SURABAYA | duta.co – Suhu politik Kota Surabaya semakin menghangat jelang Pilkada Desember 2020. Teka-teki calon dari PDI Perjuangan sebagai pertai pemenang di Surabaya menjadi pembahasan menarik.

Yang terbaru muncul foto di sejumlah WhatsApp Group (WAG) pasangan Whisnu Sakti (WS) – Zahrul Azhar Asumta atau Gus Hans.

Dalam gambar yang tersebar di WAG, Whisnu memakai baju putih, sementara Gus Hans memakai baju koko ungu, berlatar tulisan Surabaya Rumah Nasionalis yang Religius.

Spekulasi bermunculan, salah satunya soal wacana Gus Hans menjadi wakil dari bakal calon wali kota (bacawali) dari PDIP.  Padahal nama Gus Hans dikabarkan sudah diajukan jadi pendamping Machfud Arifin di Pilkada Surabaya.

Pakar politik Universitas Wijaya Putra,Dr. Dwi Prasetyo, mengungkapkan hal ini menjadi bukti kuatnya faksi Wisnu Sakti Bhuana, di tubuh partai berlambang banteng moncong putih tersebut.

Di sisi lain, Tri Rismaharini juga dianggap memiliki kekuatan besar apalagi masih menduduki kursi Walikota Surabaya.

“Keduanya mempunyai basis  pendukung yang sama. Ternyata nama Whisnu Sakti lebih masif di masyarakat, dari pada Eri Cahyadi yang dianggap sebagai representasi Risma” terang alumnus doktor Universitas Airlangga (Unair) ini, Jumat (10/2020).

Lanjutnya, ini menunjukkan basis massa Whisnu Sakti di akar rumput PDI Perjuangan Kota Surabaya masih kuat. Sementara kans Wali Kota Tri Rismaharini yang mendukung Eri Cahyadi terus melemah.

Pakar politik muda ini, tidak menampik dukungan Whisnu Sakti bakal maksimal di pilwali nanti. Meski begitu, Whisnu harus mengantongi rekom PDIP, dan mendapat pasangan calon wakil wali kota yang mampu mendukung suaranya di massa pendukung. “Basis merah (PDIP) harus berkoalisi dengan parpol lain. Jika dukungan suaranya maksimal,”ujarnya.

Munculnya gambar Whisnu Sakti dan Gus Hans sebenarnya penuh resiko. Sebab Partai Golkar sudah mengikuti koalisi besar mendukung Calon Wali Kota Machfud Arifin.

Selain itu, prediksi Dr. Dwi Prasetyo bahwa Partai Golkar tidak mempunyai alasan kuat  mencabut dukungan dari Machfud Arifin. Sebab Partai Golkar sudah masuk dalam koalisi besar pendukung Machfud Arifin.

Secara etika politik, ia menyebutkan sebagai kader parpol, tidak baik bila berbeda dwngn kebijakan politik induk parpolnya. Sebagai pengurus Golkar,  tidak baik bagi Gus Hans bila berbeda politik dengan parpolnya.

Sebab Partai Golkar sudah mendukung Machfud Arifin bersama 7 parpol lainnya. Seperti PAN, PKB, Nasdem, Gerindra, Demokrat, PPP, dan PKS. zal

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry