AMBON | duta.co – Pemerintah Indonesia saat ini sedang bekerja keras untuk memberantas stunting. Dalam istilah kesehatan, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita, akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya.

“Pemerintah sekarang ini sedang serius mengajak warganya untuk meneliti kondisi keluarga kita, kondisi sekitar, apakah ada yang terkena stunting, dan kemudian bagaimana kita menanggulangi hal ini,” ungkap Nabil Haroen, kepada media ini, Kamis (24/11/2022).

Menurut Nabil Haroen stunting bisa ditangani dengan pencegahan dini. “Pemeriksaan rutin kepada dokter atau tenaga medis, peningkatan gizi, dan perbaikan sanitasi, akan membantu pencegahan stunting,” demikian ungkap Nabil Haroen di hadapan ratusan warga di Kabupaten Buru, Pulau Buru, Provinsi Ambon.

Nabil Haroen menyitir data dari Kemenkes yang menjadi rujukan untuk menganalisa kondisi stunting di Indonesia. Data dari Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan, prevalensi balita yang mengalami stunting di Indonesia sebanyak 24.4 persen pada tahun 2021.

“Data Kemenkes menunjukkan, bahwa hampir 25 persen, atau seperempat bayi di Indonesia ini berpotensi terkena stunting. Ini sesuatu yang berbahaya, dampaknya fatal untuk masa depan bangsa jika tidak segera ditangani. Stunting ini bisa menjadi bom waktu 20-30 tahun mendatang,” jelas Nabil Haroen, yang juga anggota Komisi IX DPR RI.

Lebih lanjut, Nabil Haroen menegaskan bahwa pemerintah mengajak warga untuk bersama-sama mengetahui gejala stunting, bagaimana mencegah dan juga memberi pemahaman kepada masyarakat.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita mengetahui gejala stunting, bagaimana kondisi bayi yang terkena penyakit ini. Tidak perlu malu, kalau memang terkena stunting harus konsultasi pada dokter atau tenaga medis terdekat, agar mendapat perawatan terbaik. Masyarakat juga tidak perlu menghakimi, justru kita harus membantu keluarga mereka yang terkena stunting,” ungkapnya dalam rangkaian sosialisasi KIE dan Program Bangga Kencana, di Kabupaten Buru (19/12).

“Hal yang paling utama adalah 1000 hari kelahiran. Artinya usia bayi sampai 3 tahun menjadi sangat krusial. Ini periode tumbuh yang penting yang harus menjadi perhatian bersama. Kita punya ikan yang melimpah, punya sayuran di pekarangan yang cukup, makanan yang tumbuh di ladang. Tidak ada alasan untuk anak Indonesia kekurangan gizi. Kita yang harus memahami bagaimana memberi gizi terbaik yang seimbang, untuk anak-anak kita,” ungkap Nabil Haroen, yang juga Ketua Umum Pagar Nusa Nahdlatul Ulama.(*).

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry