Ketua Dekranasda Jawa Timur yang juga istri Wakil Gubernur Emil Dardak, Arumi Bachsin saat membuka acara pameran mitra pernikahan di Surabaya, Jumat (17/5). DUTA/endang

SURABAYA | duta.co – Prosesi adat pengantin tradisional syarat akan makna. Namun di era teknologi nampaknya makna tersebut mulai luntur bahkan hanya sekadar prosesi semata.

Tidak ingin filosofi, makna dan kesakralan budaya dalam setiap tahapan prosesi itu, membuat Asosiasi Pengusaha Jasa Dekorasi  Indonesia (Aspedi) berusaha untuk melakukan edukasi.

Edukasi terutama diberikan kepada anak-anak muda yang tertarik untuk mengembangkan bisnis pengantin tradisional ini.

“Sekarang sedang booming anak muda berbisnis ini tapi mereka tidak tahu dasar filosofinya. Jangan sampai semua tatanan budaya itu rusak gara-gara hal ini,” ujar Ketua Aspedi di sela Pameran Mitra Pernikahan di Surabaya, Jumat (17/5).

Karena itu, Sumitro merasa perlu untuk memberikan edukasi dan pelatihan bagi anak-anak muda ini agar mengerti dan memahani dari setiap prosesi adat pengantin tradisional.

“Agar mereka tahu jarit untuk orang tua tidak dipakaikan ke penerima tamu, begitu sebaliknya jarit untuk penerima tamu tidak dipakaikan ke orang tua,” tuturnya.

Diakui Sumitro, pengantin tradisional itu elegan, tidak kuno dan tidak akan ketinggalan zaman. Keberadaannya tidak akan mati dan tidak boleh mati. Karenanya peran generasi penerus itu sangat besar.

“Kita yang peduli akan kelangsungan ini, juga harus menularkan pada yang muda,” tukasnya.

Ketua Himpunan Perusahaan Penata Acara Nasional (Hartana), Agus Budi Sentoso menambahkan bentuk kepedulian orang-orang yang selama ini terlibat dalam setiap prosesi pengantin tradisional dengan menggelar pameran yang digelar selama beberapa hari di Surabaya.

Di pameran ini, banyak para mitra pernikahan yang hadir yakni pemangku adat, para perias, MC tradisional dan sebagainya.

“Di ajang inilah kita juga akan berikan edukasi bagi mereka yang tertarik untuk meneruskan bisnis pengantin tradisional. Sehingga mereka semua akan mengetahui dan memahami apa itu pernikahan tradisional yang sebenarnya,” jelasnya.

Pameran yang pertama kali digelar ini diharapkan bisa mendapat dukungan semua pihak terutama pemerintah daerah. “Sehingga nantinya kami bisa terus terlaksana,” tukasnya. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.