Oleh Bey Arifin*

DI tengah arus globalisasi yang kian kompetitif, umat Islam menghadapi tantangan serius: krisis kepercayaan diri peradaban. Banyak yang terjebak dalam posisi sebagai konsumen pengetahuan, bukan produsen gagasan.

Dalam konteks ini, pengalaman Iran sebagai “Empire of Mind” kekuatan berbasis intelektualitas menjadi cermin penting untuk dibaca secara jernih dan kritis.

Iran tidak semata tampil sebagai entitas politik, tetapi sebagai simpul peradaban yang meneguhkan kekuatan ilmu, filsafat, dan spiritualitas. Sejak era klasik, wilayah Persia telah melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Al-Farabi, Ibn Sina, hingga Mulla Sadra.

Mereka bukan hanya mengembangkan tradisi keilmuan Islam, tetapi juga memberi kontribusi signifikan bagi peradaban dunia. Inilah bukti bahwa kekuatan sejati umat tidak selalu bertumpu pada dominasi politik atau militer, melainkan pada kedalaman berpikir dan ketahanan intelektual.

Dalam perspektif Nahdlatul Ulama, kekuatan seperti ini sejatinya bukan hal baru. Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari sejak awal telah menegaskan bahwa kemuliaan umat bertumpu pada ilmu dan adab. Dalam karya-karyanya, beliau menempatkan ilmu bukan sekadar alat, tetapi sebagai fondasi utama tegaknya agama dan peradaban.

Karena itu, kebangkitan umat tidak bisa dimulai dari euforia politik semata, tetapi harus berakar pada penguatan tradisi keilmuan.

Konsep Empire of Mind sejatinya memiliki resonansi kuat dengan tradisi pesantren di Indonesia. Pesantren bukan hanya pusat pendidikan agama, tetapi juga laboratorium pembentukan karakter dan pemikiran.

Di dalamnya, santri dilatih untuk menguasai turats (khazanah klasik), sekaligus dituntut mampu merespons realitas zaman. Di sinilah letak keunggulan model keilmuan NU: tidak tercerabut dari akar, namun tetap adaptif terhadap perubahan.

Namun demikian, ada satu pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan umat Islam hari ini, yaitu mengatasi inferioritas mental. Rasa minder terhadap peradaban lain sering kali membuat umat kehilangan kepercayaan diri untuk tampil sebagai subjek peradaban.

Padahal, sejarah Islam baik di dunia Arab maupun Persia adalah sejarah kejayaan ilmu pengetahuan. Mengingat kembali warisan ini bukan sekadar romantisme, melainkan langkah strategis untuk membangun kembali kesadaran kolektif umat.

Dalam konteks Indonesia, NU sebenarnya telah mengembangkan model soft power yang khas melalui pendekatan Islam Nusantara.

Pendekatan ini menekankan dakwah kultural, penghargaan terhadap tradisi lokal, serta komitmen pada nilai-nilai moderasi.

Dengan cara ini, NU tidak hanya menjaga harmoni sosial, tetapi juga membangun pengaruh intelektual dan moral di tingkat global. Ini adalah bentuk lain dari Empire of Mind, yang tidak hegemonik, tetapi inklusif dan berakar kuat pada budaya.

Pelajaran penting yang dapat diambil dari pengalaman Iran dan tradisi NU adalah bahwa kekuatan umat harus dibangun dari dalam: melalui ilmu, identitas, dan kepercayaan diri. Umat Islam tidak cukup hanya menjadi pengikut arus global, tetapi harus berani menjadi penentu arah peradaban.

Untuk itu, penguatan literasi, revitalisasi tradisi keilmuan, serta integrasi antara ilmu agama dan sains modern menjadi agenda yang tidak bisa ditunda.

Pada akhirnya, kebangkitan umat Islam bukanlah tentang siapa yang paling keras bersuara, tetapi siapa yang paling dalam pemikirannya.

Iran memberikan contoh tentang pentingnya kekuatan intelektual, sementara NU menawarkan jalan moderasi yang berakar pada tradisi. Ketika keduanya dibaca secara proporsional, umat Islam memiliki peluang besar untuk bangkit bukan hanya sebagai kekuatan, tetapi sebagai peradaban yang memberi makna bagi dunia.(*)

*Bey Arifin adalah Pengurus IKAPETE Jombang.
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry