Siswa SMAN 1 Kebomas belajar jurnalistik bersama tim Prodi Ilmu Komunikasi Unesa (30/8) (dok/duta.co)

GRESIK | duta.co – Adila Fatkhul Janah, siswi SMAN 1 Kebomas Gresik, tampak antusias mengutak-atik kamera sesuai arahan Rio Febriannur Rachman, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Setelah dianggap telah mendapat angle yang pas, dia menekan shutter. Wajahnya sumringah setelah melihat di layar bahwa hasil jepretannya memuaskan.

Adila dan sekitar 40 siswa anggota ekstrakulikuler (ekskul) jurnalistik sekolah tersebut tengah mendapatkan pelatihan jurnalistik dari tim Unesa pada Sabtu, 30 Agustus 2025. Tim yang hadir selain Rio adalah Mochammad Masrikhan, Yasmin Dian Ramadaniya, dan Yan Roswana. Acara pelatihan jurnalistik tersebut merupakan rangkaian Pengabdian Kepada Masyarakat Prodi Ilmu Komunikasi Unesa yang bertajuk Building Cooperation and Becoming a Professional Journalist.

“Kami berharap mendapatkan wawasan dan ide segar seputar jurnalistik yang bermanfaat bagi para siswa,” Lilis Hargiani Adi, Waka Kesiswaan SMAN 1 Kebomas. “Semoga dengan kegiatan semacam ini kemitraan antara sekolah kami dan Unesa bisa terus terjalin berkelanjutan,” imbuhnya.

Sementara itu, Masrikhan meyakini bahwa remaja memiliki minat dan bakatnya masing-masing. Mereka yang sudah memilih aktif di ekskul jurnalistik pasti berpeluang menjadi jurnalis yang hebat. “Selalu berlatih dan belajar adalah kunci keberhasilan,” kata dosen Ilmu Komunikasi Unesa tersebut.

Selain soal fotografi, para pelajar juga diajari tentang menulis berita. Mulai dari pemilihan judul, akurasi tulisan, hingga komponen-kompenen 5W+1H serta nilai berita. Tentu saja, diberikan pula materi tentang ide-ide konten jurnalistik sekolah.

“Jurnalisme kreatif adalah tuntutan zaman,” kata Rio. Penulis buku Menyikapi Perang Informasi yang pernah selama 3,5 tahun menjadi jurnalis di Jawa Pos ini menambahkan, ruang publikasi di saman sekarang sudah beraneka ragam. Perusahaan media tidak hanya memanfaatkan platform Instagram, TikTok, dan sebagainya, sebagai pemantik publik agar melirik konten jurnalistiknya.

“Media-media bahkan memasang produknya secara komplit di platform-platform itu. Di caption maupun slide-slide Instagram, tulisan maupun konten audio visual disampaikan ke masyarakat,” ungkapnya.

Sekolah bisa mengikuti cara itu. Konten-konten tidak lagi hanya disebarkan melalui ruang konvensional di majalah dinding, buletin sekolah, dan poster. Lebih dari itu, informasi edukatif maupun prestasi sekolah bisa dikemas secara apik melalui platform media sosial kekinian.

Melalui kegiatan ini, diharapkan kapasitas dan kualitas sumber daya manusia, khususnya siswa-siswi yang tergabung dalam ekstrakurikuler jurnalistik dapat meningkat secara signifikan. Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk tidak hanya memahami konsep-konsep jurnalistik modern, tetapi juga mengasah kemampuan mereka dalam memproduksi karya jurnalistik yang kreatif, kritis, dan relevan dengan perkembangan era digital.

Kegiatan ini juga dimaksudkan sebagai wadah pembentukan karakter siswa agar lebih beretika dalam mengelola informasi. Dengan demikian, pelatihan tidak hanya menekankan keterampilan teknis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya tanggung jawab sosial dalam praktik jurnalistik. (ekp)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry