Oleh: Rosnindar Prio Eko Rahardjo *)

Pagi ini, saya benar-benar kecele.

Bukan karena salah pakai baju seragam. Tapi karena mampir ke SPBU. Niatnya mengisi bensin nonsubsidi ke tangki mobil sebelum ke kantor.

Mata saya mendadak melek. Lebih melek dari efek minum kopi hitam dua gelas sekaligus.

Angka di dispenser bensin sudah berubah. Nominalnya berbeda dari biasanya.

Kapan naiknya?

Semalam saya menonton televisi sampai larut. Tidak ada pengumuman resmi dari pemerintah. Tidak ada kabar apa pun.

Tahu-tahu, jreng! BBM Harga baru.

Pemerintah rupanya makin pintar. Makin cerdik. Atau mungkin makin malas menghadapi kerepotan.

Dulu, setiap mau menaikkan harga BBM, selalu ada mukadimah panjang lebar. Ada pidato soal beban subsidi yang membengkak. Soal harga minyak dunia yang lagi tinggi.

Lalu, efeknya selalu bisa ditebak. Antrean di SPBU mengular. Dimulai sejak magrib sampai tengah malam.

Orang rela begadang menghirup asap knalpot demi menghemat beberapa puluh ribu. Jalanan sekitar SPBU macet.

Sekarang? Pemerintah pakai jurus ninja.

Senyap. Tanpa suara. Tanpa drama antrean panjang tengah malam. Tanpa spanduk penolakan.

Masyarakat sedang nyenyak tertidur. Sedang bermimpi indah tentang gajian bulan depan yang masih 20 hari lagi. Eh, pas bangun pagi harinya, tahu-tahu sudah jatuh miskin sedikit.

Tidak ada lagi kesempatan buat panic buying. Tidak ada peluang buat menimbun bensin di dalam jeriken.

Tapi ya, tetap saja sakitnya terasa sama.

Bedanya, dulu kita sakit sambil marah-marah berkeringat di antrean. Sekarang kita sakit dalam keadaan linglung dan belum cuci muka.

“Sudah naik dari jam 12 malam tadi, Pak. Kebijakan dari pusat.” Kata petugas SPBU.

Ah, kata kebijakan. Itu memang kata yang paling ajaib di negeri ini. Bisa dipakai untuk menutupi banyak hal.

Alasannya pasti tetap lagu lama. Anda sudah hafal di luar kepala. Anggaran negara terbebani. Harus dialihkan agar lebih tepat sasaran.

Pertanyaannya tetap sama: sasarannya itu siapa?

Kok rasanya dari dulu sasarannya meleset terus. Seperti penembak jitu yang matanya minus tiga tapi gengsi memakai kacamata.

Inilah ironi negeri kita yang paling mutakhir.

Di satu sisi, kampanye kendaraan listrik digeber habis-habisan dengan insentif miliaran.

Di sisi lain, rakyat yang boro-boro bisa beli mobil listrik, buat bayar cicilan motor matik saja masih ngos-ngosan, dipaksa menanggung harga bensin yang makin mencekik leher.

Mungkin ini shock therapy. Cara pemerintah memaksa kita sadar lingkungan.

Kenaikan BBM tanpa aba-aba ini efek dominonya jelas tidak bisa direm.

Tunggu saja nanti. Ongkos ojek online pasti otomatis minta disesuaikan. Harga cabai, telur, dan bawang di pasar tradisional akan ikut-ikutan melompat kegirangan.

Alasan tukang gorengan: “Ongkos angkut bahan bakunya naik, Pak.”

Padahal gerobaknya didorong sendiri dari mulut gang. Tidak pakai bensin setetes pun.

Tapi itulah hebatnya ekonomi kerakyatan kita. Solidaritasnya level dewa. Kalau satu harga naik, semua wajib ikut naik. Pantang untuk tidak ikut-ikutan.

Kita ini memang bangsa yang sangat ulet dan luar biasa tahan banting.

Hari ini menggerutu karena kaget setengah mati. Besok sudah lupa. Lusa sudah kembali mengisi bensin dengan harga baru seolah tidak pernah terjadi apa-apa di dunia ini.

Kita ini jagoan sejati dalam urusan menerima nasib dengan lapang dada.

Mau demo? Lha wong bensinnya sudah telanjur masuk tangki.

Lebih enak duduk santai. Menyeruput kopi. Sambil melihat jarum bensin di motor yang mantap menunjuk huruf ‘E’.

Bukan sekadar Empty. Tapi “Emang” sudah takdir dan nasib kita sebagai rakyat.

Rupiah di dompet akan makin cepat menguap. Tapi percayalah, kita pasti akan survive.

BBM boleh naik diam-diam seperti ninja. Yang penting kewarasan kita jangan sampai ikut hilang diculik ninja. (*)

*) Komisioner KPID Jawa Timur, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bahaudin Mudhary Madura

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry