“Gus Baha menegaskan, bahwa mayoritas waliyullah (kekasih Allah) itu sangat menghargai istrinya, bahkan cenderung takut istri.”
Oleh: Dr. Syarif Thayib, S.Ag. M.Si

ADA sahabat Pasutri hebat. Suaminya Ketua DPRD Kabupaten. Istrinya otomatis ketua Dharma Wanita DPRD. Keduanya sama-sama alumni mahasiswa pergerakan dan satu letting.

Karena sama-sama aktivis, kami berempat (dua Pasutri) bersama mantan aktivis lainnya 3 – 6 bulan sekali gelar reunian terbatas, sambil arisan, berbagi cerita pengalaman masing-masing.

Hasil obrolan di reunian itulah penulis olah menjadi tulisan dengan judul di atas. Harapannya, pengalaman Pasutri DPRD itu bisa menginspirasi, khususnya para Dharma Wanita.

Sebagai ketua Dharma Wanita DPRD Kabupaten, tentu sering menerima Curhatan dari para istri sesama pejabat tentang tingkah polah (oknum) suami. Curhatan paling pelik adalah hadirnya WIL (Wanita Idaman Lain) yang menyertakan alat bukti screenshot percakapan WA, foto mesra, transferan ke Norek WIL, tiket check in hotel online, dan lain-lain.

Segala macam cara sudah dilakukan untuk menjaga keharmonisan keluarga/ Pasutri pejabat, baik preventif (pencegahan) maupun kuratif melalui mediasi, penyelesaian hukum, dan seterusnya selama lima tahun pertama.

Kini, di periode kedua suaminya menjabat, sang istri punya cara yang super berani, yaitu membuat banyak WAG (WhatsApp Group) khusus Dharma Wanita internal pimpinan DPRD, internal komisi, internal fraksi, gabungan seluruh anggota DPRD, bahkan gabungan Dharma Wanita bersama beberapa mitra komisi (istri kepala dinas), dan seterusnya. Hebatnya, semua WAG jejaring Dharma Wanita itu dibuat oleh istri Ketua DPRD yang otomatis menjadi Admin.

Dari WAG itulah informasi mengalir deras. Suaminya Kunker/ perjalanan dinas kemana, bersama siapa, berapa lama, dapat fasilitas apa, uang sakunya berapa, dan seterusnya detail dan terang benderang. Bahkan beberapa anggota Dharma Wanita berani meminta suaminya untuk shareloc dan video call sekedar memastikan. Hasilnya, di-screenshot dan dishare ke jejaring WAG Dharma Wanita.

Keberanian orang nomor satu Dharma Wanita DPRD ini membuat para istri Dewan jadi lebih nyaman dan nyenyak tidur. Begitu ada indikasi suaminya berulah, maka para istri Dewan memberikan pembelaan. Sang Ketua DPRD pun siap kasih peringatan untuk suami-suami nakal melalui “palu” kekuasaannya.

Menghindari Perselingkuhan dan Perzinahan

Solusi ketua Dharma Wanita DPRD di atas oleh sebagian pihak mungkin dianggap lebay, tetapi faktanya, bisa menekan potensi perselingkuhan dan perzinahan oknums anggota Dewan di Kabupaten tersebut dibandingkan periode sebelumnya.

Keberanian ekstrem sahabat Pasutri penulis di atas sepertinya patut dicoba oleh semua ketua Dharma Wanita di semua instansi sipil (legislatif, eksekutif, yudikatif) maupun TNI-Polri.

Kasus perselingkuhan yang lagi viral sekarang, antara oknum jenderal polisi bintang dua dengan anak buahnya berpangkat Kompol hingga membuat sang jenderal dimutasi mestinya tidak harus terjadi kalau pimpinan Bhayangkari (organisasi istri anggota Polri) berani melakukan cara seperti Dharma Wanita DPRD di atas.

Begitupun kasus perselingkuhan pejabat sipil paling update, antara anggota DPRD Provinsi Gorontalo dengan perempuan yang diduga WIL-nya harusnya tidak sampai berujung pemecatan dari partai dan keanggotaannya di DPRD Tingkat I jika ada upaya preventif.

Dua kasus itu menjadi pelajaran berharga untuk para suami (pejabat-pejabat) sebelum tertimpa sial kena “batu”nya, karena istri punya andil besar dalam melejitkan karier suami. Penulis setuju dengan anggapan pada suami yang mudah mengalah ke istri akan menaikkan derajatnya hingga “sundul langit”.

B’STI (Barisan Suami Takut Istri)

Gus Baha dalam banyak kesempatan di pengajiannya menegaskan, bahwa mayoritas Waliyullah (kekasih Allah) itu sangat menghargai istrinya, bahkan kecenderungannya seperti takut istri.

Baca kembali, kisah manusia paling pemberani sepanjang sejarah: Umar bin Khattab. Beberapa sahabat Nabi pernah tercengang menyaksikan bagaimana seorang Khalifah yang ditakuti oleh manusia, jin, dan malaikat itu tertunduk diam menghadapi istrinya yang menuding-nuding sambil marah-marah.

Penulis sendiri sangat sering menyaksikan orang terkenal, baik dari pengasuh pesantren hingga Jenderal TNI-Polri, diam seribu bahasa ketika dibentak-bentak istrinya yang sedang emosi. Mereka antara lain adalah:

Pertama, seorang ulama terkenal (Allahyarham), pengasuh pesantren dengan jumlah santri per-hari ini sudah lebih dari 20ribu santri di kawasan tapal kuda.

Suatu ketika, tanpa sengaja penulis mendengar percakapan seluler sang ulama kharismatik dengan Bu-Nyai. Dalam percakapan itu nampak jelas intonasi suara Bu-Nyai selalu tinggi, bahkan sesekali terdengar seperti mengumpat. Suami yang disegani oleh mayoritas Kyai tanah Jawa itu hanya diam dengan sesekali membela diri menggunakan bahasa yang sangat halus dan intonasi merendah.

Penulis sempat berpikir, kok bisa? Padahal masalahnya sepele. Kalau dirunut akar masalahnya, sebenarnya sang ulama besar itu tidak salah.

Kedua, seorang jenderal TNI bintang dua aktif yang memiliki wajah garang, ternyata sangat hormat dan tunduk pada istrinya. Penulis pernah mendampingi perjalanan umroh private class keluarga jenderal ini beberapa waktu lalu. Nyaris sang suami yang komandan tertinggi pada salah satu kesatuan elite TNI itu tak berkutik menghadapi istrinya. Hampir 99,9% schedule umroh mulai keberangkatan hingga kepulangan, semuanya dikendalikan istri, termasuk isi dompet dan penggunaan ATM-nya.

Dalam sessi santai di Pasar Corniche Jeddah jelang kepulangan ke tanah air, penulis terenyuh mendengar pengakuan jujur sang jenderal, bahwa dia sengaja bersikap demikian karena itulah cara dia membalas pengorbanan istrinya dalam mendukung kariernya, merawat kedua putra-putrinya sejak dalam kandungan hingga mentas semuanya.

Bahkan dengan lugas ia bercerita, bahwa hampir semua jenderal mantan atasannya pernah menasehati, termasuk Almarhum Ayahnya, bahwa setelah orang tua, derajat laki-laki itu bergantung bagaimana dia menghargai, menyayangi, dan setia pada istrinya.

Penulis jadi teringat kisah Gus Dur tentang Barisan Suami Takut Istri (B’STI). Kelak di akhirat, Malaikat menyuruh para suami untuk membentuk dua barisan. Barisan pertama adalah B’STI, barisan kedua adalah suami yang tidak takut istri.

Setelah barisaan terbentuk, ternyata hanya satu suami yang ada di barisan kedua. Ketika ditanya Malaikat kenapa ia berdiri di barisan itu, dengan lantang suami itu menjawab: “Maaf Malaikat, saya disuruh istri untuk berdiri disini.”
Nahh?!

*Dr. Syarif Thayib, S.Ag. M.Si. adalah Dosen UINSA, Kepala Diklat & Kajian Masjid Nasional Al Akbar Surabaya

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry