
YOGYAKARTA | duta.co — Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional, Pusat Studi Pancasila Sunan NKRI bersama PMII Rayon Ashram Bangsa Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan bedah buku “Tema Tajdid Yudian Wahyudi dalam Kerangka Pancasila (Komparasi Lintas Kawasan dengan Fazlur Rahman, Syed Muhammad Naquib Alatas, Hassan Hanafi, Wahbah Zuhaili, Abdullahi Ahmed An-Naim)” di Ruang Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tanggal 20 Mei 2026.
Hadir dalam acara tersebut, pemateri adalah Prof. Dr Syofiyullah MZ (Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Prof Dr Badrun Alaena (Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Dr Mansur (Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). Kegiatan ini menjadi ruang refleksi intelektual sekaligus kebangsaan untuk membaca kembali relevansi pemikiran Yudian Wahyudi, yang juga seorang Kepala BPIP 2020-sekarang, dalam menjawab tantangan Indonesia kontemporer.
Momentum Kebangkitan Nasional bukan sekadar mengenang lahirnya kesadaran kolektif bangsa Indonesia pada awal abad ke-20, melainkan juga momentum untuk meneguhkan kembali arah ideologis bangsa di tengah berbagai tantangan zaman: polarisasi sosial, krisis keteladanan, radikalisme, pragmatisme politik, hingga melemahnya orientasi kebangsaan generasi muda. Dalam konteks inilah pemikiran Yudian Wahyudi menjadi penting untuk dibaca, karena ia berupaya melakukan tajdid terhadap hubungan Islam, Pancasila, dan kebangsaan Indonesia.
Yudian Wahyudi tidak memandang Pancasila sebagai sekadar dasar negara yang bersifat formal-konstitusional, tetapi sebagai living ideology yang harus terus dihidupkan melalui ijtihad intelektual, spiritual, dan kebudayaan. Karena itu, tajdid yang ditawarkan Yudian bukanlah upaya mengganti Pancasila, melainkan memperbarui cara memahami dan mengaktualisasikannya agar tetap relevan dengan dinamika zaman. Dalam perspektif ini, Pancasila ditempatkan sebagai titik temu antara keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan universal.
Ketua Penyelenggara, yang juga Direktur Pusat Studi Pancasila Sunan NKRI, Dr. Faiq Tobroni menyampaikan bahwa kebangkitan nasional di era modern memerlukan fondasi intelektual dan spiritual yang kuat. Pemikiran Yudian Wahyudi menunjukkan bahwa Islam, Pancasila, dan nasionalisme bukanlah tiga hal yang saling bertentangan, melainkan dapat berjalan dalam satu tarikan nafas kebangsaan untuk mewujudkan Indonesia yang maju, berkeadilan, dan bermartabat.
Dalam diskusi buku tersebut, dielaborasikan bahwa Yudian memiliki corak tajdid yang khas Indonesia. Ia tidak hanya bergerak dalam wilayah akademik, tetapi juga berupaya menjembatani tradisi pesantren, pemikiran Islam global, dan praksis kebangsaan. Di sinilah ijtihad dan ikhtiar intelektual Yudian tampak sepadan bahkan dalam beberapa aspek lebih menonjol dibanding sejumlah tokoh pembaru Islam dunia yang menjadi pembanding dalam buku tersebut, seperti Fazlur Rahman, Syed Muhammad Naquib Alatas, Hassan Hanafi, Wahbah az-Zuhaili, dan Abdullahi Ahmed An-Na’im.
Fazlur Rahman, misalnya, dikenal melalui pembaruan keislaman dan teori double movement yang berpengaruh besar dalam studi Islam modern. Namun, Yudian melangkah dalam konteks Indonesia juga mampu menghubungkan pembaruan Islam itu pada proyek kebangsaan dan konstitusionalisme Indonesia. Jika Rahman menekankan reformasi pemikiran Islam, maka Yudian berusaha menjadikan hasil reformasi itu hidup dalam kerangka Pancasila dan realitas negara-bangsa Indonesia.
Syed Muhammad Naquib Alatas memiliki kekuatan besar dalam Islamisasi ilmu pengetahuan dan kritik terhadap sekularisme Barat. Akan tetapi, Yudian tampil lebih praksis dalam menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam bahasa kebangsaan Indonesia. Ia tidak berhenti pada level filsafat dan epistemologi, tetapi mendorong bagaimana Islam dapat menjadi kekuatan pemersatu bangsa dan fondasi etika publik nasional.
Demikian pula Hassan Hanafi yang kuat dalam kritik sosial dan oksidentalisme. Yudian justru menawarkan pendekatan yang lebih integratif. Ia tidak membangun pertentangan antara Islam dan Barat, melainkan mendorong dialog peradaban dengan tetap mempertahankan identitas Islam dan nasionalisme Indonesia. Karena itu, corak tajdid Yudian tampak lebih adaptif terhadap kebutuhan Indonesia yang plural dan multikultural.
Sementara Wahbah az-Zuhaili dikenal sebagai ulama fikih moderat dengan kedalaman penguasaan turats, Yudian tampil menonjol karena mampu menghubungkan fikih dengan isu-isu kebangsaan modern seperti demokrasi, pluralitas, konstitusi, dan ideologi negara. Adapun Abdullahi Ahmed An-Na’im menawarkan reformasi hubungan agama dan negara melalui pendekatan sekularisme, sedangkan Yudian memilih jalan tengah yang lebih kontekstual bagi Indonesia: agama dan negara bukan dipisahkan, tetapi dipertemukan dalam semangat Pancasila.
Keunggulan Yudian semakin tampak karena ia tidak hanya hadir sebagai akademisi, tetapi juga sebagai intelektual kebangsaan yang terlibat langsung dalam ruang publik dan pembinaan ideologi negara. Hal ini menjadikan gagasannya tidak berhenti sebagai teori, melainkan memiliki orientasi praksis untuk membangun Indonesia maju. Dalam kerangka inilah tajdid Pancasila menjadi penting: Pancasila harus terus dihidupkan melalui pembacaan baru yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar religius dan kebudayaan bangsa. (fiqt)



































