SURABAYA | duta.co – Meski belum tahu di mana Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) digelar, tetapi, kapan perhelatan besar itu dilaksanakan, jelas, awal Austus 2026. Kini, mulai ramai siapa kandidat Rais Aam dan Ketua Umum PBNU nanti. “Saya yakin, yang pegang kendali NU nanti Rais Aam. Lembaga ini akan menjadi penentu siapa Ketua Umum PBNU mendatang,” tegas Drs Abd Kholiq, mantan pengurus Banom NU Jawa Timur kepada duta.co, Sabtu (30/5/26).

Hal yang sama disampaikan sumber duta.co di PBNU Jakarta. Dalam pandangannya, sosok Rais Aam terpilih akan menentukan siapa Ketum PBNU mendatang. Ini belajar dari dinamika PBNU kemarin. “Kalau petahana yang jadi, maka, dipastikan akhir dari kelompok Gus Yahya (Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf red). Sebaliknya, kalau Rais Aam berganti orang, kemungkinan Gus Yahya tetap memimpin organisasi ini,” tegasnya.

Diakui, jelasnya, banyak PCNU yang menilai kepemimpinan Gus Yahya masih sangat dibutuhkan untuk NU ke depan. Latar belakangan pendidikan serta lingkungan Gus Yahya dinilai sebagai asset yang tak dimiliki calon lain. “Di samping itu, hanya Gus Yahya yang berani melawan dominasi politik praktis. Dia yang berani pasang badan demi khittah-26 NU. Seluruh Parpol berjarak sama, dan NU bukan Banom Parpol tertentu,” tegasnya sambil tersenyum.

Yusuf Mars (dok/duta.co)

Lewat rubrik kolom, Yusuf Mars, Kandidat Doktor Sejarah Peradaban Islam UNUSIA, Dosen Komunikasi Universitas Sunan Gresik (USG), yang juga Founder LASKAR NUSA (Lembaga Strategis Kajian Peradaban Islam Nusantara &  Asia Tenggara), Founder PadasukaTV, juga memberikan apresiasi yang sama terkait banyaknya calon Ketum.

“Di permukaan, perhatian publik banyak tertuju pada dua figur utama, yakni Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) sebagai petahana dan Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang memiliki posisi strategis dalam operasional organisasi. Keduanya memiliki modal politik, jaringan, dan basis dukungan yang tidak dapat dipandang sebelah mata,” katanya.

Namun, tambahnya, Muktamar NU tidak boleh hanya sekadar menjadi arena perebutan kekuasaan. Sejarah NU menunjukkan bahwa yang dicari bukan hanya figur yang kuat, melainkan figur yang mampu menjaga keseimbangan, merawat persatuan, dan menjadi titik temu dari beragam kepentingan yang hidup di dalam jam’iyah.

Bicara soal sosok Rais Aam, nama PP Lirboyo, Jawa Timur kini menjadi acuan. Kabarnya, sosok KH Kafabihi Mahrus, pengasuh PP Lirboyo, terus didorong banyak pihak menjadi kandidat kuat Rais Aam PBNU. Kiai ini dinilai sebagai sosok yang alim, faqih, dan zahid, menjadikannya figur yang sangat kompeten untuk memimpin lembaga tertinggi syuriyah NU dan menjaga marwah ulama. “Saya melihat PP Lirboyo akan menjadi rujukan PCNU, tinggal bagaimana komposisi AHWA (ahlul halli wal aqdi) dalam Muktamar ke-35 NU nanti,” tegas sumber tersebut.

KH Imam Jazuli Lc., MA, pun mengakui bahwa KH Kafabihi Mahrus adalah sosok tepat sebagai Rais Aam. “Dalam diskursus kepemimpinan NU, posisi Rais Aam bukan sekadar jabatan administratif, melainkan manifestasi dari maqam (kedudukan) spiritual dan intelektual tertinggi. Ia adalah penjaga gawang ideologi sekaligus kompas moral bagi jutaan nahdliyin,” tulisnya.

Di tengah disrupsi zaman yang kian menderu, sosok KH Kafabihi Mahrus muncul bukan hanya sebagai kandidat, melainkan sebuah kebutuhan sejarah bagi struktur PBNU. Alasannya banyak mengapa pengasuh PP Lirboyo ini merupakan figur yang kompeten untuk mengemban amanah sebagai Rais Aam.

“NU tidak bisa dilepaskan dari pesantren, dan membicarakan pesantren di Indonesia mustahil tanpa menyebut Lirboyo. Lirboyo adalah “pabrik” pencetak ulama. Ribuan alumni yang tersebar di seluruh pelosok negeri merupakan grassroot yang solid. Memilih Kiai Kafabihi berarti menyambungkan kembali kabel struktural PBNU dengan basis kultural paling organik di Indonesia,” tulis Kiai Imjaz panggilan akrabnya.

Gus Yahya, cucu dari pendiri Pesantren Raudlatut Thalibien Rembang sekaligus ulama penyusun Kitab Tafsir Al-Ibriz, yaitu KH Bisri Mustofa sendiri, konon tidak ada masalah siapa pun Rais Aam terpilih. Apalagi posisinya sebagai Ketum PBNU sudah pulih kembali. “Dan PCNU se-Indonesia bisa memahami setelah Gus Yahya menjelaskan kontroversi itu. Meminjam bahasa Gus Ulil Abshar Abdalla, di inilah.com, Gus Yahya dipastikan maju lagi dalam Muktamar ke-35 NU mendatan,” pungkas sumber tadi. (mky)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry