
Dengan pendekatan yang tepat, bekam bisa masuk ke sistem pelayanan medis resmi, terutama di bidang Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi. Sehingga ke depan masyarakat mendapat layanan bekam yang terstandar, dan dunia medis mengakui manfaatnya lewat bukti ilmiah.
Prof Dr dr Imam Subadi,Sp.K.F.R.N.M(K)
Guru Besar Bidang Ilmu Traumatic Brain Injury, Nyeri dan Neuroplastisitas, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) mengatakan bekam bisa digunakan sebagai terapi tambahan untuk nyeri kronis seperti osteoarthritis, nyeri otot, bahkan dalam rehabilitasi pasca stroke atau cedera olahraga. “Tapi tentunya harus dilakukan dengan prosedur medis yang aman dan sesuai standar,” ujarnya dalam orasi ilmiah saat pengukuhan guru besar di Kampus C, Kamis (22/5/2025).
Dikatakan Prof Imam, agar bekam bisa menjadi bagian dari layanan kesehatan formal, ada beberapa langkah penting perlu dilakukan. Di antaranya Penyusunan Pedoman Klinis dengan panduan resmi yang mengatur indikasi, kontraindikasi, teknik, dan pemantauan bekam. Contohnya, bekam bisa dianjurkan untuk nyeri punggung kronis, tapi harus dihindari pada pasien dengan gangguan pembekuan darah.
Selain itu adanya Pelatihan dan Sertifikasi Tenaga Medis. Di sini dokter atau terapis yang memberikan terapi bekam harus memiliki pelatihan medis resmi. Ini termasuk pengetahuan anatomi, teknik sterilisasi, hingga penanganan komplikasi.
“Perlu ada penelitian lebih lanjut dengan banyak penelitian klinis maupun molekuler untuk membandingkan efektivitas bekam dengan terapi lain yang sudah umum di bidang rehabilitasi,” tukasnya.
Yang tak kalah penting kata Prof Imam adalah Integrasi ke Sistem Kesehatan Nasional. Jika terbukti aman dan efektif, terapi bekam bisa dipertimbangkan masuk dalam cakupan BPJS Kesehatan, dengan memperhatikan efisiensi biaya (cost-effectiveness).
Perkembangan Bekam di Indonesia
Bekam kini mudah ditemui, baik di klinik tradisional maupun yang dikelola oleh tenaga kesehatan. Namun, ada beberapa tantangan penting yang harus diatasi seperti teknik yang bervariasi dan belum terstandar, risiko Infeksi, klaim berlebihan tanpa bukti dan sebagainya.
Bekam ini cocok diterapkan dalam bidang Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (KFR). Di mana KFRÂ fokus pada pemulihan fungsi tubuh pasca sakit atau cedera, terutama yang berkaitan dengan nyeri dan gangguan gerak. Di sinilah bekam punya potensi besar, karena bekam bisa mengurangi nyeri melalui aktivasi sistem saraf tubuh dan pelepasan endorfin.