Oleh: Suparto Wijoyo*

RENTANG tahun 2166-1991 Sebelum Masehi (SM), sepanjang 175 tahun merupakan saat yang membeber pijakan tauhid yang sangat referensial. Waktu ketika Nabi Ibrahim as mendapatkan julukan mesra, khalilullah, Sang Sahabat Allah dalam tradisi keagamaan monoteisme (Islam). Rujukan-rujukan kitabiyah dapat disemat tetapi biarlah itu menjadi ulasan para ahlinya. Sejenak sudilah mempelajari kisah Ibrahim as yang dilahirkan di Ur, Irak (2166 SM) sampai meninggal di Hebron, Palestina (1991 SM). Di usia 14 tahun sudah menjadi observer hebat yang tidak tertandingi dalam  menganalisis tata surya. Di umur 16 tahun mengalami proses peradilan akibat melakukan “pemberontakan dalam konteks tauhid” dengan memperkenalkan Allah swt. Rezim kasar nan bengis Kaisar Naramsin dibuat gusar, pun Ismail lahir 2080 SM.

Kelahiran yang membahagiakan sebagai ayah yang merindu kedatangan “generasi penerus”. Relasi spiritual dan emosional Ibrahim as dan Ismail as hanya dapat dipahami oleh mereka yang mandito, keesaan Allah swt. Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail as (2067 SM) adalah babak besar dalam sejarah peradaban   perilaku taat kepada perintah-Nya dengan balutan akhlak  Sang Sahabat Allah swt bersama anak yang bermukjizat.

Pengorbanan atas nama iman dengan taruhan nyawa adalah alternatif tunggal yang tidak akan pernah sanggup dilakukan oleh manusia biasa. Pengorbanan itu hanya dapat dilakukan insan luar biasa karena rela “mempersembahkan yang substansial, nyawa, apalagi sekadar harta benda”. Atau sekadar mundur dari jabatan yang kini dikuasai untuk mencalonkan lagi, tampak ada yang tidak mampu melakukan. Bahkan ada yang  asyik   “berkamuflase” melalui peran pengganti yang tidak perlu marasa risih. Dengan peta demikian sudah dapat diterka, siapa yang layak menjadi pemimpin dengan derajat pengorbanan yang berkategori besar model Sahabat Tuhan seperti ditulis oleh Jerald F Dirk, Abraham, The Friend of God (2002).

Sapi, lembu, kerbau, kambing, dan domba  dalam suasana Idul Adha 1439 H menggumulkan suara lenguhan serta embikan yang turut menyemarakkan gemah takbir di pelataran dunia. Senyum mengembang dari setiap anak-anak yang “menggoda” hewan yang tengah dipersembahkan dalam pengorbanan agung atas nama-Nya.

Teladan dari Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as mengukirkan ajaran keabadian tentang keikhlasan seseorang menempuh jalan hidup menggapai kemuliaan.  Apa yang dialami Nabi Ibrahim berikut keluarga besarnya adalah simbul ketaatan tanpa batas yang menepikan tingkatan kesabaran yang ada batasnya. Iman dengan ketaatan total adalah derajat supremasi paling Illahi yang diperebutkan kaum bertauhid, sampai hidup rela berkorban adalah persembahan terindah untuk-Nya.

Inilah yang saya terus hayati dalam rentang sepekan ini dalam memintal kisah yang terus tertorehkan di Lombok sejak putaran Ahad  “gempa”: 29 Juli, 5 Agustus, dan 19 Agustus 2018. Gempa yang menghantar manusia untuk sigap dalam menyumelehkan diri. Nyawa, luka, dan penderitaan terhantar dengan bopongan omongan yang tidak pernah ada rujukannya tetapi kini dapat diceritakan kepada generasi mendatang. Lombok  pada tarikh dari Sang Kala pernah mengalami gempa berkelanjuttan sampai pada titik di mana sujud adalah kepasrahan yang tersedia. Gelombang bantuan mengalir walaupun dengan kesadaran bahwa hal itu tidak mampu menggantikan ruh yang “tegar berjalan ke haribaan-Nya”. Kematian tetap sebagai jawaban atas kemahakuasaan-Nya dan manusia wajib menyandarkan diri kepada kodrat yang sangat tepat kadarnya.

Dalam lingkup Idul Adha 1439 H ini terkonstruksi bahwa serakan korban akibat gempa atas seruan iman diterima sebagai pelebur dosa atau penambah amal. Terdapat sirkulasi surplus amal dan defisit dosa yang disebabkan terjadinya gempa yang tidak berhenti menyapa warga. Penganggapan ini merupakan bagian dari menspiritualisasi setiap peristiwa  oleh kekuatan Adikodrati yang tidak terjamah. Inilah segmen yang sepatutnya diambil dalam gempira gempa yang seolah-olah menjemput gemerlapnya acara Asian Games yang pembukaannya begitu “mengguncang dunia”.

Negara ini memiliki daya untuk menghelat acara Pembukaan Asian Games 2018 yang penuh lagak yang diikuti dengan tampilan pengendara motor yang sangat lihai dalam beratraksi yang di dalamnya ada “kelambu gelap” yang tidak pernah disingkap pelakunya sendiri. Biarlah hal itu menjadi rahasia publik yang telanjur mengetahui “siapa aktor pengganti itu”. Negara bergaya melalui simbul  jabatan tertingginya meski semua orang dibuat berdetak kagum tiada tara walau tetap tebersit ingatan bahwa itulah imajinasi yang memboncengkan “tragedi gempa”. Tragedi yang sampai kita semua menikmati berita-berita hari ini tetaplah mengalirkan air mata dan duka, tetapi sang tokoh tetap menikmati “karapan dusta-dusta” sambil menyodorkan tim kampanye untuk menyuarakan teriakan lantang: dia sibuk bekerja demi  prestasi bangsa.

Berguru kepada Ibrahim dan Ismail adalah puncak keteladanan teragung dan kalaulah pengorbanan itu terlalu tinggi, maka cukuplah kita berpaling  kepada tuntunan yang seperti ditulis Ram Charan. Pemimpin itu hadir dengan gerak lompatnya dalam menyelamatkan rakyat yang lebih mendeskripsikan ruang juang. Thomas L Friedman dalam buku The World Is Flat mengisahkan tulisan temannya, Jack Perkowski, yang menuliskan pepatah Afrika pada lantai pabriknya: Setiap pagi di Afrika seekor gazelle (kijang) terjaga/Ia tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat dari singa tercepat atau ia akan mati/Setiap pagi seekor singa terjaga/Ia tahu bahwa ia harus bisa mengejar gazelle terlambat atau ia akan mati kelaparan/Tidak peduli apakah kamu seekor singa atau seekor gazelle/Ketika matahari terbit, kamu harus mulai berlari. Siapakah si calon yang memenuhi persyaratan ini, apalagi yang meneladani Sahabat-Nya?

* Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.