Muslimin Ibrahim – Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)

BERPIKIR, kata yang singkat, mudah diucapkan, namun demikian sangat penting artinya. Bukti pentingnya berpikir, di dalam Alquran ditemukan tidak kurang dari 100 ayat tentang berpikir. Perhatikan Al Baqorah 219 “… Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir”.

Al Baqorah 266: “….Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya”. Al-Anam 60: “…. “Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?“ Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?“ dan masih banyak lagi ayat-ayat yang sejenis dengan itu. Ayat tersebut sekaligus merupakan perintah dari Allah SWT. bagi kita agar berpikir.

Berpikir merupakan suatu kegiatan mental yang terjadi ketika seseorang dihadapkan pada suatu situasi atau permasalahan yang harus diselesaikan. Dengan demikian proses penyelesaian masalah adalah proses berpikir. Gagne (1985) menempatkan keterampilan penyelesaian masalah (keterampilan berpikir) sebagai hasil belajar yang paling tinggi. Menurut KBBI, berpikir bermakna menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu; menimbang-nimbang keputusan apa yang harus diambil.

Berpikir juga dapat dikatakan sebagai proses olah mental yang melibatkan intelektual, kesadaran, akal budi maupun imajinasi guna menghasilkan suatu keputusan untuk kemudian dilaksanakan dalam bentuk tindakan. Dengan alur berpikir seperti itu, berpikir terjadi lebih dahulu sebelum tindakan.

Info Lebih Lengkap Buka website Resmi Unusa

Salah satu wujud pentingnya berpikir sebelum bertindak tersirat dalam kata bijak “pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna”.  Setiap tindakan atau perbuatan yang akan dilakukan hendaknya dipikirkan dahulu baik-baik, ditimbang-timbang sebelum dikerjakan agar tidak timbul penyesalan di kemudian hari.

Berpikir membedakan kita manusia dari hewan. Diperoleh banyak bukti bahwa hewan “belum berpikir” mereka baru pada taraf menggunakan otak. Pada hewan, otak digunakan untuk koordinasi aktivitas yang dilakukan sehingga seimbang dan harmonis. Apakah tidak sama menggunakan otak dengan berpikir? Tentu saja berbeda! Suatu metaphor yang mungkin tidak tepat sama adalah menganalogikan otak dan berpikir dengan komputer. Otak diibaratkan hardwere sementara berpikir adalah softwere.

Salah satu contoh keterampilan berpikir adalah berpikir kritis. Berpikir kritis atau critical thinking merupakan soft skill yang menuntut seseorang untuk selalu  mempertanyakan aspek penting dalam suatu masalah. Ciri orang berpikir kritis ditandai dengan kemampuan cepat menemukan “kesalahan” dari apa yang diamati. Hal tersebut terjadi karena seseorang yang berpikir kritis adalah orang yang memiliki kemampuan mengidentifikasi, menganalisis dan sekaligus mengevaluasi suatu argumen yang terdapat pada sebuah informasi. Kemampuan itulah yang memungkinkan seseorang yang berpikir kritis mudah menyelesaikan dan mencari solusi terbaik atas suatu permasalahan.

Ketika seseorang mampu melihat segala sesuatu dari kacamata dan perspektif yang berbeda, ketika seseorang mampu menangkap hal-hal yang tidak biasa (original), yang tidak bisa dilihat oleh orang lain, orang tersebut telah berpikir kreatif. Berpikir kreatif atau creative thinking adalah kemampuan seseorang yang ditunjukkan dalam kemampuan menghasilkan segala sesuatu yang beda, tidak biasa, dan original. Ciri seorang pemikir kreatif adalah selalu dapat menemukan alternatif.

Uraian di atas menunjukan betapa pentingnya berpikir. Oleh karena itu setiap kita seharusnya membangun kebiasaan berpikir (habit of minds). Kebiasaan berpikir adalah kecenderungan seseorang untuk berperilaku cerdas ketika dihadapkan dengan masalah. Keterampilan berpikir adalah kebutuhan dan merupakan dua di antara 4 keterampilan abad 21 (4Cs): creative thinking, critical thinking, collaborative and communication.

Terkait dengan membangun kebiasaan berpikir dan keterampilan berpikir, di sinilah peran penting guru. Guru harus selalu secara sadar membangun kebiasaan berpikir peserta didik. Para ilmuwan berikut mencoba mengajak kita bagaimana membangun habit of minds peserta didik dengan kata-kata inspiratif sebagai berikut.

(1)          Imaginasi lebih penting dari pengetahuan. Pengetahuan adalah semua yang kita ketahui dan pahami saat ini, Sementara imaginasi semua yang akan kita temukan dan ciptakan Einstein);

(2)          Terlalu sering kita memberi jawaban untuk diingat dari pada melatih peserta didik menyelesaikan masalah (Rogers Lewin);

(3)          Semua orang pada hakikatnya menginginkan pengetahuan. Jangan berikan Pengetahuan jadi tetapi ajarkan Cara Memperolehnya (Aristoteles);

(4)          Cara terbaik mengajarkan ilmu adalah sebagaimana ilmu itu ditemukan. Ilmu ditemukan lewat metode ilmiah (metode penyelesaian).

Bagaimana kalau kita tidak berpikir dan tidak mau mengembangankan kebiasaan berpikir? Memang tidak jarang kita menemukan orang “malas berpikir” tidak mau repot. Dr. Bernard Sabayan  dari Leiden University Medical Centre setelah meneliti 4000 orang dengan rerata usia 75 tahun menemukan bahwa kebiasaan berpikir yang buruk dapat meningkatkan resiko serangan jantung.

Untuk sementara hasil penelitian ini menekankan bahwa fungsi kognitif harus  menjadi bagian dari evaluasi kardiovaskuler. Dia menemukan bahwa responden dengan hasil tes kognitif terendah mendapat serangan jantung sampai 85% dan stroke sampai 51%. Boleh jadi hasil penelitian ini kebetulan, tetapi yang pasti semua perintah Allah SWT. dalam hal ini termasuk berpikir memiliki manfaat bagi manusia itu sendiri.  *

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry