Farah Nuriannisa, S.Gz., M.P.H.

Dosen Program Studi S1 Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat

SAAT ini, berbagai negara di dunia, terutama negara berkembang, sedang berjuang untuk melawan triple burden nutrition. Triple burden ini merupakan kondisi terjadinya tiga macam malnutrisi, yaitu undernourished (gizi kurang), overweight/obesity (kegemukan/obesitas), serta defisiensi mikronutrien yang terjadi secara bersamaan pada suatu populasi.

 Adanya triple burden ini dapat menyebabkan terhambatnya pembangunan pada negara akibat penurunan produktivitas. Karena itu, penting untuk menurunkan dan mencegah terjadinya triple burden disease ini. Salah satunya adalah dengan mengetahui pola dan kecukupan konsumsi dalam suatu keluarga.

Konsumsi atau asupan gizi dalam keluarga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah faktor kesejahteraan keluarga atau faktor ekonomi.

Secara garis besar, BKKBN membagi dua macam keluarga berdasarkan kesejahteraaannya, yaitu keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera. Perbedaan faktor ekonomi pada kedua klasifikasi keluarga tersebut dapat menyebabkan permasalahan gizi yang berbeda pula.

Seperti yang telah kita ketahui, semakin sejahtera tingkat ekonomi suatu keluarga, maka semakin baik pilihan makanan yang dapat dikonsumsi, baik secara kualitas maupun kuantitas, sehingga faktor risiko obesitas juga akan meningkat.

Hal ini didukung pula oleh gaya hidup sedentary yang “bertujuan memudahkan” hidup kita, misalnya adanya teknologi dan media komunikasi yang makin canggih sehingga kita menjadi lebih malas bergerak.

Namun, apakah selalu seperti itu ? Apakah hanya orang yang berstatus ekonomi menengah atau menengah ke atas saja yang berisiko mengalami obesitas ? Beberapa penelitian menyebutkan bahwa tingkat ekonomi rendah juga dapat berdampak pada kejadian overweight atau obesitas.

 Menurut Nacker & Appelhans (2013), adanya keterbatasan ekonomi menyebabkan keluarga ekonomi menengah ke bawah cenderung mempertimbangkan harga bahan makanan sebagai faktor utama pemilihan bahan makanannya.

Sayangnya, bahan makanan dengan harga murah umumnya merupakan bahan makanan padat energi dengan kandungan gizi rendah, seperti frozen food, soft drink, fast food, camilan manis, dan sebagainya.

Bahan makanan padat energi dengan kandungan zat gizi rendah merupakan makanan yang bersifat obesogenik, atau menyebabkan terjadinya obesitas, sehingga pada keluarga dengan berpendapatan rendah juga dapat terjadi obesitas akibat pemilihan bahan makanan yang salah.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Kaur, Lamb & Ogden (2015), disebutkan bahwa pola konsumsi pada keluarga dengan pendapatan sangat rendah, misalnya pada keluarga dengan pekerjaan tidak tetap (buruh atau tukang serabutan, pemulung dan sebagainya), cenderung fluktuatif karena terdapat periode tertentu dimana makanan yang dimiliki sangat terbatas.

Hal ini menimbulkan risiko binge eating atau overeating pada saat keluarga tersebut memiliki uang lebih sehingga berdampak pada peningkatan berat badan yang mengakibatkan terjadinya obesitas.

Selain dari pola konsumsi atau pemilihan bahan makanan yang salah, obesitas pada keluarga berpendapatan rendah juga dapat terjadi karena keterbatasan pilihan untuk melakukan aktivitas fisik.

Hal ini serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Rukmana & Indawati (2014), dimana keluarga dengan pendapatan yang rendah biasanya tidak mampu untuk menyediakan berbagai fasilitas bermain dan beraktivitas fisik untuk anak-anaknya sehingga berisiko terhadap terjadinya obesitas dan keterlambatan perkembangan motorik anak.

Individu dewasa dengan tingkat ekonomi rendah juga memiliki aktivitas fisik yang rendah karena tidak memiliki motivasi, waktu luang, dan kurangnya pengetahuan terkait aktivitas fisik.

Berdasarkan penjelasan di atas, bukan tidak mungkin masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah juga mengalami obesitas.

Beberapa hal yang mungkin dapat dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah terjadinya obesitas pada masyarakat adalah dengan program pemantauan status gizi secara berkala di fasilitas kesehatan (Puskesmas atau Posyandu).

Juga disertai dengan pemberian edukasi mengenai pemilihan bahan makanan yang tepat, pembatasan iklan makanan terutama makanan tinggi lemak, natrium, dan gula tambahan.

Terutama saat peak time program televisi untuk anak (Minggu pagi ketika banyak kartun di televisi), serta penambahan fasilitas untuk beraktivitas fisik secara gratis, misalnya memperbanyak taman kota atau lapangan.

Seperti yang kita tahu, “SEHAT ITU MAHAL”, oleh karena itu kita harus proaktif melakukan upaya preventif terhadap masalah kesehatan, misalnya dengan mencegah obesitas. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry