Bripka Agung,anggota Polresta Sidoarjo ditengah disela kesibukan Wirausaha kuliner donut (dok/duta.co)

SURABAYA | duta.co –Pandemi covid-19  yang sudah berlangsung hampir dua tahun di Indonesia mengubah banyak paradigma dan kebiasaan masyarakat. Jutaan Pedagang Kaki Lima (PKL) di Indonsia terdampak dengan anjloknya omset jualan ddanya regulasi Perberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) bahkan sempat tidak boleh jualan mencegah penyebaran covid-19.

Namun di tengah penurunan dan terpuruknya jutaan PKL dan bisnis usaha lainnya justru memunculkan inovasi dan terobosan dari pejuang rupiah selama pandemi memanfaatkan platform digital. Semua lapisan masyarakat melakukan inovasi dan terobosan memanfaatkan platform digital untuk bisa bertahan dan mengembangkan diri.

Dan hasilnya, dengan menggunakan platform digital banyak bermunculan pejuang rupiah yang mampu bertahan dan sukses selama pandemi dari banyak profesi. Dari PKL tradisonal kini mulai memanfaatkan layanan digital, pelaku UMKM konvensional kini juga memperluas jaringan skala regional, nasional dan global menggunakan teknologi. Bahkan tidak sedikit profesi yang banting stir dengan menjajal jadi entrepreneur guna menambah pendapatan memanfaatkan kemudahan platform digital.

Adalah Bripka Dwi Agung Runsubekti anggota Polresta Sidoarjo geluti wirausaha kuliner donut selain tanggung jawab pekerjaan di kantor. Bripka Dwi Agung Runsubekti mampu menjalani dua profesinya selama tiga tahun ini dengan baik. Salah satunya kunci suksesnya dengan memanfaatkan platform digital kala pandemi sehingga penjualan tetap stabil bahkan meningkat.

Agung, begitu sapaan akrabnya, tidak pernah melalaikan tugasnya sebagai anggota Kepolisian Republik Indonesia. Meskipun di tengah kesibukannya, ia dapat membagi waktu mengembangkan wirausaha kuliner donut. Pagi selepas subuh, dari rumahnya di kawasan Buduran, ia berangkat menuju gerai donat miliknya di Jalan Raya Lebo, Suko Salam, Sidoarjo.

“Sampai toko saya langsung bikin adonan donat sendiri sampai pukul tujuh, setelahnya saya harus berangkat dinas ke Polresta Sidoarjo,” ungktap pria kelahiran Banyumas, Jawa Tengah, 19 Juli 1986 ini.

Bagi suami dari Dwi Fitri Fitaloka tersebut, dunia kuliner adalah hobi sejak kecil. Sering kali ia jalan-jalan sambil kulineran. Dari pengalaman hobinya itulah, bapak dua anak ini terbesit keinginan berwirausaha kuliner.

“Pikiran saya membuat sendiri dan menjual makanan yang sering diburu orang, lalu mudah atau ringan saat dibawa orang bepergian. Saya sama istri muncul ide membuat kue donat,” kenangnya.

Ditambah tiga tahun lalu ia ngobrol sama seorang teman, yang punya kepiawaian membuat donat. Gaung pun bersambut. Keduanya berkolaborasi meramu berbagai resep donat tidak berbahan kentang. Melainkan dari tepung pilihan berkualitas ekspor.

Semangat Bripka Agung semakin menggelora. Semakin percaya diri untuk membuka usaha dari hobinya kuliner. Ia pun memulai buka gerai dengan nama E Donuts, hingga eksis bertahan sampai sekarang. Bahkan tidak hanya melayani pembelian di gerai, ia juga memasarkan donat buatannya untuk berbagai acara pesta. Omset tiap bulan dari satu gerai mencapai  Rp 15 juta. Hingga mampu membuka dua gerai lagi.

Pasang surut dalam berwirausaha dialaminya. Saat gelombang Pandemi Covid -19 datang. Omset penjualannya turun drastis. Bripka Agung harus merelakan dua gerai miliknya gulung tikar.  Hanya bertahan gerai di Jalan Raya Lebo.

Dalam situasi pandemi banyak berimbas pada kalutnya perekonomian. Bripka Agung harus mencari jalan keluar. Berbekal wawasan strategi yang didapati jadi anggota Polri. Tangan trampilnya, menggerakan untuk membikin adonan kulit pizza, burger dan hotdog.

“Kita harus move on dari pandemi. Sambil terus memasarkan donat, saya memasarkan kulit pizza, burger dan hotdog buatan sendiri via online. Permintaan dari penjual makanan ini terus banyak, Alhamdulillah perlahan usaha saya kembali bangkit salah satunya via platform digital. Pelanggan kini dengan mudahnya memesan dari smratphone android khususnya GoFood,” ulasnya.

Inspirasi  Cak Rusdi Sukses jadi Pedagang Nasgor

Cak Rusdi, pedagang nasi goreng yang berjualan di Sentra Wisata Kuliner (SWK) Dharmahusada, Surabaya, Jawa Timur. (dok/duta.co)

Berawal ketekunan dan kegigihan berjualan nasi goreng, Cak Rusdi, pedagang nasi goreng yang berjualan di Sentra Wisata Kuliner (SWK) Dharmahusada, Surabaya, Jawa Timur. Pria usia 40 tahun ini meneruskan usaha keluarga yang sebelumnya dilakoni ayah mertuanya selama puluhan tahun di pinggir jalanan Jl. Dharmahusada, Kecamatan Gubeng, Surabaya mulai pertengahan tahun 2008. Pengalaman lengkap di jalanan pun dirasakan pria bernama lengkap Rusdi, dari dikejar Satpol PP, diminta pindah lokasi, rugi karena gagal jualan, dan lain sebagainya.

Ketika Pemerintah Kota Surabaya memutuskan relokasi PKL pinggir jalan ke beberapa Sentra Wisata Kuliner (SWK) pada tahun 2016, yang diikuti oleh populernya aplikasi Gojek di Surabaya.

“Awal-awal dulu banyak yang ga mau pindah (dari tenda), katanya kalo di dalam sepi, tetapi wes cobain aja. Terlihat bahwa sekarang semakin rame, saya pribadi juga memutuskan tetap di SWK. Kemudian tak terasa, tahun 2016-2017 teman-teman dari Gojek menawarkan para pedagang SWK untuk bergabung, awalnya belum langsung gabung, eh tetapi semua orang (pedagang lain) tiba-tiba rame pesanan dan akhirnya bergabung. Tak terasa lima tahun berlalu dan sangat terasa sekali dukungan dari Gojek lewat GoPay dan GoFood. Karena penjualan lewat online itu langsung masuk rekening, berasa kayak nabung dan ga kerasa, kayak kencengan. Karena biasanya kalo cash gampang dihabiskan. Saya senangnya disitu, lewat GoFood, kita bisa menabung dari keuntungan pribadi.”

Cak Rusdi berjualan beberapa menu seperti nasi goreng jawa, nasi goreng mawut, nasi goreng krengseng, mie goreng, bihun dan yang lainnya mengandalkan resep keluarga.

“Karena favorit warga lokal, banyak langganan dari warga sekitar. Lewat aplikasi Gojek, awal-awal saya bikin promo sendiri dan biasanya ikut kampanye-kampanye. Dengan promo dan cashback yang awal-awal dilakukan Gojek itu banyak banget pelanggan yang beli menggunakan GoPay. Sejak bergabung dengan Gojek, semakin banyak warga yang mengenal saya dan jadi langganan juga mesan aplikasi GoFood. Istilahnya, pelanggan lama jadi sering mesen, (pelanggan) yang baru jadi kenal karena GoFood. Yang awalnya tidak mengerti, ketika ikut jadi rame. Seiring jalan, pemasukan juga bertambah dan saya sangat senang sekali bahwa terbukti pemanfaatan teknologi ini dapat membantu saya dan teman-teman pedagang disini.”

 Saat Pandemi, dimana beberapa SWK harus persingkat jam operasional sebelum jam 8 malam, bahkan sempat ditutup penuh.

“Satu setengah tahun kebelakang itu sangat sulit sekali, sehingga siang juga harus kerja yang lain, karena tidak ada pemasukan. Padahal disisi lain, pengeluaran pasti ada kayak cicilan, uang sekolah anak. Apalagi sempat tidak boleh makan di lokasi. Disitulah GoFood sangat membantu menjadi solusi. Prinsipnya kalau jualan, semangatnya ga boleh patah arang karena semua demi keluarga. Terbukti dari sejak 2006, hasil paling besar saya rasakan bulan puasa kemarin (Mei 2021) ketika dari tabungan saya selama ini berhasil beli rumah sendiri dari awalnya kontrak, sehingga bisa dekat dengan sentra kuliner dan tidak perlu pindah-pindah lagi.”

Melihat gerakan nasional #BangkitBersama yang digagas grup GoTo yang dimulai dari daerah-daerah, termasuk Surabaya, Cak Rusdi mengimani hal tersebut, seraya memberi pesan bagi teman-teman UMKM. “Buat temen-temen yang terdampak tetap semangat, tetap berusaha demi keluarga sekuat tenaga. Kita tidak boleh menyerah dan harus maju terus berusaha, dengan cara bagaimanapun baik online maupun offlinebiar pulih seperti dulu. Apalagi kini Gojek dan Tokopedia bergabung, peluang kita bisa lebih ramai. Harapan bergabungnya Gojek dan Tokopedia, dapat membantu pengusaha UMKM bangkit bersama dan jadi ramai lagi!”

Tidak jauh dengan yang dilakukan Bripka Dwi Agung Runsubekti sukses padukan offline dan online, juga Cak Rusdi, beberapa pedagang asongan skala kecil dan menengah juga  memanfaatkan platform digital untuk memperluas pasar sekaligus enyiasati saat pandemi.

Ria, pedagang martabak usus dan lain ain bertahan demi kebutuhan di masa pandemi, berjualan kawasan Gading Fajar harus memutar otak agar dapat dapat bertahan di masa krisis ekomoni seperti saat ini.  Ria meski jualannya skala kecil tetap memanfaatkan platform digital untuk meningkatkan omset penjualannya.

“Untuk stand penjualan Alhamdulillah ini sewa, seharga Rp.20 ribu/perhari. Dengan menggunakan platform digital, secara perlahan penjualan juga stabil bahkan meningkat,” ujarnya.

Sebelum Ria berdagang martabak, ia bersama suami berdagang bubur kacang ijo selama 7 tahun dari tahun 2015 silam.

Langkah yang sama dilakukan  Kisah Supi, Jual Jus dan Es Buah yang sukses bertahan di Masa Pandemi Covid-19 di kawasan Gading Fajar, Sidoarjo. Ibu 2 anak jualan jus dan es buah di kawasan Gading Fajar Sidoarjo yang terkenal dengan kawasan pedagang kaki lima.

Tak mau kalah dengan pedagang lain, Ibu Supi juga memanfaatkan platform digital dengan cara sederhana yakni menyebar aneka produk jualannya di media social dan GoFood. Dagangan yang dijual Supi merupakan aneka ragam olahan buah seperti sop buah, es campur, es teler, dan beragam jus buah. Supi mematok harga pada umumnya pedagang jus dan es buah, hanya berkisar 7 ribu hingga 12 ribu rupiah.

“Sharing di media social dan ikut platform digital berpengaruh besar pada peniingkatan omset. Sama semua harga jus dan es buah pedagang disini, yang mahal itu buah yang ngga musim. Kayak buah alpukat, mangga, sama naga itu ngga setiap hari ada jadi ya harga nya beda sendiri.” ungkap Supi.

Rachmad K Dwi Susilo, MA., Ph.D sosialogo dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengatakan fenomena yang dilakukan para pelaku UMKM dengan inovasi produk dan pemasaran memang harus dilakukan seiring tuntutan kebutuhan yang meningkat sementara pemasukan berkurang karena omset turun.

“Kepraktisan pasti sisi positif masyarakat, namun industri online pasti mengais banyak keuntungan yang didapatkan. Masyarakat makin paham, cara mudah membeli produk, sementara penjual memanafaatkan untuk memperluas segmen pasar kala sepi saat pandemi dengan banyaknya aturan pembatasan,” jelasnya.

Dalam sosiologi ada istilah surveillance capitalism. Dimana UMKM diuntungkan karena kemudahan memasarkan barang dagangan. Pemasaran ini mengganti sistem marketing konvensional. Pendapatan UMKM naik. Selain itu, pengenalan aplikasi kepada masyarakat awan dan gaptek teknologi harus terus dilakukan agar meningkatkan daya serap teknologi.

“Kalau pengalaman saya di tokopedia kurang membantu. Toko saya di tokopedia sepi. Yang jalan do shopee. Karena aplikasi  di tokopedia kurang familiar.”

Untuk memaccu UMKM tetap eksis dalam kondisi apapun, jelas Rahmad seharusnya pemerintah memberikan pendidikan online kepada pelaku UMKM supaya bisa go-to online. Karena tidak semua pelaku UMKM bisa membaca peluang pasar, terutana bidang online.

“Karena pengalaman istri saya selama pandemi malah produksi meningkat pasar makin luas memanfaatkan platform digital untuk pemasaran,” jelas Rahmad. Imm

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry