Gambar atas, tampak ribuan demonstran di depan Gedung Bawaslu, (gambar bawah) ada yang selfi dengan sejumlah polisi. (FT/IST)

JAKARTA | duta.co – Urat Takut Sudah Putus! Begitu teriak salah seorang demonstran sambil mengepalkan tangan. Massa terus bergerak dari berbagai penjuru menuju gedung Bawaslu. Tak ketinggalan, ribuan nahdliyin masuk dalam barisan, ada yang mengibarkan bendera NU dalam aksi menolak kecurangan ini.

“Ratusan kiai dan habaib dari Jawa Timur siang ini (Rabu 22/5 red.) di Jakarta, akan bersikap menghadapi pemilu curang. Membiarkan kecurangan Pilpres 2019, sama dengan membiarkan NKRI ‘terbang melayang’ dalam kekuasaan pencundang. Umat Islam harus bersikap tegas, jihad melawan kemunkaran,” demikian sumber duta.co, Rabu (22/5/2019).

Kini, jelas sumber tadi, para kiai dan habaib itu telah menggelar halaqah di Jakarta. Tempatnya dirahasiakan. Mereka mengkaji dalil-dalil yang memerintahkan umat Islam melawan segala bentuk kemunkaran. Ini sekaligus sebagai jawaban hasil Bahtsul Masail PWNU Jatim yang menyebutnya makar. “Kiai-Habaib menolak NU dijadikan ‘stempel basah’ penguasa,” tegasnya.

Berkibarnya bendera NU, pertanda banyaknya nahdliyin ikut turun gunung. Mereka bukan saja dari Jawa Timur, tetapi juga dari luar pulau Jawa. Tampak pula sejumlah kiai berpengaruh dari Pulau Madura. “Ya! Madura memimpin di Jakarta,” begitu komentar warganet yang terbaca di grup WA ‘Khitthah Nahdliyyah’.

Tak kalah menarik, perbincangan di media sosial juga membahas seragam polisi yang tampil ‘garang’ seperti raksasa Avengers. Bahkan ada yang menanyakan apakah ini seragam standar Polri? “Benarkah Polisi punya seragam kayak gini? Kalau tidak, bisa disebut pengkhiatan terhadap bangsa dan Negara,” begitu tanya seorang warganet.

Informasi di medsos memang kian deras. Dibutuhkan kejernihan saat membacanya. Begitu juga gambar-gambar yang tampil, butuh kehati-hatian untuk menyikapinya.  (net)