Para dosen, guru dan siswa SMAS Sayyid Yusuf Sumenep berfoto bersama usai kegiatan pelatihan. DUTA/ist

Menyukai karya ilmiah harus dimulai sedini mungkin. Sehingga anak-anak Indonesia bisa mempraktikkannya ketika memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Namun permasalahannya, tidak semudah itu untuk bisa mengajak anak atau siswa menyukai karya ilmiah karena pengetahuan yang minim tentang penyusunan dan penulisannya.

Karena itu, tiga dosen yang tergabung dalam tim pengandian masyatakat dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya Unusa mencoba memberikan pelatihan menyusun dan menulis karya ilmiah.

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

Tiga dosen itu yakni Maharani Pertiwi K, dr Adyan Donastin dan Prof Suprapto Maat. Mereka melakikan pengabdian masyarakat di SMA Swasta (SMAS) Sayyid Yusuf Sumenep awal September 2021 lalu.

Ketua tim, Maharani Pertiwi mengatakan karya tulis ilmiah itu penting diketahui dan dipahami semua orang. Karena karya tulis ilmiah memiliki peran penting dalam mempelajari, memahami dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Keterampilan menyusun karya tulis ilmiah merupakan kompetensi dasar yang ada dalam kurikulum bahasa Indonesia di jenjang SMA.

“Penyusunan karya tulis ilmiah ini akan melatih siswa menjadi seorang yang kritis, berlatih Bahasa Indonesia dan menambah wawasan,” ujar Maharani.

Tim pengmas pun memilih SMAS Sayyid Yusuf, Kecamatan Talango, Kabupaten Sumenep untuk memberikan pelatihan ini. Karena selain sekolah itu bernaung di bawah Nahdlatul Ulama (NU) juga karena sekolah tersebut belum mendapatkan pelatihan sejenis.

Pemberian pelatihan tentang penyusunan dan penulisan karya tulis ilmiah. DUTA/ist

Apalagi berada di daerah paling timur di Pulau Madura sehingga jarang dikunjungi praktisi dan akademisi. Padahal, pengurus dan pimpinan sekolah ingin anak didiknya memiliki kemampuan karya tulis ilmiah.

“Kami melibatkan Universitas Wiraraja Sumenep dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Kolaborasi yang bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” kata Maharani.

Pelatihan ini dilakukan secara langsung, diikuti 20 siswa dengan menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat. Pelatihan ini menggunakan Model Latihan Partisipatif (Participatory Training Model). Sebuah model di mana narasumber memberikan ceramah mengenai materi dan diskusi serta latihan bagi peserta dalam menyusun Literature Review (LR), yaitu jenis karya tulis ilmiah yang sering dilombakan.

Harapan dari pelatihan ini adalah meningkatkan minat siswa dalam membuat karya ilmiah berupa LR, meningkatkan pemahaman siswa dan guru dalam menentukan permasalahan dari topik yang diinginkan.Juga menggunakan metode penulisan yang tepat dalam membuat karya ilmiah dan mengoptimalkan pemanfaatan internet dalam mendukung pembuatan karya ilmiah.

“Kami latih mereka cara untuk memilih topik tulisan, tahapan membuat kerangka konsep, tips dan trik penelusuran referensi, serta penulisan kalimat sesuai tata bahasa Indonesia,” ungkap Maharani.

Dari pelatihan itu, tim pengmas tetap melakukan pemantauan atau monitoring apakah siswa menerapkan ilmu yang didapatnya atau tidak.

Yang melakukan monitoring dan mengawasi kegiatan ini kata Maharani adalah Universitas Wiraraja Sumenep. “Bahkan kami bantu mendaftarkan mereka kalau mau ikut lomba-lomba. Kita tunggu sampai mereka selesai menulis karya ilmiahnya. Karena salah satu tugas yang kita berikan menyusun itu,” jelas Maharani. ril/end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry