Gus Rozaq, Sekretaris BKSN

SURABAYA | duta.co – Pernyataan pengusaha sukses dan pendiri Mayapada Group, Dato Sri Tahir, bahwa, dalam empat tahun terakhir sejak Joko Widodo (Jokowi) menjabat presiden, perekonomian Indonesia maju pesat alias jauh lebih baik, dibantah BKSN.

Sekretaris Barisan Kyai dan Santri Nahdliyin (BKSN), Gus Rozaq, menyebut klaim Dato Sri Tahir lebih mewakili sebagai tim sukses atau ABS (Asal Bapak Senang). Tahir tidak tahu, atau bahkan tidak mau melihat fakta yang ada di lapangan.

“Mereka itu kelewat kaya, sehingga silau melihat rakyat miskin. Hari ini rakyat menjerit, di samping harga kebutuhan bahan (makanan) yang terus naik, lapangan kerja kian sempit. Sudah begitu subsidi BBM dibabat habis. Kondisi di bawah benar-benar susah. Kita berada di bawah bayang-bayang utang pemerintah yang kian menggunung,” tegas Gus Rozaq kepada duta.co, Sabtu (10/11/2018).

Seperti dibertikan, Tahir, dalam diskusi bersama Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dan Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko di Jakarta, Jumat (9/11), merinci tiga kemajuan yang dilihat pengusaha dari pemerintahan Jokowi.

Pertama, pembangunan infrastruktur yang hebat. Menurut dia, pembangunan infrastruktur dilakukan merata sehingga tercipta keadilan ekonomi dan membuka peluang untuk investasi baru.

Kedua, masa tunggu antrean di pelabuhan sudah tidak bermasalah lagi. Dulu waktu tunggu di pelabuhan mencapai 15 hari, sekarang paling lama tiga hari. Kemajuan ini bisa menurunkan cost dan meningkatkan daya saing pengusaha.

Ketiga, selama pemerintahan Jokowi, perjanjian dagang banyak dilakukan sehingga membuka akses pasar untuk ekspor. Semakin banyak ekspor maka perekonoman tentu membaik.

“Selama empat tahun terakhir sudah banyak kemajuan Indonesia,” ujar Tahir, dalam diskusi bertajuk “Solidaritas Untuk Indonesia Lebih Baik” yang diadakan Mayapada Group di Jakarta Convention Center (JCC).

Apa yang Bisa Dibanggakan?

Klaim Tahir ini, menurut Gus Rozaq, tidak jelas ukurannya. Parameter keberhasilan presiden itu, ujarnya, tidak cukup dilihat dari pembangunan jalan tol. Baru bisa dibilang hebat, berhasil, kalau presiden bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan, bisa menurunkan harga barang, menguatkan daya beli masyarakat, menekan nilai tukar dolar.

“Kriteria presiden berhasil itu juga bisa dilihat dari kekuatan bayar hutang negara, setidaknya menekan hutang negara agar tidak menggelembung. Bukan sebaliknya, menumpuk hutang. Kalau bikin tol dengan duit hutang, siapa yang tak bisa? Dari sini apa yang dibanggakan dari pemerintahan sekarang? Jadi, kalau dibilang ekonomi era Jokowi meroket, itu mungkin dilihat dari langit,” jelasnya sambil tersenyum. (ind,bsc)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.