
SURABAYA | duta.co – Tantangan untuk mempertahankan Pancasila sebagai ideologi bangsa sangat banyak. Apalagi di zaman yang sudah semakin modern dan teknologi sudah semakin masif.
Tantangan-tantangan itu diungkap saat Seminar Nasional Kebangsaan, Karakter Bangsa : Satunya Kata dan Perbuatan, Refleksi Pemikiran Bung Karno, yang digelar Untag Surabaya mengisi Bulan Bung Karno, Selasa (6/5/2023).
Ketua Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA), J. Subekti mengatakan tantangan terberat adalah menjadikan Pancasila sebagai ideologi bangsa pada anak-anak muda.
“Adanya survei pada anak muda di Jakarta, Surabaya, Yogyakarta dan Makassar yang menyetujui mengubah Pancasila sebagai ideologi bangsa itu sangat menyedihkan dan memprihatinkan. Ini tantangan besar bagaimana membentuk anak-anak ini memiliki karakter Pancasila,” tuturnya di hadapan mahasiswa di Gedung Graha Widya Lantai 2.
Jika anak muda sebagian besar menyetujui mengubah ideologi bangsa kata Subekti, bagaimana nasib Indonesia ke depan. Karena mengubah Pancasila sama dengan menghilangkan dan melenyapkan Indonesia.
Namun kata Subekti, hasil survei itu tidak sepenuhnya salah anak muda di empat kota itu. Bisa jadi mereka salah menjawab survei atau mereka sudah diracuni paham intoleran dan budaya asing.
“Ini yang harus jadi perhatian. Kemungkinan belum menerapkan sistem pendidikan karakter yang dibutuhkan atau bisa jadi anak-anak itu tidak mendapatkan suritauladan yang baik dari orang-orang yang menjadi public figure,” jelasnya.
Salah satu pembicara Sekjen IKAL Strategic Center, Laksda TNI (Purn) Dr Surya Wiranto membahas tentang revolusi mental untuk mengubah kehidupan berbangsa dan bernegara. “Dan berbicara tentang gropolitik dan geostrategi itu tidak lepas dari Bung Karno,” tuturnya.
Dosen FiSIP Unair, Erlangga Pribadi dalam kesempatan yang sama menegaskan bahwa ada dua orang di Indonesia yang tidak selesai dibicarakan yakni Bung Karno (Soekarno) dan Gus Dur (Abdurrahman Wahid).
“Ketika memuji dan mengagumi dan mengenang kelahiram Bung Karno harusnya menyambung dan menjalankan gagasan Bung Karno yakni Pancasila,” tukasnya.
Erlangga menegaskan dirinya tidak membayangkan Indonesia tanpa menempatkan Soekarno sebagai pejuang. ril/end





































