DITEKAN : Cek kesehatan sebelum kehamilan penting dilakukan untuk menghindari kasus preeklamsia saat kehamilan. Karena bisa membahayakan ibu dan bayinya. DUTA/istimewa

SURABAYA | duta.co – Masalah preeklamsia menjadi masalah bersama. Para dokter ahli bersatu untuk menekan kasus yang terjadi pada ibu hamil itu. Mulai ahli kebidanan dan penyakit kandungan, ahli neonatus hingga tumbuh kembang anak.

Preeklamsia adalah sebuah komplikasi pada kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi (hipertensi) dan tanda-tanda kerusakan organ, misalnya kerusakan ginjal yang ditunjukkan oleh tingginya kadar protein pada urine (proteinuria).

Mengapa dokter spesialis anak ikut mengurusi masalah preeklamsia ini? Bukankah ini masalah yang harus ditangani dokter ahli kebidanan dan penyakit  kandungan?

Ternyata, masalah preeklamsia ini bukan sekadar masalah dokter kebidanan dan penyakit kandungan. Bukan sekadar bagaimana sang dokter kandungan itu bisa menyelamatkan ibu hamil dengan kondisi preeklamsia.

Juga bukan sekadar bisa menyelamatkan sang bayi. Namun juga yang menjadi pertanyaan, apakah bayi yang dilahirkan dari ibu yang preeklamsia, bisa tumbuh normal seperti bayi lain yang dilahirkan ibu yang tanpa preeklamsia.

Jawabannya belum tentu. Dokter ahli tumbuh kembang anak RSU dr Soetomo Surabaya/Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, dr Ahmad Suryawan, SpA mengungkapkan bayi yang lahir dari ibu preeklamsia mayoritas mengalamai ganguan pada masa prenatal. Juga bisa meningkatkan risiko perkembangan anak.

“Anak yang lahir dari ibu preeklamsia dua kali bisa mengalami autism dibanding ibu yang tidak preeklamsia. Dan juga penyakit lainnya bisa diabetes, hipertensi dan ganguan kesehatan lainnya,” ujar dr Wawan panggilan dr Ahmad Suryawan.

Karenanya, kata dr Wawan, ibu hamil dengan preeklamsia menjadi masalah bersama. Bukan hanya masalah menyelamatkan nyawa ibu yang menjadi tugas dokter kebidanan dan penyakit kandungan.

Bukan juga sekadar menyelamatkan bayi yang dilahirkan yang menjadi tugas dokter neonatus atau neonatal.

“Kalau di dua dokter itu bisa menyelamatkan keduanya, apakah di dokter ahli tumbuh kembang seperti saya, bayi bisa selamat? Ke depan apa bisa tumbuh dan berkembang seperti anak pada umumnya, juga belum tentu,” tukas dokter yang selalu menjadi pembicara dalam berbagai seminar anak ini.

Ditambahkan dr Agus Hariyanto,SpA (K) selain itu, anak yang dilahirkan dari ibu preeklamsia akan mengalami banyak kelainan. Di antaranya kelajnan jantung, paru-paru tidak matang, bayi tidak akan lepas dari oksigen dan sebagainya.

“Kalau sudah begitu, jangka panjangnya yang kasihan. Kita memikirkan masa depan bayi ini, bukan sekadar bisa menyelamatkan nyawanya. Nyawa tertolong tapi hidupnya tidak berkualitas, apa gunanya,” jelasnya.

Karenanya, bersatunya para ahli ini, tidak lain untuk menekan semua kemungkinan buruk yang nantinya akan terjadi. Dari data yang ada di RSU dr Soetomo Surabaya, terjadi peningkatan jumlah ibu hamil dengan preeklamsia ini.

Data terakhir, pasien yang datang ke rumah sakit rujukan di Indonesia Timur itu, ada 305 kasus ibu hamil dengan hipertensi dari 100 ribu  kehamilan.

Dari jumlah itu, 24 persen sudah mengalami preeklamsia. Data lain menyebutkan, 10 persen dari angka ibu hamil mengalami hipetensi. Dari jumlah itu, 45 persennya mengalami preeklamsia.

Dari jumlah ibu preeklamsia itu, dua hingga tiga persen yang tidak tertolong. Selebihnya, dokter-dokter ahli bisa menyelamatkan jiwa ibu dan bayinya.

“Tapi apakah bayinya bisa seterusnya sehat, juga belum tentu,” kata dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan, dr Pujo Hartono, SpOG.

Diakui dr Pujo, memang ada kecenderungan saat ini, ibu hamil mengalami hipertensi di semester awal kehamilan. Padahal, dulu ibu hamil dengan hipertensi itu terjadi di semester akhir kehamilan.

“Apakah yang menjadi penyebabnya. Bisa jadi dari gaya hidup. Gizi bagus, tapi apakah gizi yang masuk itu sesuai dengan kebutuhan ibu hamil, belum tentu,” tandasnya.

Edukasi kepada masyarakat sangat penting. Bahwa masalah hamil bukan sesuatu yang sepele.

Justru edukasi tentang kehamilan harus sudah dipahami para wanita sebelum dia menikah. Sehingga, ketika masa kahamilan datang, para wanita mengetahui apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.

Seorang perempuan yang mantap untuk menikah, penting melakukan cek kesehatan lengkap, termasuk cek kesehatan kandungannya. Jika ada bakat hipertensi maka harus waspada.

“Bukan hanya menikah, hamil dan punya anak. Hamil dan melahirkan anak berkualitas itu yang penting,” jelasnya.

Karena masalah preeklamsia pada ibu hamil sangat komplek yang berisiko pada ibu dan bayinya. “Bagaimana berupaya agar kasus ini bisa ditekan. Ini bukan sesuatu yang sederhana,” tandasnya. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.