SURABAYA I duta.co — Pengusaha rokok asal Jawa Timur, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, menyatakan telah menyelesaikan tahap awal pembangunan usaha rokok yang ia rintis melalui sejumlah perusahaan yang berada dalam jaringan Bandar Rokok Nusantara Global Grup atau BARONG Grup.

Tahap awal tersebut mencakup pembentukan dan legalitas berbagai perusahaan yang bergerak di bidang rokok, tembakau, hingga distribusi.

Gus Lilur, sapaannya, menjelaskan bahwa saat ini telah menyiapkan enam induk perusahaan rokok. Dari enam perusahaan tersebut, lima di antaranya telah selesai proses legalitasnya, sementara satu perusahaan masih dalam proses pengurusan legalitas.

Dari lima perusahaan yang telah memiliki legalitas lengkap, satu perusahaan bahkan sudah memiliki pabrik rokok dengan seluruh perlengkapannya.

Enam perusahaan rokok yang ia dirikan adalah Rokok Bintang Sembilan dengan singkatan RBS, Bandar Rokok Nusantara dengan singkatan BARON, Joko Tole Nusantara dengan singkatan JOLENTARA, Madura Tembakau Nusantara dengan singkatan MADANTARA, Bandar Rokok Nusantara Global dengan singkatan BARONG, serta Madura Indonesia Tembakau dengan singkatan MASAKU.

Selain perusahaan rokok, Gus Lilur juga membangun dua induk perusahaan tembakau yaitu Nusantara Global Tobacco dengan singkatan NGO serta Bandar Tembakau Indonesia yang dikenal dengan nama BAKAU Indonesia.

Untuk memperkuat jaringan logistik dan distribusi, ia juga mendirikan satu induk perusahaan distribusi bernama Angkut Barang Seluruh Nusantara yang disingkat ABANG SETARA.

Menurutnya, setelah tahap legalitas selesai, fokus berikutnya adalah ekspansi usaha berskala besar. Ia menegaskan bahwa rencana pengembangan ini menggabungkan konsep usaha rakyat dengan skala konglomerasi industri.

“Saya merasa sudah selesai dengan persiapan tahap awal usaha, yaitu legalitas usaha. Langkah selanjutnya yang sedang saya rancang dan siapkan adalah ekspansi usaha,” katanya, dalam keterangannya, Ahad (15/3/2026).

Dalam rencana ekspansi tersebut, ia akan membangun gudang tembakau besar di tiga provinsi yaitu Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Tengah. Di Jawa Timur, gudang tembakau akan dibangun di Sumenep, Pamekasan, Situbondo, Probolinggo, Lumajang, Jember, dan Banyuwangi.

Di wilayah Nusa Tenggara Barat gudang tembakau direncanakan berdiri di Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Kota Mataram. Sementara di Jawa Tengah gudang tembakau akan dibangun di Temanggung, Wonosobo, Demak, Kudus, Pati, Magelang, dan Jepara.

Selain membangun gudang tembakau, Gus Lilur juga merancang pembangunan sembilan belas pabrik rokok besar di sembilan belas kabupaten di tiga provinsi tersebut. Sebanyak tujuh belas pabrik akan berdiri di daerah yang juga memiliki gudang tembakau, sedangkan dua pabrik lainnya akan dibangun di wilayah yang tidak memiliki gudang tembakau, yaitu di Sidoarjo dan Malang.

Ia menyebutkan bahwa pabrik-pabrik tersebut akan dikembangkan sebagai pabrik rokok level menengah hingga pabrik besar dengan standar skala internasional.

Namun demikian, Gus Lilue menegaskan bahwa konsep bisnis yang ia bangun tidak hanya berorientasi pada industri besar. Ia juga berencana membangun dan membina perusahaan rokok skala kecil dan menengah atau PR UMKM di berbagai daerah.

Di tujuh belas kabupaten yang akan memiliki gudang tembakau, ia berencana mendirikan ratusan perusahaan rokok UMKM. Setiap perusahaan rokok UMKM tersebut nantinya hanya akan mempekerjakan sekitar dua puluh karyawan.

“PR UMKM ini hanya akan mempekerjakan dua puluh karyawan per PR. Namun jika saya membangun, membina, dan membiayai dua ribu PR UMKM di tujuh belas kabupaten di tiga provinsi, maka artinya saya akan memiliki empat puluh ribu karyawan,” ujarnya.

Perusahaan rokok UMKM tersebut akan menjalankan sistem produksi manufacturing atau maklun dengan fokus pada enam jenis rokok kretek yang menggunakan enam jenis tembakau berbeda dari berbagai daerah penghasil tembakau di Indonesia.

Jenis rokok tersebut meliputi Virginia Blend yang menggunakan tembakau Lombok, Oriental Blend yang menggunakan tembakau Madura, Burley Blend yang menggunakan tembakau dari Jember dan Banyuwangi, Besuki Blend yang menggunakan tembakau Situbondo, Lumajang Blend yang menggunakan tembakau Lumajang, serta Srintil Blend yang menggunakan tembakau Temanggung.

Menurutnya, integrasi antara sembilan belas pabrik rokok besar dengan dua ribu perusahaan rokok UMKM tersebut diharapkan mampu melahirkan kekuatan industri rokok nasional yang besar dan berdaya saing global.

“Maka dari Republik Indonesia akan lahir pengusaha rokok raksasa yang akan mampu menjadi kaisar rokok dunia,” katanya.

Ia menambahkan bahwa gagasan besar tersebut tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan bisnis, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan petani tembakau dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat.

“Pengusaha murni yang hanya berorientasi pada keuntungan tentu itu bukan saya. Saya selalu berdoa kepada Sang Kuasa agar Sang Pemilik Alam Semesta menitipkan rezeki miliaran hamba-Nya di tangan saya,” ungkapnya.

Gus Lilue menyebut konsep, strategi, serta rencana bisnis tersebut ia rampungkan saat berada di Manila, Filipina. “Dari kamar 1210 Hotel Sheraton Manila Bay di Manila Filipina, pada hari Ahad 15 Maret 2026 pukul 12.24 waktu Manila, konsep, strategi, rencana bisnis dan usaha rokok untuk menjadi kaisar pengusaha rokok dunia saya selesaikan pembuatannya,” ujarnya.

Ia berharap rencana tersebut mendapat dukungan serta keberkahan dalam pelaksanaannya. “Semoga Allah menyertai seluruh rencana ini dengan ridho dan ma’unah-Nya. Aamiin. InsyaAllah. MasyaAllah. Bismillah,” katanua.

Ia juga menyampaikan harapan agar gagasan tersebut dapat menginspirasi masyarakat Indonesia, khususnya dalam mengembangkan potensi tembakau nasional.

“Semoga berfaedah dan menginspirasi Indonesia agar tidak ada lagi warga negara Indonesia yang tidak bangga menjadi warga negara Indonesia. Saatnya petani tembakau Indonesia kaya, saatnya rokok Indonesia berjaya, saatnya Republik Indonesia jaya raya,” pungkasnya. (zi)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry