PETAK UMPET: Permainan petak umpet yang eksis di seluruh dunia (duta.co/dok)

SURABAYA | duta.co  – Dunia anak sekarang tidak bisa dilepaskan dari dunia permainan. Bermain dan bermain memang menjadi dunia yang menyenangkan  bagi anak-anak. Tidak ada waktu yang lepas dari permainan.

Bedanya kalau 10 tahun lalu, dunia permainan anak-anak lebih banyak gerak seperti berlari dan aneka jenis permainan yang menggunakan gerak fisik. Seperti gobak sodor, kasti , suri gendem, sepak tekong dan sejenisnya. Namun dalam lima tahun terakhir, anak-anak tetap bermain, bedanya kini lebih banyak menggunakan piranti teknologi seperti di Handphone Android, PC dan laptop.

Tentu saja gerak fisik yang selama ini membuat anak-anak cukup gerak dan menjadi sehat, kini sebaliknya. Yang gerak hanya jari jemari memainkan Handphone, PC dan laptop.  Jenis permainnya pun makin banyak, tidak saja datang dari dalam negeri melainkan lebih banyak dari luar negeri. Sebut saja Mobile Legend  yang sangat dikenal dengan permainan laga, pertempuran yang dianggap tidak mendidik dan tidak cocok buat anak-anak.

Bagaimana kita bisa membatasi semua itu agar anak-anak tidak kecanduan bermain games dan tetap mengenal dan memainkan permainan tradisional yang banyak menggunakan gera badan. Ada tiga cara menurut penulis yang bisa dilakukan orangtua agar tetap bisa membentuk karakter anak tanpa menghilangkan kebudayaan asli Indonesia. yakni Kenalkan Permainan Tradisional kepada Anak, Berdamai dengan Games Kekinian dan Batasi Penggunaan Gawai dan Proteksi Bermain Games

1.Kenalkan permainan tradisional kepada anak

BALAP KARUNG : Jenis permainan anak-anak yang banyak dilombakan saat perayaan 17 Agustus. (duta.co/dok)

Permainan anak-anak tradisional yang kita kenal selama ini jelas Lisfaatin, Guru Sekolah Dasar (SD) di Druju Sumbrmanjing Wetan Kabupaten Malang mengatakan tidak hanya melatih anak bergerak, berlari dan sejenisnya, melainkan juga membentuk karakter. Contohnya, permainan Betengan mengajarkan anak untuk mampu mengatur stategi dalam kelompok.

“Strategi  untuk memilih siapa yang menjadi penyerang, bertahan dan mengatur serangan secara tidak langsung. Permainan ini sangat sering dilakukan ketika istirahat di sekolah, di tempat pengajian atau ketika libur,” jelas Lisfaatin.

Dari permainan ini, anak secara tidak langsung membuat strategi menghadapi lawan yang jumlahnya sama sesuai kelompok yang dipilih. Adu kecepatan lari, kekuatan mempertahankan benteng dan mengatur serangan menjadikan anak mampu melatih sesuai dengan karakter masing-masing.

“Di daerah pinggiran masih banyak anak-anak yang memainkan jenis permainan ini. juga banyak permainan tradisional lainnya. Kita juga mengenalkan beberapa permainan tradisional lain dalam waktu tertentu sehingga anak menjadi tahu dan berminat memainkannya,” tegas Lisfaatin.

Mengenalkan permainan tradisional ternyata bisa lewat handphone. Diantaranya

  1. Balap Karung. Salah satu permainan yang jadi perlombaan ikonik di setiap perayaan hari kemerdekaan Indonesia ini adalah permainan sederhana yang susah-susah gampang di dunia nyata. Para pemain harus menyinkronkan gerakan meloncat dengan tetap mempertahankan posisi karung agar tidak membuat permain terjatuh.
  2. Tarik Tambang. Masih permainan yang jadi perlombaan ikonik di hari kemerdekaan, yaitu Tarik Tambang. Di dunia nyata permainan ini dimainkan dengan mengandalkan kekuatan fisik para pemainnya. Menarik tambang dari tim lawan bukanlah perkara mudah apalagi jika tim lawan lebih kuat.
  3. Makan Kerupuk. Yang terakhir dari rangkaian lomba 17 Agustusan nih, apalagi kalo bukan Makan Kerupuk. Rilis dengan nama yang sama yaitu “Makan Kerupuk” dibawah pengembang Nurmatams. Permainan ini dibuat sederhana, pemain hanya perlu makan kerupuk secepat dan sebanyak mungkin untuk menang.

4.Egrang (Jajangkungan). Pernah main egrang gan? Itu loh permainan tradisional dari dua bilah bamboo yang dimodifikasi dengan diberi pijakan. Ane sih jujur aja belom pernah main egrang asli karena lumayan sulit. Sekilas info soal Egrang, permainan satu ini aslinya dari Jawa Barat gan, kalo di daerah asalnya lebih terkenal dengan nama “Jajangkungan”.

  1. Gobak Sodor. Nah ini nih salah satu permainan tradisional yang bikin ane suka kabur ke lapangan kalo di suruh belajar. Dulu gak punya gadget juga asik-asik aja soalnya temen banyak, kadang malah main sama anak kampung sebelah dan baru kenalan pas mau main permainan ini.
  2. Congklak (Dakon).

Ini juga salah satu mainan favorit ane, kalo yang satu ini sih biasa sama temen-temen cewe aja. Di Playstore, game ini lumayan banyak dari pengembang yang berbeda-beda. Gansis bisa pilih sesuai keinginan, permainannya sih sama aja tinggal mindahin biji dari lubang permainan (sesuai aturan congklak pastinya).

  1. Bekel. Gak beda jauh sama congklak. Game ini juga identik sama permainan anak perempuan. Cara mainnya mudah, pemain hanya perlu memantulkan bola karet yang digunakan, selama bola memantul diudara pemain harus mengambil biji yang tersebar di lantai.

 

Berdamai dengan games kekinian

BATASI : Kecanduan mengunakan gawai berbahaya bagi anak. Pemerintah mengeluarkan regulasi pembatasan gawai pada anak. (duta.co/dok)

Teknologi dapat membantu anak mempelajari banyak hal. Orangtua jangan phobia dan anti dengan teknologi yang memang sedang trend an tidak bisa dilepaskan dari genggaman anak-anak milenial. Dimana mereka tidak bisa dilepaskan dengan games kekinian dari Handphone Android yang dimiliki, PC ataupun laptop. Bahkan kini permainan games menjadi salah satu jenis olahraga katagori e-sport yang bisa mendatangkan uang bila digeluti secara maksimal.

Yang bisa dilakukan orangua yakni dengan mengenalkan dan memilihkan games edukasi kepada anak sesuai umurnya. Berikut ini aplikasi game edukasi anak terbaik yang bisa didownload di IOS dan Android untuk menemani anak  usia 1-4 tahun Anda belajar.

  1. Memecahkan Balon. Warna balon yang menarik akan mencuri perhatian anak Anda. Permainan ini juga dapat digunakan sebagai media untuk mengenalkan warna padanya.
  2. Petak Umpet. Aplikasi edukasi anak ini akan mengajari anak untuk belajar berpikir, mengetahui nama-nama benda, warna, dan menghitung. Untuk permulaan, dampingi anak bermain aplikasi ini.
  3. Potong Tali. Aplikasi ini mengajarkan anak untuk berpikir strategis. Selain itu, suara-suara dan gambar yang ada di dalam permainan ini juga sangat menyenangkan untuk anak-anak.
  4. Belajar bentuk. Anak akan belajar mengidentifikasi bentuk secara lisan dan pandangan. Selain itu, ia juga bisa belajar menyebutkan warna yang ada di dalam permainan ini.
  5. Belajar alphabet. Anak-anak bisa belajar alpabeth sejak dini.
  6. Menggambar. Aplikasi ini akan mengasah motorik tangan dan kreativitas anak-anak. Tanpa perlu buang-buang kertas dan coret tembok, anak-anak tetap bisa menyalurkan hobi corat-coretnya.
  7. Puzzle. Adah kemampuan berpikir anak lewat permainan puzzle. Berbagai bentuk menarik akan ia temukan dalam aplikasi edukasi anakini.
  8. Mewarnai. Saatnya mengenal warna dan bentuk untuk merangsang kreativitasnya. Aplikasi edukasi anakini bisa dipakai untuk berlatih mewarnai saat motoriknya belum terlalu kuat berinteraksi dengan alat-alat mewarnai dan kertas.
  9. Mengaji. Mengajari anak membaca huruf-huruf Hijaiyah bisa dimulai sejak dini. Jika si kecil masih sering merobek kertas, sarana digital bisa dicoba untuknya.
  10. Nursery Song. Dengan aplikasi edukasi anak ini, lagu kesukaan anak-anak tersedia dalam satu aplikasi tanpa perlu repot memilihnya dari YouTube. Anda tidak perlu khawatir anak akan nyasar ke saluran yang tak sesuai usianya.
  11. Dongeng. Dongeng dapat memperkaya kosa kata dan mempperkaya imajinasi anak. Aplikasi dongeng dalam bahasa Indonesia telah dibuat dengan kulitas yang semakin baik sehingga bisa jadi sarana belajar yang efektif untuk anak.
  12. Menari. Aplikasi edukasi anak yang satu ini akan Mengasah kecerdasan kinestetik anak bisa dimulai dari sini. Anak juga akan belajar mengendalikan motorik dan menyesuaikan irama lagu dengan gerakan tubuhnya. Aplikasi ini juga bisa menjadi tes pendengaran untuk mereka.

 

Batasi Penggunaan Gawai dan Proteksi bermain games

MASAK : Mengajari anak memasak, salah satu cara membentuk karakter dan tanggungjawab. (duta.co/wiwik)

Empat kementerian sepakat membatasi penggunaan gawai di satuan pendidikan untuk melindungi anak-anak dari dampak buruknya. Semua satuan pendidikan dan orangtua murid diimbau untuk melarang anak membawa gawai.

Keempat kementerian yang menyepakati pembatasan penggunaan gawai oleh anak-anak yakni Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), serta Kementerian Agama (Kemenag).

“Saya mengimbau masyarakat khususnya orangtua dan anak serta semua satuan pendidikan, baik sekolah umum maupun madrasah, dapat membatasi penggunaan gawai. Gawai digunakan hanya untuk mengunduh mata pelajaran tertentu. Ini untuk mencegah anak-anak kita mendapatkan infomasi yang tidak layak, seperti pornografi, radikalisme, kekerasan, hoaks, SARA, dan lainnya,” kata Yohana dalam pernyataan bersama di Kantor Kementerian PPPA, Jakarta beberapa waktu lalu.

Menteri PPPA mengatakan penetrasi penggunaan gawai ataupun perangkat digital lainnya yang tinggi di kalangan anak saat ini minim pengawasan. Akibatnya, penggunaan gawai cenderung ke arah negatif dan membahayakan anak.

Berdasarkan hasil kajian Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian PPPA pada 2016, lanjutnya, 70% anak membawa gawai ke sekolah. Sekitar 61% di antara mereka menggunakan gawai untuk keperluan chatting dan bermain gim, 29% digunakan untuk mencari informasi terkait mata pelajaran, dan hanya 10% yang menggunakannya untuk keperluan komunikasi dengan orangtua atau teman.

Masih menurut kajian yang sama, lanjut Yohana, durasi penggunaan gawai pada anak juga memprihatinkan. Sebanyak 60% anak menggunakan gawai selama lebih dari 3 jam, 25% anak menggunakan gawai selama 1-2 jam, dan hanya 15% anak yang menghabiskan waktu kurang dari 1 jam menggunakan gawai.

Ketegasan penggunaan gawai anak-anak sangat bergantung pada perang orangtua dalam menentukan keberhasilan. Seringkali orangtua tidak mau repot dengan tingkah anak-anak dengan memberikan gawai di usia yang seharusnya tidak perlu. Misalnya usia setahun, bayi pasti aka diam ketika diberikan gawai karena aneka warna dan ada bunyinya yang menarik.

“Padahal tanpa sadar justru orangua memberikan racun kepada anak-anak. Bila terus menerus dilakukan, akan menjadi candu dan suit untuk dipisahkan dari gawai. Padahal banyak aspek yang justru merusak. Diantaranya malas gerak dan mata yang terfokus pada layar gawai yang kecil membua anak-anak sekarang harus menggunakan kaca mata karena minus dan siinder,” kata Indra Rosyidah, ibu rumah tangga yang tidak lelah untuk megingatkan  ketiga anaknya dalam menggunakan gawai.

Indras Rosyidah memiliki cara pembatasan anak dalam menggunakan gawai yakni belum diberikan gawai kalau belum masuk SMP. Dengan tidak memiliki gawai secara tidak langsung kalau ingin memainkan gawai harus pinjam orangtua.

“Yang usia SMP-pun tidak lupa untuk terus diingatkan kala sudah terlalu lama menggunakan gawai. Meski saat ini penggunaan whatsap sudah lumrah untuk tugas Pekerjaan Rumah (PR) ataupun koneksi dengan teman sekolah,” jelasnya.

Tugas pembentukan karakter anak tidak semata bergantung pemerintah, masyarakat dan keluarga yang justru berperan sangat penting. Dari keluargalah, karakter anak akan terbentuk menjadi karakter yang sesuai.

Muhadjir Effendy Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyampaikan terdapat tiga jalur pendidikan, yakni jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal. Ketiga jalur pendidikan tersebut diposisikan setara dan saling melengkapi.

“Masyarakat diberikan kebebasan untuk memilih jalur pendidikan, dan pemerintah memberikan perhatian besar dalam meningkatkan ketiga jalur pendidikan tersebut,” terang Mendikbud.

“Kita yakin bahwa kebudayaan yang maju akan membuat pendidikan kita kuat. Begitu pula sebaliknya, jika pendidikan kita subur dan rindang, akar kebudayaan akan lebih menghujam kian dalam di tanah tumpah darah Indonesia,” kata Muhadjir.

Untuk memajukan kebudayaan, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Undang-undang tersebut mengamanatkan bahwa pemajuan kebudayaan memerlukan langkah strategis berupa upaya-upaya pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan guna mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. (imam ghozali)

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.