“…..mulai sekarang  lupakan Abu Janda, jangan baca lagi tulisan Denny Siregar, saatnya berani mengkritisi kebijakan ketuanya (Yaqut yang berbau politik) dan kembali kepada ajaran mBah Hasyim Asy’ari dengan konsep Aswaja an-nahdhiyah.”

Oleh: Mukhlas Syarkun*

BANSER dulu disayang banyak orang, karena memang teguh dalam khittah perjuangan menjaga ulama dan NKRI, idolanya KH Yusuf Hasyim, rujukannya kitab Aswaja An-nahdhiyah.

Namun sekarang, nasibmu benar-benar malang. Sejak Muktamar ke-33 NU Jombang, Banser tak lagi bisa disebut menjaga ulama, karena (saat itu) sempat bergaduh dengan para ulama (dalam video kejar kejaran) di arena Muktamar.

Sikap dan pemikirannya tidak lagi mencerminkan Aswaja an-nahdhiyah, tapi diganti dengan pemikiran Islam Nusantara (menurut Katib Aam adalah Islam sejati, yang lain Islam Arab adalah Islam penjajah), idolanya bukan lagi sosok patriotis seperti KH Yusuf Hasyim (sebagai pendiri Banser), tetapi pegiat sosial al-mukarrom Abu Janda.

Lebih celaka lagi kini Banser dikendalikan oleh ketuanya seorang politisi yang narasinya berbau provokasi tidak memperlihatkan seorang pimpinan yang bijak, tetapi kental dengan politik praktis yang penuh dengan kepentingan sesaat.

Sungguh malang nasib Banser, sebab kini disuguhi sosok Abu Janda, bacaannya tulisan Denny Siriger (tidak mencerahkan, tetapi provokasi dan adu domba), lengkap sudah, semua itu membuat Banser kini  menjadi makhluk lain karena salah asuh, militansinya tinggi namun minus literasi, prinsip Aswaja yang  i’tidal, tawasut, tawazun dan tawadhu’ kini sirna dari alam pikiran dan alam sadar adik-adik  Banser.

Semua itu berdampak pada ketidakmatangan bersikap dalam merespon dinamika sosial politik dan tidak tasamuh (toleran) dalam menghadapi ikhtilaf ra’yi wa siyasi, dan akhirnya mendapat setigma negative sebagai pembubar pengajian, tidak toleran dan selalu merasa sok NKRI, dan tanpa disadari akhirnya terperosok membakar bendera yang bertuliskan kalimah tauhid.

Jangan Baca Tulisan Denny Siregar

Meskipun  kontroversi apakah membakar salah atau benar? Ini tentu dalam perdebatan, dan bisa saja dibenarkan karena diyakini Banser tidak membakar kalimah tauhid (karena tiap hari membaca kalimah tauhid), tetapi yang dibakar adalah sikap provokasi dari aktivis HTI itu sendiri, seperti nabi pernah merobohkan masjid Dhiror yang dibangun oleh kaum munafiq, yang dirohohkan adalah kemunafikan dari kaum munafiq.

Namun tetap saja publik melihat lain, bahwa  membakar kalimah tauhid itu melanggar etika dan bahkan kini masuk dalam ranah pidana.

Satu hal yang paling penting dari  peristiwa ini, semua itu harus dijadikan moment bermuhasabah, supaya adik-adik Banser disayang oleh semua orang seperti dulu kala, maka dari itu, mulai sekarang  lupakan Abu Janda, jangan baca lagi tulisan Denny Siregar, saatnya berani mengkritisi kebijakan ketuanya (Yaqut yang berbau politik) dan kembali kepada Ajaran mBah Hasyim Asy’ari  dengan konsep Aswaja an-nahdhiyah,  sehingga kelak Banser tetap disayang  dengan sikapnya yang i’tidal (tegak lurus), tawazun (seimbang), tawasut (moderat), tasamuh (toleran) dan tawadhu’ (rendah hati), karena dari situlah kekuatan Banser yang sessungguhnya dan sekaligus menjadi daya pikat yang sangat dahsyat. (*)

*Mukhlas Syarkun adalah Pengurus Pusat  GP Ansor tahun 2000-2010.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.