SURABAYA | duta.co – HM Maksum Zuber, Mantan Sekjend PP IPNU mengaku prihatin kalau masalah PBNU tak kunjung selesai. Sebagai warga nahdliyin ia merasa kasihan kepada warga NU menyaksikan pimpinan organisiasi atau jamiyah saling pecat memecat.

“Hari ini (Selasa 9 Desember) katanya berlangsung Rapat Pleno untuk menetapkan Pj Ketum PBNU. Kami heran, bukankah nasehat kiai sepuh jelas, islah lebih beradab menyelesaikan masalah,” tegas Maksum kepada duta.co, Selasa (9/12).

Ia merasa malu, kalau pimpinan NU masih saling serang. Sementara kiai-kiai pesantren tanpa lelah menyerukan islah. Seperti disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya.“Seruannya jelas, mempercepat ishlah dan mengakhiri perselisihan. Kami menyerukan dengan penuh hormat agar kedua belah pihak segera melakukan ishlah. Masalah ini tidak boleh berlarut-larut, karena umat lebih membutuhkan keteladanan daripada perdebatan,” tegas Maksum mengutip sikap Pengasuh PP Cipasung.

Senin, 08 Desember 2025, KH Ubaidillah Ruhiat BA, Pengasuh Pondok Pesantren Cipasung berkirim surat ke PBNU. Selaku pimpinan Pondok Pesantren Cipasung perlu menyampaikan seruan terkait konflik Rais Aam dan Ketum PBNU. “Nahdlatul Ulama didirikan oleh para kiai pesantren, maka pesantren berhak dan wajib menyelamatkan NU,” jelasnya.

Untuk itu, lanjut KH Ubaidilah, ia mengingatkan bahwa Nahdlatul Ulama lahir dari rahim para kiai pesantren, pendiri dan penjaganya adalah para ahli ilmu yang penuh keikhlasan. Karena itu pesantren memiliki hak sekaligus kewajiban moral untuk ikut menjaga, mengarahkan, dan menyelamatkan NU dari segala keadaan yang berpotensi melemahkan marwah organisasi, meresahkan umat, dan menjauhkan dari tujuan awal pendiriannya.

“Syuriah adalah personifikasi kiai pesantren, Tanfidziyyah adalah santrinya. Kami mengingatkan juga, bahwa dalam tradisi NU: Syuriah menggambarkan kedudukan kiai sebagai penentu arah, penjaga nilai, dan pemegang kebijaksanaan. Tanfidziyyah adalah para santri, yang menjalankan amanat dan kebijakan dengan penuh taat, tawadhu’, dan hormat. Maka, kiai harus penuh kasih sayang, pemaaf, dan mempersatukan, sementara santri wajib taat, hormat, dan ta’zhim kepada kiai.

“Keduanya tidak boleh saling mempertajam perbedaan hingga menimbulkan fitnah,“ tambahnya.

Menurutnya, seruan untuk mempercepat ishlah dan mengakhiri perselisihan adalah penting. “Kami menyerukan dengan penuh hormat agar kedua belah pihak segera melakukan ishlah. Masalah ini tidak boleh berlarut-larut, karena umat lebih membutuhkan keteladanan daripada perdebatan. Banyak masalah mendesak, seperti Penanganan bencana yang menimpa wilayah Aceh dan Sumatera. Persiapan dan mitigasi bencana di wilayah-wilayah lain yang rawan. Penguatan sosial-keagamaan yang membutuhkan kesatuan dan keteduhan NU,” tambahnya.(mky)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry