PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) melalui anak usaha PT Global Onkolab Farma (GOF) meresmikan dimulainya operasionalisasi fasilitas produksi radioisotop dan radiofarmaka, khususnya Fluorodeoxyglucose (FGD), untuk keperluan deteksi dini penyakit kanker. (dok/duta.co)

SIDOARJO | duta.co – Penderita kanker di Indonesia terus bertambah tiap tahunnya, sementara radioisotop dan radiofarmaka, khususnya Fluorodeoxyglucose (FGD), untuk keperluan deteksi dini penyakit kanker yang tersedia sangat minim. Kalaupun ada jumlahnya terbatas dan tidak semua RS punya, dan kalaupun bisa memproduksi hanya untuk terbatas di RS bersangkutan.

Atas pertimbangan itulah, PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) melalui anak usaha PT Global Onkolab Farma (GOF) meresmikan dimulainya operasionalisasi fasilitas produksi radioisotop dan radiofarmaka, khususnya Fluorodeoxyglucose (FGD), untuk keperluan deteksi dini penyakit kanker.

Peresmian fasilitas produksi ini dihadiri Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), Taruna Ikrar, M.Biomed, PhD; Direktur Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Dr. Jeffry Ardiyanto, MApp Sc; Deputi Bidang Pengkajian Keselamatan Nuklir Bapeten, Haendra Subekti SR MT; dan Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Mulia Lie.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), Taruna Ikrar mengatakan radiofarmaka sangat dibutuhkan masyarakat, khususnya di Indonesia Timur. Dengan waktu paru yang sangat singkat maka, keberadaan fasilitas produksi radiofarmaka di Sidoarjo akan bermanfaat. Ia menjelaskan yang dimaksud dengan waktu paru adalah waktu tertinggi obat tersebut memberikan efek kepada penyakit pasien. Oleh karena jika radiofarmaka yang dikirim ke Indonesia Timur dari Jakarta maka, akan kehilangan waktu paru.

“Tapi kalau diproduksi di Jawa Timur, tentu jaraknya ke Makassar cuma waktu 1 jam bahkan kurang. Jadi masih spesifik untuk penggunaannya, lebih tepat dan efisien serta efek yang lebih bagus,” jelasnya disela peresmian di Sidoarjo, Senin 15 Desember 2025.

Mulia Lie memberikan apresiasi setinggi-tingginya untuk support yang telah diberikan oleh para pemangku kepentingan khususnya Kementerian Kesehatan RI, Badan POM RI dan Bapeten RI yang telah sangat membantu khususnya dalam mengakselerasi perijinan yang diperlukan untuk pendirian fasilitas ini dengan tetap memperhatikan aspek compliance dan safety secara ketat. Sertifikasi CPOB dari Badan POM diterima dalam 33 hari kerja dan NIE diterima dalam waktu 5 hari kerja. Begitu juga ijin operasional dari Bapeten diterima dalam 45 hari kerja.

“Peresmian fasilitas produksi radioisotop dan radiofarmaka ini merupakan bagian dari komitmen Kalbe untuk terus memperluas akses kesehatan bagi masyarakat, terutama dalam penanganan penyakit kanker. Saat ini, PT GOF telah membangun dua fasilitas, yaitu di Jakarta dan Sidoarjo (Jawa Timur),” ujar Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Mulia Lie.

Lebih lanjut, Mulia Lie mengatakan bahwa fasilitas produksi radiofarmaka yang memproduksi Fluorodeoxyglucose (FGD) ini sangat diperlukan untuk menunjang layanan pemeriksaan Positron Emission Tomography and Computed Tomography Scanning (PET/CT-Scan) yang ada di rumah sakit. Ia berharap produksi radiofarmaka Kalbe dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah sakit dalam pemeriksaan PET/CT-Scan sekaligus membantu memperluas akses ke lebih banyak pasien kanker untuk menjalani terapi kanker secara komprehensif.

“Radiofarma produksi dalam negeri ini merupakan wujud nyata kontribusi perusahaan untuk kemandirian kesehatan di Indonesia. Melalui fasilitas produksi di Sidoarjo Jawa Timur ini, kami ingin memastikan bahwa rumah sakit di Jawa Timur, Bali, hingga Sulawesi, dapat memperoleh radiofarmaka secara lebih cepat dan terjangkau,” jelas Mulia Lie.

PET/CT-Scan adalah pemeriksaan pencitraan medis tingkat lanjut yang memberikan informasi mendetail tentang fungsi organ atau sistem dalam tubuh, khususnya untuk mendeteksi adanya penyakit kanker. Pelayanan PET/CT-Scan berkaitan erat dengan ketersediaan radiofarmaka, salah satunya FDG (Fluorodeoxyglucose). Sayangnya, fasilitas produksi produk radioisotop dan radiofarmaka dalam negeri yang tersertifikasi masih sangat terbatas.

Kanker menjadi salah satu penyebab kesakitan dan kematian utama di Indonesia, tetapi sebagian besar penderita kanker datang ke rumah sakit ketika memasuki stadium akhir. Untuk itu, perlu upaya memperkuat deteksi dini terhadap penyakit kanker.

“Saat ini Kalbe telah menjalin kerja sama dengan sejumlah rumah sakit untuk pemanfaatan radiofarmaka, tidak terbatas pada tatalaksana kanker/onkologi saja, namun diharapkan dapat digunakan untuk penilaian jantung, neurologi, alzheimer, gangguan psikiatri/mental serta di bidang-bidang lain di dunia kedokteran,” tutur Mulia Lie.

“Kerja sama antara Kalbe dengan pihak rumah sakit dapat memberikan nilai tambah pada layanan Oncology Center, yang ada di rumah sakit, seperti penyediaan dan pengembangan berbagai macam obat kemoterapi, layanan radioterapi dengan mempersiapkan penyediaan radiofarmaka untuk mendukung layanan PET/CT-Scan ke depannya, serta layanan kanker lainnya seperti produk nutrisi untuk perawatan kanker,” kata Mulia Lie lagi. Imm

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry