JOMBANG | duta.co – Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menggelar silaturahmi dengan putera-puteri pahlawan “Pendiri Bangsa” dan tokoh lintas agama di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur, Minggu (13/8). Tak seperti biasanya, kali ini Khofifah berbusana merah.

Putra-putri pahlawan yang hadir dalam acara tersebut antara lain, Meutia Farida Hatta putri Wakil Presiden pertama Indonesia Mohammad Hatta, Salahuddin Wahid Putra Pahlawan K.H. Wahid Hasyim, Agustanzil Sjahroezah cucu Pahlawan Agus Salim, Rohadi Subardjo putra pahlawan nasional Achmad Soebardjo, Handini Maramis Puteri dari A.A Maramis.

ACARA silaturahim Mensos Khofifah dengan putra-putri Pahlawan di Ponpes Tebuireng, Jombang. (DUTA/ NURUL YAQIN)

Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk merevitalisasi dan mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menurut Khofifah, menjadikan Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah kehidupan bangsa Indonesia yang sangat multikultur dan majemuk sudah tepat.

“Tugas kita saat ini adalah mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Khofifah.

Lebih lanjut, Khofifah mengatakan, munculnya disharmoni internal dan antar ummat beragama , intoleransi, radikalisme, dan keinginan mengganti Pancasila memunculkan keprihatinan dan kekhawatiran. Kondisi ini, katanya, berpeluang menjadi ancaman disintegrasi yang amat serius kepada NKRI.

Karena itu, lewat forum strategis ini Khofifah mengajak generasi bangsa memahami kembali arti semangat berindonesia. Aktualisasi ini, lanjut Khofifah juga sebagai respons atas kondisi nasional dan dunia dalam mewujudkan Indonesia berdaulat di bidang politik. Mandiri secara ekonomi  dan berkepribadian dalam kebudayaan.

“Tanpa Jawa kita bukan Indonesia. Tanpa Batak, Papua, Ambon, Sunda, Aceh, Manado kita bukan Indonesia. Begitu juga tanpa Islam, Katholik, Hindu, Budha kita semua bukan Indonesia. Sunnatullahnya Indonesia ya beragam dan diikat oleh Pancasila,” paparnya.

Dikatakan, moment peringatan HUT RI Ke 72 jangan hanya dimaknai sebagai seremonial tahunan saja. Lebih dari itu, harus dibuktikan dengan upaya kerja bersama seluruh elemen bangsa untuk kemajuan bangsa ini.

“Contohnya banyak, hal kecil misalnya tidak ikut menyebar kabar hoax yang berpotensi mengadu domba bangsa. Atau sebagai pegawai dengan bekerja jujur, bersih, dan profesional,” imbuhnya.

Khofifah menjelaskan, penjajahan saat ini bukan lagi dalam bentuk invasi militer. Karenanya, jangan sampai perjuangan itu hanya dimaknai dengan mengangkat senjata melawan penjajah saja.

“Perang saat ini adalah perang melawan kemiskinan, kebodohan, narkoba, korupsi, dan lain sebagainya,” imbuh Khofifah.

Sementara itu, para Putera-Puteri Pahlawan Nasional “Pendiri Bangsa” pun ikut menyerukan agar bangsa ini harus tetap bersatu memperkokoh kedaulatan bangsa dan menjadi tuan di negeri sendiri. Tidak hanya itu, mereka juga menyatakan bahwa Bhinneka Tunggal Ika adalah kekuatan bangsa yang harus dirawat dan dikembangkan demi kemajuan bangsa.

Kepada Pemerintah, mereka meminta untuk konsisten dalam menjalankan tugas yang diamanahkan dalam pembukaan UUD 1945 mengenai tujuan mendirikan negara. Termasuk diantaranya menjadi pelayan masyarakat yang profesional dan berintegritas.

“Untuk media, harus menjalankan fungsinya sebagai sarana pendidikan bangsa dan memberi informasi yang benar. Media harus mengisi jiwa rakyat dengan rasa kemanusiaan yang tinggi,” kata Meutia Hatta membacakan yang didaulat membacakan seruan kepada bangsa tersebut. (Rul)

 

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan