
SURABAYA | duta.co – Di lingkungan nahdliyin (NU) ada Gus Baha (KH Ahmad Bahauddin Nursalim) yang cerdas, mumpuni ilmu agamanya, selalu tampil sederhana, sementara di Muhammadiyah ada Ustad Mujiman (UM) yang tampil polos, lugas, sederhana dengan kajian agama yang sejuk.
Redaksi duta.co belum berhasil mencatat nomor teleponnya, hanya bisa mengikuti dakwah UM di berbagai media sosial (medsos). “Mujiman itu mung siji kudu dieman (hanya satu maka perlu dirawat),” katanya suatu ketika di depan jamaah.
Dalam sebuah tayangan @jagatauhid, Ustad Mujiman juga dengan gamblang menjelaskan tentang BEBERAPA FATWA DI MUHAMMADIYAH YANG BERUBAH. Ribuan orang menyukai dakwahnya. Gayanya yang polos, bahasa lugas, membuat UM berhasil menyita perhatian publik.
Lalu, bagaimana konstruksi hukum (Islam) di Muhammadiyah, bagaimana pula menyikapi perubahan kebijakan dalam menentukan awal Ramadhan – dari wujudul hilal berubah ke KHGT (Kalender Hijriyah Global Tunggal) – yang diterapkan Muhammadiyah mulai tahun depan?
“Dulu (Muhammadiyah) ada larangan memajang foto KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), karena khawatir ada kultus. Tetapi, kemudian larangan itu dicabut untuk tujuan pendidikan. Jadi biar anak-anak yang berlajar di Muhammadiyah tahu, siapa KH Ahmad Dahlan. FATWA LAMA DICABUT DENGAN FATWA BARU,” tegasnsya.
Masih kata UM, dulu khotib (Muhammdiyah) harus sekaligus Imam. Kalau khotib dan imam beda, itu tidak boleh. (Itu isi) Fatwa jilid 3, tetapi jilid 6 kemudian dikoreksi, (menjadi) boleh. “Maka fatwa yang demikian (tampak) membingungkan umat. Ada yang pegang jilid 1 ada yang merujuk jilid 9. Blunder,” katanya sambil tersenyum.
Hukum rokok juga demikian. “Rokok itu makruf, itu jilid 1. (Tiba-tiba menjadi haram) setelah tahun 2010. Maka kalau ada yang ngrokok itu mengamalkan jilid satu. Sekarang haram. Fatwa itu bisa berubah, praktek keagamaan dengan mudah berubah,” tegasnya.
Pun soal kalender. Sekarang Muhammadiyah menganut Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). “Sebelum wujudul hilal, 0,.. derajat masuk tanggal. Jadi kalau matahari sudah terbenam, mendahului bulan, berarti sudah tanggal. Hilal sudah wujud. Itu dulu, sekitar 20 tahun lebih. Tetapi, sekarang, tidak pakai itu lagi, alasannya perabdaban, Maka pakai 5 derajat, tapi bukan local, global”.
“Karena di KHGT itu seluruh dunia satu, maka kalau kalau bulan dan matahari itu sudah segaris, atau ijtimak, maka dilihat (dulu) adakah salah satu daerahdi dunia ini yang hilalnya sudah 5 derajat. (Kalau ada), maka sudah masuk tanggal 1. Yang penting ada satu kawasan melihatnya sudah 5 derajat. Sebelumnya pakai nol koma sekian derajat. Sekarang harus 5 derajat. Tetapi dunia. BERUBAH ITU WAJAR,” urainya.
Inilah yang tidak berubah di NU. Karenanya, kemungkinan beda lebaran akan semakin sering. Bagi warga nahdliyin sistem matlak tetap penting dalam beribadah. Matlak adalah tempat terbitnya benda-benda langit (rising place). Secara terminologi matlak adalah batas daerah berdasarkan jangkauan dilihatnya hilal atau dengan kata lain matlak adalah batas geografis keberlakuan rukyat.
“Indonesia dengan Makkah jelas berbeda. Tidak mungkin disamakan. Ketidaksamaan ini justru menjadi tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Kita salat dhuhur, Makkah mungkin subuh. Bagi kami, waktu tidak bisa disamakan. Soal wukuf, itu ditentukan tanggal 9 Dzulhijah, sehari sebelum Idul Adha, 10 Dzulhijah. Maka, harinya, bisa jadi beda, karena matlaknya berbeda,” tegas Hadi, salah seorang warga NU Sidoarjo.
Perbedaan cara pandang ini, tentu, harus disikapi secara arif. Tidak saling menyalahkan, tidak pula saling merendahkan. Warga nahdliyin dan Muhammadiyah tentap kompak dalam perbedaan. “Perbedaan tidak perlu diperbesar. Karena kesamaan kita, jauh lebih besar. Salat kita sama, Nabi kita sama, arah kiblat kita sama, Alquran kita sama,” pungkasnya. (mky)





































