’ah memenuhi ruang publik. Soal tahlilan, ziarah kubur, rokok sampai musik terasa terus menyeruak tanpa henti. Masing-masing pihak punya pegangan untuk pertahankan argumennya. Pahadal semuanya baik. Tidak tahlil lebih efisien yang tahlil lebih sosialized. Tidak ziarah baik jika yakin tak bermanfaat tapi juga baik untuk mengingat mati. Tapi karena debat berkepanjangan, umat bingung dalam pilihan, mereka frustrasi sampai pada kesimpulan bahwa agama terkesan ribet dan memberatkan. Makin parah, penganut keyakinan lain berasumsi bahwa Islam sangat complicated dan ribet. Generasi Z mengistilahkan Tuhan tidak asyik lagi, lahirlah kaum agnostik sampai atheis. Ini antiproduktif dan menganggu imej , syiar yang harusnya menembus rasa, hati dan kalbu. ‘Bumbu-bumbunya’ makin seru! Mengkomentari bacaan salah dari imam shalat yang kebetulan selebriti, perdebatan menjurus debat kusir persoalan fikih, sampai saling mencaci dan menyalahkan menjadi konsumsi publik tak berujung.
Belum lagi terjadi debat lintas agama yang emosional, panas, sengit berujung rasa permusuhan tak berkesudahan. Dalam perjuangan keberagaman di negri kita soal ini hasilkan mudharat lebih banyak ketimbang manfaat. Bangsa terpecah, tak ada empati, tak ada rasa toleransi sampai berujung konflik. Akhirnya ‘perang’ bisa saja dimenangkan kaum mayoritas. Bukan karena benar tapi karena banyak. Ini menuju musibah nasional dan kehancuran berbangsa. Bisakah terjadi? Sangat bisa! Tragedi pembubaran giat ibadah paskah oleh orang-orang ekstrem berdampak mempermalukan agama yang dibelanya. Selanjutnya bisa ditebak, muncul pro kontra terjadi stagnasi peradaban dan terkikisnya nilai-nilai luhur yang selama ini diperjuangkan para muasis.
Dalam berkesenian juga terjadi. Menjamur karya sarkastik, kasar, penuh hinaan, merendahkan kaum tertentu, low taste, tidak estetik demi konten dan viralisme. Stand up comedy sering bablas pada hinaan salah satu suku, bablas mengulas lelucon atas adat istiadat suku tertentu. Tambah parah, merendahkan martabat orangtua sendiri, penghinaan bentuk fisik dan selera yang diistilahkan ‘kampungan’ yang nyata-nyata merendahkan orang yang tinggal di kampung. Lucunya, audiens yang mendengarkan ikut tertawa padahal sadar atau tidak teruju pada mereka sendiri.
Dalam dunia musik, film atau bentuk kesenian lain perkara begini juga terjadi. Komposisi musik yang low taste, lirik tidak mendidik asal jadi. Syukurlah masih ada insan-insan berkesenian yang sadar dan mengimbangi walau perlu perjuangan ekstrakeras karena masifnya karya olah karsa dan rasa yang tak bermutu.
Begitupun sosial sosial politik. Tokok politik yang nyeleb-populer jadi sasaran, diserang membabi buta. Oposisi malah berwujud pencela dan penghina bukan quality control berniat mulia. Kritikan disampaikan tanpa adab, bahasa kasar. Adab tertib berbahasa sirna, kata bahasa daerah kasar yang dulu hanya muncul dalam suasana akrab antarteman atau kondisi saat bertikai, kini keluar bebas lepas tanpa filter. Ditujukan dan disampaikan oleh rakyat biasa pada tokoh terhormat atau sebaliknya tokoh-tokoh terhormat pada sesamanya atau pada rakyat awam. Kekurangan tokoh dicari-cari sampai ke hal-hal yang tidak urgent. Celah terobosan tokoh masyarakat yang punya power policy maker pasti hasilkan musuh-musuh baru yang terganggu eksistensinya. Jagad maya makin ramai dan ruwet. Contoh gres, kasus jembatan Cirahong Manonjaya Tasikmalaya. Mengenainya jadi panjang lebar padahal urusan traffik semata. Hadir konflik kepentingan atas pungutan yang selama ini profit bagi orang-orang tertentu. Deddy ‘KDM’ Mulyadi gubernur Jabar yang populer jadi tokoh yang diharapkan sekaligus public enemy . Nasib sama dialami tokoh lain yang punya gebrakan. Sebut saja Hoho Alkaf kepala desa Purwasaba Mandiraja Banjarnegara atau Sherly Tjoanda Laos, Gubernur Maluku Utara, Ektraordinary politician yang banyak mengundang musuh atas keberpihakannya pada rakyat banyak. Pesaing sesama birokrat tanpa gebrakan gerah. Mengejar sulit dan tak mampu, pasif juga beresiko hilang kredibilitas. Ujung-ujungnya jadi haters untuk kemudian timbul reaksi : dirujak netizen. Itulah konsewensinya.
Semuanya perlu pembenahan sistematis. Peran ormas besar semisal Ormas Islam Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah sangat diandalkan. Merekalah garda terdepan membenahi umat agar kebih qualified lewat jalur-jalur komunikasi yang akrab di jaman ini. Birokrat, tokoh agama, pendakwah, politisi, negarawan, pengusaha ber-kapital besar-kecil, penggiat budaya termasuk selebriti wajib berjuang sama-sama membenahi peradaban ini. Giatkan revolusi berpikir prioritas, dahulukan yang penting, yang dekat dengan keseharian masyarakat awam dalam berbagai bidang.
Moga peradaban ini terselamatkan. Bolehlah meminjam motto Nahdlatul Ulama, MERAWAT JAGAD, MEMBANGUN PERADABAN. Insya Allah…. (*)





































