Muhammad Ainur Rifqi, Wakil Sekretaris PCNU Jombang

Membaca Heroes: What They Do and Why We Need Them karya Scott T. Allison dan George R. Goethals adalah sebuah pengalaman yang menggetarkan sekaligus menyakitkan. Di tengah hiruk-pikuk perayaan Hari Pahlawan, buku ini seperti cermin jernih yang menyingkap wajah bangsa yang mulai kehilangan arah moralnya.

Di satu sisi, buku ini mengangkat konsep kepahlawanan dari narasi sejarah yang kaku ke dimensi psikologi manusia yang esensial, membuka mata tentang betapa vitalnya figur pahlawan bagi kesehatan mental kolektif. Di sisi lain, ketika menutupnya, saya tak bisa mengelak dari bayangan suram yang menyelimuti bangsa saya sendiri sebuah negeri yang ironisnya lahir dari pengorbanan heroik, namun kini hidup di tengah inflasi gelar pahlawan.

Di mata Allison dan Goethals, kebutuhan akan pahlawan adalah kebutuhan primer, seperti tubuh yang menghirup oksigen. Pahlawan bukan sekadar monumen masa lalu mereka adalah kompas moral, mata air harapan, dan simbol kekuatan yang diikat oleh kebajikan. Inilah inti tesis yang menusuk: kekuatan tanpa moralitas adalah tirani, dan moralitas tanpa tindakan adalah ilusi. Namun, realitas yang kita hadapi terasa kontras.

Buku ini memperkenalkan “The Great Eight”, delapan sifat utama pahlawan sejati kuat, tangguh, peduli, tanpa pamrih, cerdas, inspiratif, dapat dipercaya, dan karismatik. Ini adalah sebuah konfigurasi ideal yang menuntut kesempurnaan etis dan praksis. Sayangnya, fenomena publik kita hari ini menunjukkan sebuah reduksi massal. Masyarakat kita seolah hanya menuntut dua hal kekuatan yang mampu mengeksekusi ambisi, dan karisma yang mampu membius massa.

Kita terlampau cepat menobatkan seseorang sebagai “penyelamat bangsa” hanya karena mereka berhasil membangun infrastruktur fisik atau memenangkan pertarungan politik. Di titik ini, definisi pahlawan telah tergelincir jauh dari makna aslinya, di mana pengorbanan diri demi kebaikan orang lain digantikan oleh kemampuan menaklukkan dan mengumpulkan kekuasaan. Heroes menjadi cermin yang pahit kita sedang merayakan kekuasaan yang telah menggantikan kebajikan sebagai tolok ukur tertinggi dari kepahlawanan.

Fenomena ini adalah manifestasi dari apa yang disebut penulis sebagai “skema pahlawan” yang terkorupsi. Skema mental kolektif kita pola yang menentukan siapa yang layak dipuja telah diakali. Propaganda dan pencitraan bekerja lebih keras daripada kejujuran moral. Tokoh masa lalu dibersihkan dari noda hitamnya demi romantisme narasi pembangunan, dan figur kontemporer dimuliakan hanya karena kepiawaiannya berakting di panggung media, padahal di baliknya tersembunyi nafsu ambisi yang serakah.

Hilangnya Batas: Pahlawan, Penjahat, dan Penebusan yang Dipalsukan

Bab tentang Redemption (Penebusan) dalam buku ini menggarisbawahi pentingnya pengakuan kesalahan dan perbaikan moral yang sejati. Penebusan yang benar membutuhkan pertobatan moral yang otentik. Namun, di panggung nasional, kita menyaksikan proses penebusan yang dipalsukan; ia diproduksi oleh propaganda, bukan oleh kesadaran hati nurani. Kita diajak untuk memaafkan tanpa pengakuan yang tulus, dan melupakan tanpa ada pembelajaran etis yang mendalam. Kebudayaan lupa ini adalah pengkhianatan terselubung terhadap nilai-nilai yang dulu diperjuangkan para pahlawan sejati.

Situasi ini diperparah dengan pudarnya garis demarkasi antara hero dan villain, antara pahlawan dan penjahat. Di masyarakat yang skema pahlawannya telah dikorupsi, peran bisa dengan mudah bertukar. Yang dulunya menindas kini dielu-elukan, sementara mereka yang gigih memperjuangkan keadilan dan integritas justru dicurigai atau dimarjinalkan.

“Bangsa yang kehilangan kemampuan menilai siapa pahlawan dan siapa penjahat sedang menuju kegelapan moral.”

Peringatan sosiolog ini menggema kuat, menunjukkan bahaya kolektif ketika masyarakat tak lagi memiliki batas moral yang jelas. Kepahlawanan kehilangan fungsinya sebagai penanda kebaikan, dan kejahatan kehilangan sanksi moralnya.

Namun, di tengah keputusasaan itu, Heroes juga menyajikan sebuah penawar konsep everyday heroes pahlawan sehari-hari. Mereka adalah pahlawan sunyi yang tak memerlukan panggung atau monumen. Seorang guru di pedalaman yang menolak godaan untuk pindah ke kota, perawat yang tetap bekerja jujur di sistem kesehatan yang rapuh, atau relawan yang mendedikasikan waktu tanpa mengharapkan popularitas.

Kehadiran mereka adalah bukti bahwa kepahlawanan adalah tindakan kesetiaan pada nilai, bukan sekadar gelar seremonial. Mereka mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah resmi, tetapi merekalah yang secara diam-diam menjaga agar nurani bangsa ini tetap berdetak.

Pada akhirnya, buku ini mendesak kita untuk menata ulang memori kolektif kita. Bangsa yang sehat adalah bangsa yang berani mengingat dengan jujur, mengenang bukan hanya yang membanggakan, tetapi juga yang memalukan. Lupa adalah pengkhianatan karena meniadakan pelajaran moral dari masa lalu.

Mungkin inilah tugas kebudayaan kita hari ini, menjaga agar ingatan kolektif tetap kritis dan tidak tunduk pada narasi yang dibentuk oleh kekuasaan. Kepahlawanan sejati, seperti yang ditegaskan Allison dan Goethals, bukanlah tentang mencari kekuasaan atau keuntungan.

Ini adalah panggilan moral bagi kita semua apakah kita masih memiliki keberanian untuk percaya pada kebaikan yang tidak populer, pada kejujuran yang tidak menguntungkan? Sebab pahlawan sejati adalah mereka yang bersedia kehilangan segalanya demi menegakkan kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu telah menjadi komoditas yang bisa diperdagangkan. Di tengah gelapnya krisis keteladanan, Heroes adalah lilin kecil yang cukup untuk menunjukkan arah kembali menuju kompas moral kita yang hilang. Selamat Hari Pahlawan!

Penulis: Muhammad Ainur Rifqi, Wakil Sekretaris PCNU Jombang

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry