Oleh: Suparto Wijoyo*

DI TENGAH berita peperangan. Ramadan ini sengaja saya ingin menikmati dua kitab yang masing-masing berjumlah 26 jilid, lumayan tebal-tebal. Berarti total ada 52 jilid. Yang pertama membaca Tafsir Ath-Thabari karya besar Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Amali ath-Thabari yang populer dengan sebutan Ibnu Jarir ath-Thabari. Sang cendikia ini lahir 224 H dan wafat di 310 H. Berarti secara historis hidup pada zaman Raja Al-Watsiq Billah (dinasti Abbasiyah). Yang kedua membaca karya agung Abu Nu’aim Al-Ashfahani yang berjudul Hilyatul Auliya. Beliau mengupas sejarah ulama salaf secara mengagumkan. Ramadan ini memberikan nuansa yang tematik dengan membaca hikayat para ulama, sang guru peradaban.

Lah ini. Lagi asyik membaca kedua kitab tersebut kok ya tiba-tiba ingatan menerabas batas waktu. Lamunan saya ingat sosok Gus Dur. Terbersitlah saat itu, dalam deret waktu, Pondok Pesantren Tebuireng Jombang ramai oleh khalayak yang berziarah ke makam Gus Dur. Umat dari seantero nusantara berikhtiar hadir dalam rangkaian agenda haul kewafatannya. Atau hariannya dan termasuk di di bulan Ramadan ini. Sebuah saat yang meneguhkan Gus Dur punya magnit spiritual bagi umat Ini memang sosok yang sangat fenomenal dalam ruang hati saya. Di tanggal 19-20 Oktober 1999 saat pemilihan dan pelantikan Presiden Republik Indonesia yang dipanggulnya, saya ikuti sambil menyimak siaran langsung TV dengan ketertegunan.

KH Abdurahman Wahid bertahtah di singgasana paling diperebutkan para politisi untuk menggapainya, Presiden RI. Nama dan kiprahnya merasuk dalam gelombang pikiran bangsa, dan saya baru menyinambungkan indra ketertarikan sejak bersekolah di Madrasah Aliyah, waktu Gus Dur didaulat menjadi Ketua Umum PBNU 1984 hasil Muktamar di Situbondo. Jargon yang mengekspresikan semangat pergerakan NU di bawah nahkodanya adalah Kembali Ke Khittah. Alun-alun Lamongan menjadi saksi bersama 15.000 lebih jamaah yang menghadiri tausiyahnya. Saya merekam dengan menggunakan tape recorder sebagai anak Madrasah Aliyah kelas satu.

Pidato di Alun-alun Lamongan itu membekas dengan tema yang membincang politik nasional dalam genggam kuasa Presiden Soeharto. FORDEM muncul menjadi “institusi sosial” dan kendaraan pergerakan yang dianggap laing demokratis, yang digawanginya, dan sangat menarik minat “diintai” para mahasiswa, termasuk saya. Forum Demokrasi gencar terberitakan dan mahasiswa asyik “menari bersama” gendangannya. Diskusi-diskusi demokrasi dan HAM marak di kampus dan mampu menggelorakan semangat juang dalam “rahim pembuaian jabang bayi” reformasi. Hentakan reformasi menggelembung di tahun 1998 pada saat saya memasuki babak menjadi PNS, menempuh jalan perdosenan di Universitas Airlangga.

Kiprah Gus Dur sebagai orang nomor satu di Indonesia saya persaksikan dengan melihat TV dan mendengarkan radio-radio dengan degub yang menghentak dan menumpahkan keterharuan. Situasi batin saya nyaris serupa dengan gerakan pemakzulan Gus Dur yang diusung MPR. Antara tanggal 1-23 Juli 2001 itu teramat dramatik kisahnya untuk dilintasi bangsa ini dengan hasil akhirnya: Gus Dur benar-benar dilengserkan, 23 Juli 2001. Kejatuhan dari kursi presiden pastilah tidak dirasakan oleh Gus Dur, karena tidak kemaruk jabatan, tetapi rasa tersayat menggerus dada menghadirkan guncangan batin yang menumpahkan air mata kaum kecil di pedesaan. Saya menyaksikan peristiwa itu saat melakukan penelitian disertasi di Eropa. Perjalanan dari Belanda melintas Jerman, Perancis sampai ke Austria dengan mengistirahatkan badan di Swiss.

Berbagai kolega menatap dan saya ceritakan bahwa di Indonesia sedang terjadi pemberhentian Presiden Gus Dur. Presiden yang sewaktu hadir di Perancis memukau banyak tokoh Paris kala itu, kini lengser. Belum lekang ingatan itu, saya sungguh menarik nafas panjang atas apa yang menimpa Gus Dur sambil menyaksikan diri sang pemakzul, tokoh penggedog pelengseran, yang juga bertandang ke Belanda. Pemakzulan yang kontroversial sampai hari ini dengan bukti-bukti yang sumir, sebelum akhirnya dipungkasi tiada bukti. Buloggate dan Bruneigate lambat laun ternarasikan hanyalah imaji tanpa bukti yuridis yang memenuhi syarat bagi kepentingan pemberhentian Presiden. Kini semuanya telah rampung.

Sejatinya, gonjang-ganjing kenegaraan yang terhelat di Jakarta sewaktu Gus Dur mengganti menteri ataupun mengatasi “pembangkangan” mereka yang silih berganti, tidaklah menimbulkan keganjilan di masyarakat desa. Masyarakat di kampung-kampung, apalagi Lamongan, kepemimpinan Gus Dur dianggap mbarokahi. Orang tua, sanak saudara dan handai taulan pada tahun 1999-2001 itu sangat mensyukuri geliat ekonomi yang terus membubung tinggi. Ini bukan soal angka statistik versi negara melainkan ekonomi roso yang menghampiri petani dan petambak. Sawah dan tambak udang saya sendiri membuncahkan kenikmatan yang tidak terperi. Tahun-tahun yang membahagiakan dengan panen udang windu seharga 125 ribu rupiah perkilo gram. Suatu harga yang sangat fantastis yang kemudian turun melorot sampai ke tingkatan 17.000-19.000 rupiah perkilogram seiring momen Gus Dur “dipelorot” dengan mekanisme politik pelengseran. Nilai harga udang windu itu sampai saat ini belum mampu merangkak naik setinggi “barokahe” kebijakan ekonomi Gus Dur.

Panen raya tambak diikuti dengan meningkatnya jumlah orang naik haji. Naik haji adalah “cita-cita tertinggi” yang ada di benak para petambak udang dan petani pada umumnya. Haji adalah simbol kemakmuran dan di zaman Gus Dur dengan udang yang berharga tinggi menjadikan lembaran yang sesuatu banget di hati emak, kakak, dan kerabat. Keterpentalan Gus Dur dari Istana Negara dengan sambutan gempita di lapangan untuk terbang ke USA, adalah wujud pengaliran hati agar memiliki kelembutan. Kini orang bisa memahami pilihan “celana kolor” Gus Dur di panggung Istana yang sangat “mengena di pelupuk jiwa”. Kepasrahan itu melintas dengan kelapangan ruhani dalam menampung gelombang massa.

Usai lengser, Gus Dur bertandang pulang kampung ke Jombang dan mengumpulkan teman-teman kecilnya di Cukir Gang III saat itu, dan saya turut menghantar orang tua, kakak, dan adik-adik dalam bincangan yang sangat sederhana. Saya menepi menyaksi orang-orang kampung di Cukir bercengkerama bersama “kekasihnya”, Sang Guru bangsa. Gus Dur “ndeprok” duduk di lantai beralas tikar pandan, sambil menikmati rebusan singkong, kacang dan ubi jalar. Kematangan batin terpancar dan kehendak Tuhan menuntun langkah selanjutnya, Gus Dur hadir ke rumah orang tua saya di Lamongan sewaktu hajatan ponakan menikah.

Di acara inilah Gus Dur meresmikan bangunan kecil yang diniatkan menjadi Pesantren kelas dusun yang dipangku oleh kakak saya KH Abdul Halim Affandie. Sebuah peristiwa yang diterima sebagai berkah. Saya hanya tertegun dan bersimpuh dengan tetap berada pada pusaran luar untuk menangkap bayang “kerinduan” agar tetap pada posisi tanpa kepentingan apapun. Alfatiha untuk Gus Dur, sang guru peradaban yang dirindu semua. Ramadan ini memberikan ingatan yang mengenang Gus Dur waktu ke rumah kami di Lamongan. Andai saja Abu Nu’aim Al-Ashfahani masih gesang, seperti kisah Gus Dur akan masuk dalam rangkaian narasi historis Hilyatul Auliya-nya. Alfatihah. Nyuwun sewu, saya melanjutkan dulu ya membaca Tafsir Ath-Thabari dan Hilyatul Auliya.

*Suparto Wijoyo adalah Guru Besar Hukum Lingkungan dan Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Ketua Bidang Hukum dan Kerjasama MUI Provinsi Jawa Timur, Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur.

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry