CSR : (ki-ka) Manager PR dan CSR PT Pertamina Gas Zainal Abidin, Direktur Utama Pertamina Gas Wika Migantoro berbincang dengan Kepala Desa Penatarsewu Choliq di sela launching Resto Apung Seba, Mei 2019 lalu. DUTA/endang

SIDOARJO | duta.co – Dusun Pelataran, Desa Penatarsewu, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo dulu hanya sekadar daerah penghasil ikan asap. Dan tidak banyak juga yang tahu, kalau ikan asap yang dijual di pasar-pasar tradisional Sidoarjo itu berasal dari sana.

Seiring waktu, desa ini mulai dikenal. Mulai banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai desa lain di Sidoarjo dan sekitarnya. Apalagi kalau bukan karena Resto Apung Seba yang ada di desa tersebut.

Resto ini memang membuat penasaran banyak orang. Kehadiran restoran yang berdiri di atas tambak ikan itu memang menjadi perbincangan di antara warga Sidoarjo. Apalagi setelah dibuka secara resmi  pada Mei 2019 lalu.

Walau lokasi cukup jauh tak membuat orang enggan mendatanginya. “Jauh memang. Kalau dari Pasar Tanggulangin ke timur lurus terus. Ada 10 atau 15 kilometer. Tapi, pas sampai lokasi tidak kecewa, unik restonya. Saya sama teman-teman ke sana, arisan,” ujar Yanti Gunadi, salah seorang warga Buduran, Sidoarjo.

Kehadiran Resto Apung Seba ini sedikit banyak sudah mengubah perekonomian warga sekitar. Dulu, warga yang hanya bisa menjual ikan asap ke tengkulak atau menjualnya sendiri ke pasar-pasar. Kini mulai ada alternatif baru pemasaran. Resto Apung Seba bisa sebagai ‘showroom’ produk ikan asap dari desa tersebut.

“Kalau dulu warga menjualnya sendiri, sekarang sudah ada penampungan produk ikan mereka. Setidaknya ada alternatif pemasaran. Menjual sendiri masih dilakukan, tapi sebagian lagi sudah dimasukkan ke restoran Seba.

Jadi ada wadah pemasarannya, ada wadah promosinya. Karena sebagian besar menu resto hasil olahan ikan warga,” jelas Kepala Desa Penatarsewu Choliq.

Dijelaskan Choliq, restoran itu berada di bawah BUMDes yang dimiliki desa. BUMDes itu pun menunjuk  Lita Eka Yuvida sebagai orang yang bertanggungjawab  terhadap operasional Resto Apung Seba itu.

Selama ini, Lita Eka dikenal sebagai pengusaha ikan asap di desa setempat dengan berbagai olahannya. “Jadi kami tidak boleh sukses sendiri, harus bersama-sama,” ungkap Lita Eka.

Kehadiran Resto Apung Seba yang pembangunannya menelan biaya sekitar Rp 1 miliar itu, memang tidak mungkin dibangun sendiri oleh desa karena biaya terlalu besar. Beruntung, ada pihak swasta yang peduli, yakni PT Pertamina Gas (Pertagas).

Sebenarnya, Desa Penatarsewu sejak 2013 lalu menjadi desa binaan Pertagas. Waktu itu Pertagas memberikan bantuan cerobong asap agar pengasapan ikan bisa lebih efektif dan asapnya tidak menganggu warga sekitar.

Public Relation & CSR PT Pertamina Gas, Zainal Abidin mengatakan bantuan alat itu untuk meningkatkan produksi ikan asap. Dan ternyata hal itu berhasil. Produksi terus bertambah.

Namun, lama kelamaan, penambahan jumlah produksi itu justru menjadi masalah baru bagi warga. “Ikan jadi tidak terserap ke pasar. Muncullah kembali masalah kedua, karena warga sudah tidak bisa menjualnya,” ungkap Abi panggilan akrab Zainal Abidin.

Sang kepala desa dengan beberapa warga penghasil ikan asap itu pun, kata Abi menyampaikan keluhannya. Dikatakan Abi, pihaknya mencoba mengumpulkan warga. Tujuannya agar bisa menyampaikan keluhan dan apa yang diinginkan.

“Kendalanya belum ada tempat untuk memajang produk mereka. Akhirnya kita bicara, maunya seperti apa. Dari kesepakatan akhirnya muncul ide membuat restoran ini. Kami memang menunggu inisiatif warga. Kalau ide itu dari mereka, maka mereka akan bertanggung jawab,” ujar Abi.

Pertagas pun menyanggupi untuk membuatkan restoran dengan konsep yang unik. Tanah sawah kas desa yang berubah fungsi menjadi tambak sejak tragedi lumpur Lapindo dipilih untuk mendirikan restoran.

“Dari pada diuruk dijadikan restoran, lebih baik kita bangun restoran di atas tambak itu. Lebih unik dan berbeda dari yang sudah ada. Selain jual menu juga menjual suasana,” tandas Abi.

Kini, restoran itu sudah menampung banyak tenaga kerja dari desa setempat. Mulai dari cleaning service, pramusaji hingga koki atau chef adalah tenaga dari desa tersebut.

Salah satunya Bayu Setiawan. Pria 27 tahun ini adalah lulusan sekolah perhotelan di Surabaya jurusan memasak. Bayu sudah melanglang ke berbagai kota bahkan ke luar negeri untuk bekerja sebagai juru masak.

Atas permintaan orang tua, Bayu pun pulang kampung tanpa tahu harus melakukan apa di desanya tersebut. Gayung  bersambut, saat dia pulang, desa tempatnya dilahirkan dan dibesarkan membuat sebuah restoran yang menurutnya cukup wah untuk ukuran di desa yang jauh dari kota.

“Saya melamar, diterima, dilatih lagi mengolah ikan asap dan jenis ikan lainnya. Beryukur, saya tidak lagi harus keluar desa mencari penghidupan,” tutur Bayu.

Karena itu, Bayu dan tim dapur tidak ingin restoran kebanggaan seluruh warga desa itu bisa menyuguhkan menu spesial. Karena salah satu yang membuat sebuah restoran bisa berjalan panjang adalah menu yang bisa diterima semua kalangan dan berbeda dari yang sudah ada.

“Di desa ini, ada banyak unggulan. Kita punya bahan baku ikan asap yang sangat banyak. Karena kampung ini dikenal sebagai kampung asap. Makanya menu di sini kami buat dari ikan asap itu, sebagian besar, selain ada aneka jenis sea food lainnya,” jelasnya.

Resto Apung Seba ini seluruhnya diserahkan sepenuhnya pada desa setempat. Pertagas tetap akan melakukan pemantauan, bagaimana perkembangan restoran itu dari waktu ke waktu.

Direktur Utama PT Pertamina Gas (Pertagas) Wika Migantoro berharap kinerja Resto Apung Seba bisa semakin berkembang ke depan. “Kami optimis kehadiran program CSR Pertagas mampu mambawa multiplier efek bagi kelompok masyarakat Iainnya,” lanjut Wiko.

Usaha bersama Pertagas dan warga Desa Penatarsewu diharapkan dapat mendorong kemandirian ekonomi masyarakat, yang nantinya akan berdampak langsung kepada peningkatan perekonomian Desa Penatarsewu. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry