
JOMBANG | duta.co – Sebagai ‘Kota Santri’, Jombang memiliki budaya tersendiri. Begitu juga perihal sejarah kota ini, menyimpan banyak misteri. Banyak tokoh nasional lahir dari Jombang. Kita mengenal pendiri Nahdlatul Ulama Mbah Hasyim (almaghfurlah KH Hasyim Asy’ari) Mbah Wahab (almaghfurlah KH Abdul Wahab Chasbullah) dan Mbah Bisri Syamsuri.
“Bahkan Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Menteri Agama KH Wahid Hasyim, budayawan Emha Ainun Najib (Cak Nun), dan intelektual Nurcholis Madjid (Cak Nur) juga dari Jombang,” demikian disampaikan Ketua Tanfidziyah Ranting NU Kepanjen, Jombang Ahmad Samsul Ma’arif kepada duta.co, Selasa (30/9/25).
Maka, tidak keliru, di balik ketenarannya sebagai Kota Santri, Jombang menyimpan kisah terkait sejarah berdirinya kota ini. Salah satunya tentang sosok Kebo Kicak, sebutan bagi salah satu santri dari pesantren di Jombang yang bernama Joko Tulus.
“Kebo Kicak yang bernama asli Joko Tulus tersebut menurut hikayat merupan Tokoh Utama Kota Santri. Kini nama itu dipatri sebagai kisah Jombang asli. Jombang pun dimaknai kata Ijo (hijau) dan Abang (Merah) notabene pancaran cahaya Hijau dan Merah dari pertarungan hebat,” jelasnya.
Ialah sosok yang melawan tokoh Jahat saat itu, yakni Surontanu sehingga disebut Jombang. Bisa juga dimaknai Ijo adalah Kaum Santri dan Abang adalah kaum marhean. Jadi Masyarakat Kota Jombang berisi masyarakat yang sangat heterogen.
Terlepas dari kevalidan kisah ini, pada kenyataan masyarakat Jombang tetaplah sebuah masyarakat heterogen baik keyakinan maupun tingkat social ekonomi. Namun dari heterogenitas masyarakatnya ini mampu menunjukkan semangat teloransi yang tinggi untuk saling menjaga Kota Jombang.
“Dari Tanah Jombang, Organisasi Keagamaan sebesar Nahdlatul Ulama dilahirkan oleh KH Hasyim Asyari, KH Wahab Hasbullah dan KH Bisri Syamsuri yang hingga saat ini pesantren-pesantren peninggalannya tetap menjadi rujukan para Ulama di Indonesia maupun dunia. Tumpeng-tumpeng yang kita panggul untuk Kirab Maulid ini bukan sekadar hidangan, melainkan simbol rasa syukur dan gotong royong dari Jamaah Musholla dan Masjid di wilayah Jombang,” terangnya.
Selain menggelar Kebo Kicak shalawatan, juga digelar kirab. Ini mengingatkan pada perjalanan dakwah Nabi Muhammad Saw. yang penuh perjuangan. Acara diawali khatmil Qur’an oleh Lembaga JQH bakda sholat subuh di Lokasi “Gunungan Kebon Rojo” hingga berakhir pukul 07.30 wib.
Kemudian seluruh Pengurus baik Ranting maupun Lembaga dan Banom berkumpul mempersiapkan Kirab Tumpeng Maulid. Mereka berangkat dari Musholla As Shoim. Dan seluruh tumpeng dijadikan satu 1 Tandu. Kemudian bersama masyarakat yang hadir di Kebon Rojo ikut melakukan Kirab dengan ‘thawaf’ 1x Putaran di Lahan Taman Kota Kebon Rojo.
Dalam Kirab ini juga dihadiri dari Perwakilan Pengurus MWC dan IPHI Kecamatan Jombang. Masyarakat pun tumpek blek bersuka cita menikmati suguhan Kirab. Aktivitas jalan kaki car free day diganti dengan berdiri di sepanjang jalan jalur Kirab untuk mengabadikan moment Kirab yang selama ini tidak pernah ada . Sambil Kirab Shalawat Diba’ dilantunkan oleh Fatayat Muslimat. Dengan diiringi Tim Rebana Ansor. Giat Kirab berakhir di Gunungan Kebon Rojo dan dinikmati seluruh masyarakat yang hadir. Bersamaan dengan ini. LKNU menggelar Donor Darah dan Check Kesehatan Gratis.
GP Ansor pun menggelar Potong Rambut Gratis. IPNU dan IPPNU tak kalah menarik, mengisi kegiatan dengan menanam Pohon Sawo di Lahan Kebon Rojo. Pada malam harinya Lailatul Ijtima RNU Kepanjen dilaksanakan di Musholla As Shoim. Lazisnu juga menyalurkan santunan Yatim Dhuafa juga dari LTM memberikan cindera mata berupa Penomoran Musholla dibawah binaan RNU Kepanjen. Acara malam itu ditutup dengan Do’a dan Tauziyah dari Rois Suriah RNU Kepanjen KH Moh Rofiq. (Qod)




































