Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Surabaya, Dr. Rosidi,memberikan penjelasan terkait isu Super Flu dan memastikan situasi tetap terkendali. BBKK Surabaya terus melakukan pengawasan kesehatan di pintu masuk negara, sembari mengimbau masyarakat.

SURABAYA | duta.co – Merebaknya isu Super Flu di berbagai pemberitaan belakangan ini sempat menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Namun Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa Super Flu bukanlah virus baru, melainkan jenis influenza yang selama ini sudah dikenal.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menekankan bahwa masyarakat tidak perlu panik berlebihan. “Tidak perlu khawatir berlebihan. Ini bukan seperti COVID-19. Ini adalah influenza A (H3N2) yang sudah lama dikenal,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (9/1/26).

Meski Kemenkes mencatat Jawa Timur sebagai wilayah dengan kasus Super Flu terbanyak, kondisi masih terkendali. Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Surabaya memastikan tidak terjadi lonjakan signifikan pada pelaku perjalanan, terutama pada momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Berdasarkan data klinik pos kesehatan Nataru di wilayah kerja BBKK Surabaya—Bandara Juanda, Bandara Dhoho, Pelabuhan Tanjung Perak, Gresik, Tuban, dan Kalianget—dari 533 kunjungan hanya 20 yang mengeluhkan ISPA. Padahal jumlah pelaku perjalanan mencapai 990.043 orang.

Sementara untuk Pelaku Perjalanan Luar Negeri (PPLN) melalui Bandara Juanda pada Desember 2025, hanya 0,18 persen atau 194 orang dari 106.327 penumpang yang melaporkan keluhan ISPA.

“Dari data surveillance, keluhan ISPA tidak menunjukkan lonjakan signifikan. Kondisi masih aman terkendali dan sesuai pola flu musiman saat mobilitas masyarakat meningkat,” jelas pihak BBKK Surabaya.

BBKK Surabaya memiliki prosedur tetap pengawasan kesehatan di pintu masuk negara melalui thermal scanner dan surveillance sentinel Influenza Like Illness (ILI). Swab hanya dilakukan jika penumpang memenuhi kriteria, antara lain suhu di atas 38 derajat dan batuk kurang dari 10 hari. Namun, hingga saat ini belum ada pelaku perjalanan yang memenuhi kriteria tersebut.

“Petugas kami selalu bersiaga setiap hari, bukan hanya saat isu penyakit menular ramai. Bila ditemukan kondisi yang memenuhi kriteria, maka akan kami lakukan pemeriksaan lanjutan termasuk swab. Sampai sekarang belum ada yang perlu diswab,” tegasnya.

Secara umum, Super Flu memiliki gejala serupa flu biasa seperti demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, dan lemas. Kasus terbanyak terjadi pada anak usia 1–10 tahun dan tidak ditemukan peningkatan risiko komplikasi berat.

Namun, kelompok rentan seperti ibu hamil, balita, lansia, penderita komorbid, dan individu dengan imun rendah tetap diminta waspada.

“Kuncinya adalah menjadikan masker sebagai senjata untuk mencegah penularan. Kami mengimbau pelaku perjalanan—baik yang ke luar negeri maupun yang masuk ke Indonesia—untuk disiplin memakai masker, rajin cuci tangan, menjaga asupan bergizi, serta istirahat cukup. Jika memungkinkan, vaksin flu sangat dianjurkan,” pesan Dr. Rosidi.

Dengan kedisiplinan bersama, masyarakat diharapkan tetap waspada tanpa perlu panik berlebihan. BBKK Surabaya memastikan pengawasan kesehatan di pintu masuk negara terus dilakukan secara optimal. (gal)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry