PERAWATAN JENAZAH : Moch Ikhwani.S.Ag,MS memberikan pelatihan tentang perawatan jenacah dengan penyakit HIV/AIDS. DUTA/istimewa

Merawat jenazah hukumnya wajib bagi setiap muslim tanpa memandang status sosial. Namun terkadang masyarakat tidak mengetahui bagaimana cara merawat jenazah khususnya yang meninggal karena penyakit tertentu misalnya HIV/AIDS.

Karena itu, dua dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mencoba memberikan bimbingan tentang perawatan jenazah dengan penyakit menular tersebut di  di Pondok Pesantren Lubbul Labib Kedungsari Maron, Probolinggo.

Dua dosen Unusa itu, adalah Siti Maimunah dan Moch Ikhwani. Keduanya adalah dosen dari Fakultas Keperawatan dan Kebidanan (FKK) yang peduli akan kurang perhatiannya masyarakat terhadap jenazah dengan penyakit menular itu.

Selama ini, banyak masyarakat yang tidak mengetahui bagaimana merawat jenazah dengan penyakit menular. Karena memang mereka tidak mendapatkan bimbingan tentang hal itu. “Ini yang membuat kita tergerak untuk melakukan pengabdian masyarakat ini. Kita ingin membimbing mereka agar mereka juga bisa aman saat merawat jenazah dengan HIV/AIDS,” ungkapnya.

Kegiatan yang dilakukan Maret 2019 lalu itu, sengaja diperuntukkan bagi para santri karena memang biasanya santri itu yang nantinya banyak terlibat dengan urusan perawatan jenazah. Sehingga pengetahuan santri harus lebih baik agar nantinya bisa menularkan pengetahuan kepada sekelilingnya.

Dikatakan Maimunah untuk pelaksanaan pengmas ini, pihaknya menggunakan metode mengukur pengetahuan dan pemahaman santri Lubbul Labib Kedungdari, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo. Serta memberikan penyuluhan mengenai pengetahuan dan pemahaman tentang perawatan jenazah dengan penyakit menular ini.

Sampai saat ini masih ada stigma negatif dan diskriminasi pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan berlanjut pada ODHA yang meninggal karena tidak mendapatkan perawatan sebagaimana mestinya. “Padahal kita berdosa kalau tidak merawat jenazah, siapapun itu,” tutur Maimunah.

Kasus penolakan pada ODHA yang meninggal memang masih sering terjadi di masyarakat karena khawatir tertular. Untuk itulah pihak terkait harus gencar memberikan sosialisasi dan juga pelatihan pemulasaran jenazah ODHA. Kalau meninggal di rumah sakit tentu tidak jadi masalah karena biasanya dimandikan di rumah sakit. Masalah muncul ketika meninggal di tengah masyarakat.

Berdasarkan analisis situasi terdapat permasalahan bagi santri kurang memahami tentang bimbingan perawatan jenazah dengan penyakit HIV/AIDS sehingga kedua dosen itu ingin membagi ilmu tersebut pada santri Pondok Pesantren Lubbul Labib Kedungsari Probolinggo, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo.

Santri langsung mempraktikkan bagaiman perawatan jenazah dengan penyakit tertentu. DUTA/istimewa

Dikatakan Maimunah, masyarakat sering mengadakan pelatihan pemulasaran jenazah ODHA  karena selama ini pelatihan hanya untuk peserta laki-laki, peserta pelatihan adalah Kaur Kesra atau modin yang bisa memandikan jenazah.

Diharapkan, dengan pelatihan pada santri, maka santri bisa memahami menangani ODHA yang meninggal dunia di tengah masyarakat.

Dalam hal ini, Maimunah mengatakan, ketika ada ODHA meninggal, maka jenazahnya didiamkan dulu minimal empat jam, setelah itu jenazah aman untuk dimandikan. Tidak perlu takut tertular asal petugasnya menggunakan alat pelindung diri atau APD.

“Kita harapkan ada pemahaman di masyarakat bahwa tidak semua ODHA itu memiliki prilaku negatif. Kalau kita tahu prosedurnya maka semua akan aman bagi kita dalam merawat jenazah dengan HIV/AIDS itu,” jelasnya. end/ril

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.