
RABU (3/9/2025), sekitar pukul 09.00 WIB, rombongan dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mendatangi rumah Nafisah Galuh (18).
Rombongan terdiri dari Rektor Prof Achmad Jazidie, Wakil Rektor 1, Prof Kacung Marijan, Direktur Akamawa Dr Umdatus Soleha, Dekan Fakultas Keperawatan dan Kebidanan Dr Khamida dan Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis Teknologi Digital (FEBTD) Dr Ubaidillah Zuhdi serta Kepala Humas dan Marketing. Ir Sukemi.
Rombongan masuk ke sebuah rumah di sebuah gang kecil. Gang itu hanya cukup dilewati satu orang di kawasan Jenggolo Sidoarjo. Mungkin tidak layak untuk dijadikan tempat tinggal. Ukurannya hanya sekitar dua meter kali lima meter.
Di rumah itu, Galuh bersama empat saudara dan ibunya, Lilis Suryani bernaung dari panas dan hujan. Satu saudara lainnya sudah pisah rumah karena menikah dan ayahnya Purwo Sumbiyono meninggal dunia pada 2019 lalu.
Galuh anak keempat dari enam bersaudara adalah satu-satunya harapan untuk bisa mengubah nasib keluarga. Agar bisa hidup setara dengan orang lain. Karenanya, Galuh harus bisa menempuh pendidikan yang lebih tinggi, agar bisa bekerja yang kelak bisa membantu ekonomi dan membiayai pendidikan adik-adiknya.
Di depan para pimpinan Unusa, Galuh mengaku senang bisa diterima di D3 Keperawatan Unusa. Apalagi bisa mendapatkan beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIPK). Sehingga dia tidak membayar sepeserpun hingga lulus kuliah. Bahkan bisa mendapatkan uang saku.
“Saya lulus dari SMK Keperawatan. Jadi memang ingin jadi perawat. Kalau kuliah di jurusan lain, sayang ilmu saat SMK,” katanya.
Selepas lulus SMK Keperawatan, Galuh mencoba keberuntungan mendaftar jalur prestasi (SNBP) dan jalur tes tulis (SNBT) ke perguruan tinggi negeri (PTN). Namun nasib belum berpihak padanya.
“Beruntung ada kakak kelas yang kuliah di Unusa. Dia beri tahu saya kalau di Unusa itu akreditasinya A dan bisa ngajukan KIPK. Ya sudah saya mendaftar. Dan Alhamdulillah diterima,” ujarnya.
Dari beberapa proses dia jalani hingga akhirnya diterima. “Saya senang bisa diterima. Keinginan kuliah di keperawatan bisa terkabul,” tandas Galuh yang menjadi satu-satunya di keluarga yang bisa berkuliah.
Rektor Prof Ahmad Jazidie mengucapkan selamat pada Galuh sudah menjadi bagian dari sivitas akademika Unusa. Dikatakannya, menjadi mahasiswa Unusa banyak nilai plusnya terutama bagi penerima KIPK. “Akan ada tambahan dari Unusa yakni sebuah tablet untuk pembelajaran. Itu gratis kami berikan,” kata Prof Jazidie.
Prof Kacung Marijan menambahkan Galuh menjadi satu dari 269 mahasiswa penerima KIPK di Unusa di 2025-2026 ini. Para penerima KIPK yang berkuliah di Unusa selain berasal dari keluarga tidak mampu, juga harus memiliki prestasi saat duduk di SMA sederajat.
“Yang pasti dia juga penerima KIP Pelajar saat SD hingga SMA. Dia berhak juga menerima KIPK,” ungkap Prof Kacung.
Jajaran pimpinan Unusa meminta Galuh untuk serius belajar. Karena para penerima KIPK memang harus memiliki prestasi yang baik selama berkuliah. “Dan rata-rata memang berprestasi. Mereka tidak menyia-nyiakan kesemoatan. Jadi Galuh harus bisa berprestasi,” jelas Prof Kacung.
Galuh sendiri untuk sementara akan berkuliah berboncengan dengan teman SMK-nya yang juga berkuliah di Keperawatan Unusa. Galuh belum terpikirkan untuk ngekos. “Dijalani dulu. Selama masih bisa bareng teman saya, saya bersama dia pergi dan pulang kuliah. Dia tidak keberatan,” tuturnya. lis/bersambung








































