PRODUK: Anik di rumah produksi sekaligus ruang pamer dari aneka produksi hijab yang siap dipasarkan. (duta.co/wiwik)

SURABAYA | duta.co– Tidak ada bekal ilmu perguruan tinggi dalam bidang bisnis, justru modal utama sekaligus kunci sukses Anik Retnowati dan suaminya Danar Dono mengembangkan Keinarra Hijab eksis dan bangkit dari keterpurukan yakni nekad. Bondo nekad alias Bonek untuk berhasil menjadikan pegangan bagi pasangan berbisnis menjadi penyemangat.

Anik Retnowati didamingi suaminya Danar Dono mengisahkan perjalanan usaha hijab yang dirintisnya dari rumah kontrakan sekaligus rumah produksinya dan ruang pamer di Kendangsari gg XIV No 15 Surabaya. Dari rumah kontrakan inilah, pasangan Anik Retnowati didamingi suaminya Danar Dono menjalankan dua bisnis sekaligus yakni Hijab Keinarra dan jualan segonyimutsurabaya.com.

Meski usahanya masih skala menengah, satu konsep berani yang dilakukan yakni berbagi. Meski usahanya belum besar, Anik dan suaminya memutuskan untuk ikut program Shopping Charity  yang dikelola Rumah Zakat. Yakni setiap transaksi penjualan Hijab Keinarra disisihkan Rp 1.000,- untuk donasi.

“Saya sadar diantara keberhasilannya salah satunya bantuan peralatan jahit dan modal dari Rumah Zakat selain pastinya kehendak Allah. Karenanya sejak November 2017 Hijab Keinarra ikut program shopping charity. Kalau dulu jadi penerima modal, sudah saatnya menjadi muzakki yakni menjai penyumbang biar makin banyak UKM dan usaha kecil lain yang terbantu,” jelas Anik.

Dan Alhamdulillah jelas Anik meski diawal ikut program shopping charity jumlahnya sedikit, justru menjadi tantangan bagi Anik dan suaminya untuk bisa memacu transaksi sehingga bisa menyerahkan donasi dalam jumlah besar.

“Semangat inilah yang menjadi pelecut dan pemacu semangat untuk menggenjot kinerja Hijab Keinarra dan jualan nasi online. Malu juga kalau nyerahkan donasi tetapi jumlahnya kecil. Puncaknya pada bulan Ramadan lalu, omset Hijab Keinarra melambung tinggi dan pastinya berpengaruh juga pada donasi yang diberikan kepada Rumah Zakat,” jelas Anik.

Soal target omset Hijab Keinarra, Anik dan suaminya mematok omset bisa menjual 2.000 piece per bulan dan keuntungan Rp 10 juta per bulan. Selain hijab, Hijab Keinarra juga memproduksi  aneka baju muslim. Dan Alhamdulillah, ada pembeli dari Pekalongan yang rutin order dalam jumlah besar.

Untuk terus mengembangkan Hijab Keinarra dan jualanan nasi bungkus online Anik dan suaminya sepakat untuk menata manajemen SDM, menyiapkan diri  untuk lebih banyak ikut pameran dan pelatihan serta forecast dan budgeting sehingga lebih teratur, tertata dan tidak mudah goyah meski menghadapi persaingan di era terbuka seperti ini.

Anik mengisahkan usaha Hijab Keinarra mulai dirintis tahun 2013 lalu berbekal keyakinan bersama suaminya memberanikan diri mendirikan usaha produsen Hijab. Tujuanya selain buka usaha yang bisa dilakukan dari rumah juga dengan harapan mampu memberikan manfaat kepada masyarakat.

Usaha yang dirintis Anik Retnowati, perempuan asli Nganjuk 2 Maret 1984 ini bermula dari ketertarikan melihat hijab yang dikenakan  teman-teman akhwat dari Malaysia tampil sederhana tetapi tetap terlihat elegan (anggun).

Dari sini otak bisnisnya mulai berjalan bagaimana kalau diproduksi dan dipasarkan meski Anik mengaku tidak memiliki background sekolah tata busana dan menjahit. Yang lebih penting jelas Anik alasan yang terakhir bermimpi memiliki banyak waktu luang untuk bisa mewakafkan dirinya untuk umat disaat usahanya sudah auto pilot dan besar.

“Modalnya benar-benar nekad. Tidak punya bekal keahlian apapun tapi ingin menjadi produsen hijab yang persaingannya sangat ketat karena  berkaitan dengan trend yang harus update bila ingin bertahan dan sukses memenangkan persaingan,” jelasnya.

Modal Bonek, Otodiak dan Mandiri

Di awal memulai usahanya, banyak sekali kendala diantaranya alpha tentang pengetahuan kain dan pernak pernik lainnya. Semua berangkat dari nol dan awam akan dunia usaha. Bermodalkan status sebagai karyawan Anik dan suaminya terlalu sombong untuk mengambil langkah fasilitas dana bank sebagai modal usaha dengan jaminan slip gaji tiap bulannya.

“Dan ini kesalahan yang menjadi pelajaran berharga bagi saya dan suami untuk tidak lagi masuk lubang yang sama karena buruknya pengelolaan manajemen keuangan dari perusahaan yang baru dirintisnya,” kenang Anik didampingi suaminya mengisahkan.

Setiap akhir pekan Anik dan suami habiskan waktu survey kain dan jasa jahit, ditipu penjahit dan gelap mata dalam membeli bahan baku menjadikan kisah perjalanan usahanya sekaligus pembelajaran. Dan pada akhir tahun 2015 Anik dan suami mulai fokus untuk bisa membesarkan usahanya dengan proses produksinya bertempat di kontrakan.

Anik mulai kursus menjahit Bersama adik ipar dan memulai menerima orderan meskipun jumlahnya masih belum banyak.  Meski sudah berjalan, usahanya masih bisa dibilang stagnan bahkan terancam karena cash flow dan pengeloaan manajemen keuangan yang tidak bagus ala Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) tidak punya bekal sama sekali.

Disaat kondisi yang masih dibawah itulah, bertemu kembali dengan salah satu fasilitator dari Rumah Zakat. Diluar dugaan Rumah Zakat menawarkan bantuan berupa dana hibah, permodalan dan perlengkapan mesin jahit serta menghubungkan dengan komunitas bisnis yang memberinya upgrade ilmu bisnis.

Bersama komunitas bisnisnya akhirnya beliau memutuskan untuk fokus membangun brand Kafilah Hijab dan kini Keinarra sekaligus membenahi  SDM internal dan merajut jaringan di berbagai aspek dalam dunia bisnis.

Dikala usahana mulai menunjukkan hasil, awal tahun 2016 akhirnya suaminya resign dari perusahaan dan bertekad membesarkan brandnya bersama. Semua pesangon dari suami beliau gunakan untuk menutup utang yang sebelumnya dari dana bank yang beliau gunakan untuk merintis usaha di awal tahun 2013.

“Dengan resign suami, ini makin focus membesarkan brand Kafilah Hijab dan Keinarra meski dengan pertaruhan karena kini semua mengandalkan pendapatan dari usaha ini. Bismillah meski berat dan keputusan sudah diambil, saya dan suami siap dengan semua risikonya,” jelas Anik.

Fokus dan Merekrut Tim Marketing

Di tahun 2016 produksi sempat terkendala karena konsentrasi terpecah dan posisi masih belum memiliki tim lengkap (marketing).  Mulailah merekrut karyawan sebagai penjahit dan memproduksinya sendiri di kontrakan dengan kontrol langsung sehingga kualitas produksinya lebih baik. Dan di tahun 2016 mulai bergabung dengan instansi pemerintah sehingga memudahkan promo secara langsung dengan gratis.

Di awal tahun 2017 menempati kontrakan baru, menata ulang internal dan membenahi tim. Kontrakan baru menjadi rumah sekaligus workshop, ruang tamunya menjadi outlet dan salah satu dijadikan ruang produksi.

Dua bulan pertama tahun 2017 omset meningkat 70%, tetapi bulan berikutnya turun karena terkendala  dengan hak paten brand Kafilah. HAKI  menolak merk yang sudah didaftarkan tahun 2014 menjadikan Anik dan suami harus membagi tenaga, waktu, pikiran dan biaya lagi.

“Semua atribut harus diubah dan otomatis banyak internal harus di tata ulang. Merek produk hijab yang awalnya Kafilah Hijab, dengan banyak proses akhirnya berganti nama Hijab Keinarra. Dan Alhamdulillah merek Keinarra justru menjadi momen sekaligus pijakan menapaki sukses,” jelasnya.

Meski awalnya jelas Anik yang paling sulit dalam revolusi merk adalah edukasi ulang para costumer yang sebelumnya sudah menjadi pelanggan tetap beliau. Selama ini beliau memasarkan produk beliau secara offline (pameran) dan online melalui media Web serta sosial media seperti Facebook, Instagram, Whats app.

“Segmen pasar Hijab Keinarra menengah atas. Karenanya perkembangan model, trend dan bahan yang digunakan harus detil sehingga sesuai dan diterima pasar. Alhamdulillah meski perlu belajar, sudah bisa sesuai bidikan pasar,” jelas Anik.

Produk hijab keinarra diantaranya adalah Kerudung segi empat, Kerudung Phasmina, Kerudung Phasmina Instan, Kerudung Instan Bergo, Inner Kerudung, niqab, Inner Celana, Gamis dengan beberapa model pilihan, Rok celana yang memudahkan para muslimah dalam beraktifitas (fasilitas untuk tidak menyerupai laki-laki) serta Bross dari sisa kain perca.

LAYANAN: Salah satu konter layanan JNE di Kota Surabaya. (duta.co/wiwik)

Andalkan Jasa Logistik Lokal

Untuk melayani ritel, Keinarra mengandalkan layanan jasa logistic lokal. Diantaranya PT Pos, JNE, TIKI dan Wahana. Dari semua perusahaan logistic tersebut, Anik Retnowati punya penilaian yang berbeda sesuai pengalaman.

PT Pos milik pemerintah (BUMN) jadi keinarra berharap bisa support kinerja maupun finansial pemerintah. Dengan menggunakan jasa PT Pos ada sumbangsih dari kami UMKM berupa kepercayaan dan rasa terima kasih kami untuk negeri.

“Selain itu pos Alhamdulillah sudah ada fasilitas jemput paket meskipun 1pcs (pick up paket)

Keinarra termasuk yg bangga karena masukkan yg diberikan kepada POS Indonesia di realisasikan utk pick up barang, bangga dengan pegawainya yg sepuh tapi berkenan mengikuti arus zaman,” jelasnya.

Sementara untuk JNE, sebagai pilihan alternatif selain POS karena punya Awarnes terhadap konsumen, layanan service yang tepat waktu.

“Cuma JNE masih belum bisa pick up kalau jumlahnya tidak banyak dan itu butuh negosiasi tersendiri. Padahal dengan banyaknya pengusaha online, menangkap peluang pasar dan jemput bola strategi jitu memenangkan persaingan,” ujarnya.

Sudah seharusnya JNE memberikan layanan khusus kepada onlshop dengan harga yang lebih murah dari layanan regular. Potensi pasarnya sangat besar dan peluang besar bagi perusahaan jasa logistic seperti JNE untuk bersaing dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

“Jangan sampai justru perusahaan logistic asing yang menangkap peluang. Karena banyak sekali perusahaan jasa logistic dalam dan luar negeri yang sudah hadir di kota bahkan mulai menyasar kota kecamatan dan desa,” jelasnya.

Sedangkan untuk TIKI sebagai pilihan alternatif karena jangkauan wilayah yang susah dengan biaya yang lebih terjangkau dibanding POS. Daerah-daerah pelosok yang sulit dijangkau biasanya alternatif ekspedisi nya POS atau TIKI cuma biayanya biasanya lebih murah TIKI.

Sedangkan untuk Wahana pilihan ekspedisi yang paling ramah di kantong dan paling murah. Hanya saja dari beberapa testimoni teman-teman olshop dan pembeli, wahana kadang kurang amanah. “Alhamdulillah selama tracking Keinarra belum pernah mengalami ada kehilangan atau kerusakan barang melalui ekspedisi ini,” jelasnya. (imam ghozali)

 

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.