Keterangan gambar kaospremium.com

SURABAYA | duta.co –  Layak kaget!  Ada warga Kepulauan Sula, Ismail Ahmad, gegara mengunggah guyonan Gus Dur di akun Facebooknya yang berbunyi: “Hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia: Patung Polisi, Polisi Tidur, dan Jenderal Hoegeng”, dipanggil Polres setempat. Padahal, guyonan itu memiliki makna yang bagus bagi polisi.

Ahli Psikologi Forensik Reza Indragiri, saat menanggapi pemanggilan polisi terhadap Ismail membandingkan kondisi psikologi polisi Indonesia dengan riset terhadap psikologi kepolisian di Inggris.

“Terhadap polisi Inggris pernah dilakukan survey. Ditanya, apa kunci yang harus anda miliki agar sukses dalam tugas? Saat pertanyaan serupa saya ajukan ke mahasiswa PTIK di kelas saya, kebanyakan menjawab ‘Pemahaman UU’. Padahal di Inggris, sesuai temuan survei tersebut, jawaban terbanyak adalah sense of humor (cita rasa humor),” tutur Reza dalam keterangannya, Kamis (18/6/2020) seperti dikutip liputan6.com.

Menurut Reza, ini menjadi cerminan suasana kejiwaan polisi Inggris dengan polisi Indonesia. Di negeri ini, kata dia, menjadi polisi artinya sama dengan menjadi penegak hukum. “Di sana (Inggris), menjadi polisi berarti menjadi sahabat masyarakat,” jelas dia.

Harapan untuk Kapolri

Lebih lanjut, riset lain menyebut bahwa selera humor berpengaruh terhadap kemampuan diri seseorang dalam menjalani dan menikmati hidupnya. “Polisi dan semua orang perlu insaf. Bahwa pada orang-orang dengan cita rasa humor yang rendah, semakin gampang tersinggung, semakin rendah pula imunitas tubuhnya,” Reza menandaskan.

Pemanggilan Polres Kepolisian Sula Maluku Selatan, ini juga disayangkan Barisan Kader Gus Dur. Dalam pernyataan DPP BARISAN KADER GUS DUR (BARIKADE GUS DUR) yang diteken Ketum, Priyo Sambadha, MBA dan Sekjen, Pasang Haro Rajagukguk, SH, MH, juga mengecam sikap Polisi.

Pertama, Mengecam keras sikap dan tindakan Polres Kepulauan Sula tersebut. Kedua,. Hal tersebut karena nyata-nyata telah mencederai nilai demokrasi dalam hal ini kebebasan rakyat dalam menyatakan pendapat. Ketiga, Apalagi yang bersangkutan hanya sekadar menyitir atau mengutip ucapan Almagfurllah Presiden RI ke 4 KH Abdurrahman Wahid sebagai bentuk halus kritik yang membangun dan menyehatkan. Sehingga memproses hukum yang bersangkutan sungguh tidak bisa diterima akal sehat,” tulisanya.

“Keempat, Jika kasus Sdr. Ismail Ahmad tersebut sampai dibawa kepada proses pidana, kami para kader Gus Dur akan sekuat tenaga mendampingi dan membela yang bersangkutan termasuk dalam proses legal formal,” tambahnya.

Kelima, Menghimbau kepada Bapak Kapolri untuk lebih memberikan pemahaman tentang demokrasi kepada para bawahannya utamanya para  penanggung jawab keamanan wilayah sehingga Polri mampu berfungsi sebagai pelindung dan pengayom masyarakat dalam alam demokrasi.

“Kami juga berharap Kapolres Kepulauan Sula segera dicopot  karena yang bersangkutan jelas tidak kapabel dalam jabatannya dan mebahayakan proses demokratisasi di tanah air. Perlu kami ingatkan kembali bahwa KH Abdurrahman Wahid  telah berjasa sangat besar terhadap perkembangan institusi Polri, antara lain dengan memisahkan Polri dari TNI. Sehingga Polri mampu lebih mandiri dan fokus terhadap tupoksinya yaitu keamanan negeri,” pungkasnya, Kamis (18/6/2020).

Cuma Dipanggil?

Kapolres Kepulauan Sula AKBP Muhammad Irvan menyatakan, tidak ada penangkapan terhadap Ismail Ahmad. “Hanya kami panggil untuk klarifikasi tentang niat atau mens rea (sikap batin) maksud memposting hal tersebut,” tutur Irvan saat dikonfirmasi, Rabu 17 Juni 2020.

Menurut Irvan, Ismail mengaku hanya iseng dan memang biasa menggunakan pernyataan dan kalimat tokoh untuk unggahan sosial media. “Yang bersangkutan minta maaf jika hal tersebut menyinggung institusi Polri, sehingga kami adaakan press release untuk minta maaf dan bilang bahwa yang bersangkutan tidak ada niat apa-apa,” jelas dia.

Irvan mengatakan, ini juga bertujuan agar masyarakat dapat bijak dalam bersosial media. Sekaligus menyampaikan terkait niat Ismail mengunggah kutipaj Gus Dur. “Setelah itu yang bersangkutan pulang,” Irvan menandaskan.

Apa pun, pemanggilan itu sudah menciderai hak berbicara. Apalagi kalau dilihat substansi humor Gus Dur, itu justur baik untuk Polri. Kalimat ‘Hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia: Patung Polisi, Polisi Tidur, dan Jenderal Hoegeng’, bukan berarti menghina polisi.

“Ini menunjukkan bahwa ada polisi jujur, seperti Jenderal Hoegeng. Kalau anggota Polri sekarang ingin jujur, maka, tirulah Jenderal Hoegeng. Bukankah begitu pesan penting Gus Dur,” komentar netizen. (ma)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry