Kadis Dinas Pangan dan Pertanian bersama Kabid Sarpras dan staf dan Kades saat meninjau Petani Bawang merah Demplot di Desa Cemeng Bakalan Kecamatan Sidoarjo, Jumat, (30/7/21). (FT/LOETFI)

SIDOARJO | duta.co – Ditengah masa pandemi Covid-19 yang melanda, ada beberapa petani Sidoarjo yang memanfaatkan peluang dengan beralih dari bertani padi (gabah) ke Bawang merah. Salah satu alasnnya, yakni karena hasil dan keuntungan yang menjanjikan dan juga memutus rantai hama atau gangguan lainnya.

Seperti halnya Kepala Desa Cemeng Bakalan, Samsul Huda (62), saat ditemui duta, Jumat, (30/7/21) di persawahan miliknya mengatakan, dirinya hobby bertanam dan memelihara hewan. Jadi, menurutnya, di tengah masa pandemi covid-19 ini, Desa harus mempunyai unit kerja.

“Tanaman bawang merah itu butuh banyak air tapi tidak mau basah (becek). Tetapi, kendala yang paling berat adalah serangan hujan (curah hujan yang berlebih), dan penyakit yang sulit ditanggulangi sebangsa jamur. Untuk fungisida itu obatnya mahal-mahal, jadi HET bukan Harga Eceran Tertinggi, tapi Harga Eceran Terendah, manakala panen raya harga jatuh disitulah peran pemerintah hadir untuk mencari solusi,” terang Samsul.

Dirinya mengucapkan terimakasih kasih, khususnya kepada Bu Eni selaku Kepala Dinas beserta staf dan jajarannya karena telah memperhatikan di lapangan dan menyerap aspirasi-aspirasi dari petani dengan memberikan penyuluhan dan pemantauan.

“Karena apa, bawang merah ini juga dibuat satu produk alternatif yang cukup menjanjikan. Karena kalau bertanam tradisional padi, sudah tidak bisa mengharapkan untuk kesejahteraannya dimasa pandemi, mas. Harapan saya kepada Dinas, saya sudah cukup. Tapi, perlu ditingkatkan, khususnya karena kalau bawang merah ini tidak ribet tapi penuh resiko,” tutupnya.

Senada, Kabid Sarpras dan Perkebunan, Nusfa Muzdalifah, mengatakan, lokasi penanaman bawang merah itu 7 (tujuh) titik lokasi. 3 di Balong bendo, 1 di Kecamatan Prambon, 2 Kecamatan Wonoayu, dan yang terakhir Tarik juga, dan disini 1.

Terkait dengan bawang merah ini masing-masing 0,5 hektar, dan mendapatkan fasilitas bantuan dari dinas terkait. Di benihnya 500 kilo per lokasi. Dapat pupuk organik juga, dapat fungisida dan herbisida.

“Jadi, brambangnya ini semi organik. Untuk biaya garap itu dari petani sendiri yang mengerjakan, kalau untuk yang lain lainnya dari dinas semua,” ujar Nusfa.

Nusfa juga menjelaskan, untuk biaya operasional sebesar 92 juta untuk setengah hektar. Dan dapatnya 150 juta. Untuk petani yang ingin mencoba bertanam Bawang Merah namun masih awam, dari dinas sendiri tetap akan melakukan pembinaan dan memfasilitasi penyuluhan.

“Kalau untuk modal bagi petani ada KURDA dan KUR,” ujar Nusfa Kabid Sarpras dan Perkebunan didampingi Lilis staf bidang Sarpras.

Sementara, tim penyuluh pertanian Sidoarjo dari dinas, Ahmad Ramadhan, menambahkan, ini Inisiatif dari Kepala Desa (lurah). Jadi, beliau belajar sendiri, mengambil tenaga (guru) dari Nganjuk, kemudian coba-coba sendiri.

“Dari dinas sendiri yaitu kalau kita pengawal terutama pada program time ini, kita memberikan bibit bawang merah 500 kilo, fungisida, pupuk organik buat bantuan dari dinas untuk petani. Jika ada masalah di lapangan, kita menghubungkan dengan dinas untuk dijadikan solusi,” ujarnya.

“Tapi sebenarnya pak lurah sudah memahami. Kemarin ada penyuluhan di Krian mengenai bawang merah program dinas untuk menambahkan pengetahuan wawasan terkait dengan bawang merah. Kalau untuk pemasaran, kita ada TTIC Toko Tani Indonesia Center di Dinas Pertanian yang menerima hasil pertanian termasuk Bawang merah,” ujar Ahmad Ramadhan. (loe)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry