BLITAR | duta.co – Pemerintah Kabupaten Blitar menyatakan dukungannya terhadap kebangkitan kembali sektor pariwisata, seiring mulai dilonggarkannya penerapan PPKM di masa pendemi COVID-19). Salah satunya dengan mengejar target vaksinasi maksimal.

Wakil Bupati Blitar Rahmat Santoso mengungkapkan berdasarkan Instruksi Dalam Negeri (Inmendagri), status PPKM di wilayah Kabupaten Blitar saat ini masih tercatat di level 3. Namun asesmen Kementerian Kesehatan telah menempatkan Kabupaten Blitar ke dalam level 1 PPKM COVID-19.

“Vaksinasi COVID-19 terhadap masyarakat di wilayah Kabupaten Blitar telah mencapai 69 persen untuk masing-masing dosis 1 dan 2. Mudah-mudahan akhir tahun bisa 100 persen,” katanya, Selasa (9/11/2021).

Atas dasar itulah Wabup Rahmat mendorong kebangkitan kembali sektor pariwisata di wilayah Kabupaten Blitar yang sempat terpuruk akibat dampak pandemi COVID-19.

“Untuk kebangkitan kembali sektor pariwisata, sebenarnya kita sudah di level 1 PPKM tapi masih dalam tahap uji coba. Yaitu tempat pariwisata boleh buka dengan protokol kesehatan serta syarat-syarat lainnya,” ujarnya.

Wabup Rahmat meyakini destinasi wisata di Kabupaten Blitar tidak kalah dengan daerah-daerah lain.

“Salah satunya Wisata Edukasi Kampung Coklat. Silahkan dilihat sendiri, begitu bagusnya tempat ini. Hasil dari perkebunan itu sendiri, terutama coklat, diekspor sampai ke Swiss,” tuturnya.

Sementara itu, Wisata edukasi di Kampung Coklat, Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, telah memperoleh rekomendasi uji coba buka dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Lokasi wisata sempat ditutup di awal masa pandemi virus corona (COVID-19) pada bulan Maret hingga Juli 2020, serta selama masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) pada bulan Juli hingga September 2021.

“Sekarang mulai dibuka kembali dalam tahap uji coba,” ucap Direktur Pengembangan Bisnis Kampung Coklat Akhsin Al Fata.

Kawasan ini dulunya adalah peternakan ayam petelur. Hingga tahun 2004, saat terjadi wabah flu burung, barulah dirintis perkebunan kakao, yang dimulai dari lahan seluas 250 meter persegi.

Sejak itu perlahan perkebunan kakao semakin luas, seiring meningkatnya permintaan ekspor, khususnya untuk material makanan olahan coklat. Saat ini luas perkebunan kakao di Kampung Coklat Blitar telah mencapai sekitar 5,3 hektare.

“Sejak tahun 2014 terbuka untuk masyarakat umum sebagai wahana wisata edukasi,” ujarnya.

Di kawasan wisata ini, masyarakat diajak berkeliling perkebunan untuk menyaksikan budi daya kakao, pasca panen, sampai proses pembuatan makanan olahan coklat.

Akhsin menjelaskan salah satu alasan tempat ini sejak 2014 dibuka sebagai destinasi wisata adalah untuk menunjukkan salah satu komoditas ekspor Indonesia kepada masyarakat.

“Indonesia adalah tiga terbesar produsen kakao di dunia. Tapi belum banyak masyarakat mengetahui itu. Di situlah kami ingin membagikan ilmu yang kami miliki sehingga masyarakat tahu kalau Indonesia penghasil coklat dari kakao,” katanya.

Tercatat selama ini ekspor biji kakao terbanyak dari Kampung Coklat Blitar adalah ke negara Malaysia.

Menurut Akhsin, di Malaysia, material asal Kampung Coklat Blitar kemudian diolah menjadi berbagai produk makanan.

“Produk-produk makanan olahan coklat dari Malaysia itu selanjutnya dipasok ke pasar Eropa, Timur Tengah dan berbagai belahan dunia lainnya,” ujarnya.

Akhsin menandaskan, demi memenuhi pasar ekspor tersebut, Kampung Coklat di Blitar juga bekerja sama dengan menerima hasil panen dari para petani kakao asal daerah lain, seperti dari Madiun, Jember, Banyuwangi, Jawa Timur dan Gunung Kidul, Yogyakarta. Zal

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry