Arif Helmi Setiawan, S.Kep., Ns., M.Kep

Dosen Fakultas Keperawatan dan Kebidanan

PADA artikel sebelumnya sudah dibahas tentang model pembelajaran klinik, telah dijabarkan bahwa pembelajaran klinik harus mempertimbangkan beberapa aspek. Antara lain karakteristik peserta didik, kemampuan pengamatan, proses berpikir, dan perilaku belajar peserta didik.

Pembelajaran klinik di wahana klinik merupakan proses bagi peserta didik untuk mendapatkan pengalaman langsung berinteraksi dengan pasien, tenaga kesehatan lain dan beradaptasi dengan lingkungan praktik.

Peran pembimbing klinik sangat penting dan memberikan pengaruh besar terhadap hasil belajar mahasiswa, hal ini disebabkan pembimbing klinik merupakan role model bagi mahasiswa yang mengikuti proses pembelajaran klinik, sehingga apapun yang dilakukan oleh pembimbing klinik menjadi bagian yang diamati, dialami dan dimaknai sebagai hasil belajar oleh mahasiswa.

Selama ini kebanggaan mahasiswa saat pembelajaran klinik ditunjukkan pada banyaknya perasat atau ketrampilan yang didapat pada aspek tindakan kolaboratif seperti memberikan obat injeksi, memberikan oksigen, memasang infus dan merawat luka.

Jarang sekali mahasiswa yang menyampaikan bahwa mereka pernah mengalami tindakan independen seperti membantu menyuapi pasien, memandikan pasien, menyisir rambut pasien, dan membantu buang air kecil maupun besar.

Hal inilah yang menimbulkan pertanyaan penulis mengapa mahasiswa lebih menunjukkan kemampuan pada tindakan kolaboratif dibandingkan dengan tindakan independen perawat. Mungkin mahasiswa perlu diingatkan kembali untuk memahami makna caring dan curing, apakah target kompetensi yang diharapkan hanya pada aspek curing saja tanpa caring?.

 Selama belajar peran sebagai care giver di wahana klinik, seharusnya asuhan keperawatan yang dilakukan mahasiswa meliputi tindakan caring dan curing pada pasien, sebagai hasil pengalaman belajar mahasiswa yang didapatkan dari pembimbing klinik sebagai role model.

Didalam theory of human care menyatakan bahwa caring merupakan transaksi antara pemberi dan penerima asuhan untuk meningkatkan dan melindungi pasien sebagai manusia yang mempengaruhi kesanggupan pasien untuk sembuh.

Definisi caring dalam asuhan keperawatan merupakan bagian dari bentuk kinerja perawat dalam merawat pasien. Perilaku caring perawat menjadi cerminan apakah layanan keperawatan berkualitas atau tidak.

Caring merupakan inti profesi keperawatan dan fokus sentral dalam praktik keperawatan, bersifat universal dan terdiri dari perilaku-perilaku khusus hasil dari kebudayaan, nilai-nilai, pengalaman, dan dari hubungan dengan orang lain.

Sedangkan curing yakni upaya kesehatan dari kegiatan dokter dalam prakteknya untuk mengobati pasien.  Curing lebih memperhatikan penyakit yang diderita serta penanggulangannya.

Didalam tahapan proses keperawatanm khususnya pada bagian implementasi dijelaskan bahwa implementasi keperawatan meliputi tindakan independen, dependen dan kolaboratif.

Artinya bahwa selama pembelajaran klinik mahasiswa dituntut untuk mengaplikasikan semua tindakan tersebut tidak hanya pada tindakan kolaboratif saja karena sebagian besar implementasi keperawatan berisi tindakan caring dibandingkan dengan curing.

Tindakan caring dalam asuhan keperawatan menyangkut seluruh kebutuhan pasien baik fisik, psikologi, sosial, dan spiritual, sehingga tindakan caring harus dilakukan mahasiswa secara akuntabel seperti membantu pasien beradaptasi dengan masalah kesehatan yang dihadapi, memenuhi kebutuhan dasar, meningkatkan kesehatan, dan meningkatkan fungsi tubuh pasien.

 Sikap yang harus dimiliki mahasiswa yang berhubungan dengan caring adalah kehadiran, sentuhan kasih sayang, mendengarkan, memahami klien, caring dalam spiritual, dan perawatan keluarga.

Sedangkan curing hanya bagian dari caring didalam implementasi keperawatan, karena salah satu tindakan caring adalah tindakan kolaborasi dengan tim kesehatan lain.

Oleh sebab itu dengan memahami makna caring dan curing secara tepat, mahasiswa harus mampu mengamati dan meniru role model untuk memberikan tindakan caring dengan sebaik-baiknya bagi pasien.

  Penyelesaian masalah keperawatan yang dihadapi pasien tergantung pada totalitas dalam melakukan caring tanpa mengabaikan curing didalamnya. Caring dan curing harus dipadukan secara seimbang sehingga menghasilkan asuhan keperawatan yang optimal bagi kesembuhan pasien. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry