Abdul Hamid Ketua DPRD Gresik  (Ft.Duta agus)
GRESIK | duta.co  – Meski telah banyak buku tentang sejarah Kota Gresik yang  ditulis, namun kekayaan kesejarahan Gresik seperti tidak pernah kekurangan untuk digali. Hal ini tentu dikarenakan Gresik memiliki akar kesejarahan yang panjang. Kota Gresik hampir selalu hadir dalam dinamika sejarah bangsa Indonesia di masa lalu.
Buku yang disusun Abdul Abbas seorang budayawan dan mantan wartawan asal Gresik berisi sejarah berdirinya kota Gresik yang semula merupakan bagian dari kabupaten Surabaya. Ide penyusunan buku tersebut tidak lepas dari kegalauan tokoh maupun budayawan Gresik tentang sejarah berdirinya kabupaten Gresik. Apalagi, perayaan hari jadi kota Gresik kerap digelar setiap tanggal 27 Februari.
Menurut Abbas, berdasar hasil penelitian, awalnya parlemen Gresik bernama DPRD Kabupaten Surabaya. Anggotanya adalah para legislator terpilih pada Pemilu 1971. Sebab dulu, sebelum 1974, Gresik bernama Kabupaten Surabaya yang ber- Ibu kota Gresik. Setelah itu, DPRD Kabupaten Surabaya mengajukan usul perubahan nama menjadi Kabupaten Gresik lewat penerbitan PP bernomor 38/1974 tentang Perubahan Nama Kabupaten Surabaya pada 1 November 1974.
“Saya belum menemukan dasar sejarah peringatan hari jadi kota Gresik yang selama ini digelar setiap tanggal 27 Februari. Saya justru menemukan bukti otentik berupa piagam berdirinya kabupaten Gresik adalah tanggal 1 Nopember 1974 setelah sebelumnya merupakan bagian dari Surabaya,” ungkapnya.
Gayung bersambut, sejumlah tokoh Gresik mendukung penerbitan buku tersebut. Tidak terkecuali Ketua DPRD Gresik Abdul Hamid. Misi besar itu pun mulai digarap pada pertengahan 2016, Abbas ditunjuk sebagai pemimpin produksi. Menurut Abdul Hamid semua hari jadi semestinya memiliki dasar sejarah. Jika hari jadi Kabupaten Gresik didasarkan pada pelantikan Sunan Giri, maka itu bisa diterima.
“Namun untuk Hari Jadi Kota Gresik, kita perlu mendiskusikan lagi. Salah satu yang paling esensi dari bedah buku ini adalah ingin mendiskusikan kembali penetapan Hari Jadi Kota Gresik yang selama ini ditetapkan pada 27 Februari. Itu dasarnya apa?”, ujarnya.
Menurut Hamid, buku Jejak Rekam DPRD Gresik merupakan upaya penelusuran sejarah yang positif hingga bisa menjelaskan kepada generasi muda tentang peran serta DPRD Gresik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai Ketua DPRD Gresik, Hamid sangat mendukung penerbitan buku tersebut. “Kami berharap bisa dilakukan oleh penulis-penulis lainnya,” ucapnya.
Buku tersebut diatas akan dibedah bekerjasama dengan Komunitas Wartawan Gresik (KWG) yang diikuti berbagai unsur masyarakat, budayawan dan akademisi pada 21 Oktober 2017 mendatang. Merupakan salah satu kiprah para jurnalis yang tergabung dalam Komunitas Wartawan Gresik dalam membantu memberikan pemahaman sejarah tentang Gresik. “Selama ini wartawan dikenal kerap memberitakan peristiwa kekinian di Gresik. Padahal peristiwa sejarah penting pula disampaikan ke masyarakat agar diperoleh pemahaman yang utuh tentang Gresik,” jelas ketua pelaksana bedah buku, Mohammad Zaini Mujtaba.-(adv/gus/sal)

Tinggalkan Balasan